
🌹🌹🌹
 
Martin memang sudah terbiasa dengan aksi arogan sang Presdirnya, yang juga saudara bagi dirinya itu. Tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya, Martin sebenarnya merindukan sosok Sadewa sebagaimana Sadewa yang dulu, penyayang dan bertutur kata santun, menjaga dirinya dan Quinsha sepenuh jiwa, menjadi kakak terbaik di dunia bagi mereka. Sayang, semua hanya cerita di masa itu saja, sebuah angan yang entah bisa kembali lagi, karena duka mendalam, sekarang semua sudah berubah.
 
Sesuai keinginan Sadewa, sepulang kantor Martin bersama seorang sopir mengantarkan sang tuan muda keluarga Britania itu ke apartemen Melani. Model cantik super seksi, yang sudah masuk dua tahun ini dipacari oleh Sadewa. Wanita pesolek yang gemar berpakaian kurang bahan, wanita yang selalu menggelayut manja pada Sadewa, dan wanita yang sangat tidak disukai oleh Syania, Bundanya Sadewa.
 
“Kau ikut ke atas !” Sadewa memberi perintah pada Martin saat si sekretarisnya itu membukakan pintu mobil untuknya.
 
“Males ah “. Menolak cepat.
 
“Aku bilang ikut ya ikut !” Sikap pemarahnya kembali keluar.
 
“Aku tidak suka wanita itu, kalau aku ikut bisa di pastikan, aku hanya akan membuat dia jauh darimu !” Memasang wajah tidak suka. “Bagus aku ngopi bareng Romi di Kafetaria sana “. Menunjuk sebuah kedai kopi persis di depan parkiran apartemen.
 
“Telingamu belum bermasalahkan ?” Membesarkan bola mata pada Martin. “Aku tidak tanya kamu mau ngapain, yang aku bilang ikuttttt !” Perintah tegas.
 
“Baik, baik..... !” Berbicara dengan nada kekesalan. “Aku ikut. Tapi, jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa ramah pada wanita ulat bulu itu “.
 
“Jangan sembarangan bicara !” Sadewa merapikan jasnya.
 
“Apa namanya kalau bukan ulat bulu, hah ? Bisanya cuma mengelayut saja padamu, persisi kayak ulat “. Mencibir tidak senang. “Ihhhh...... “, pura-pura merinding.
 
“Tutup mulutmu !” Berjalan meninggalkan Martin yang masih sibuk memasang ekspresi merinding.
 
Tapi, aku memang tidak suka sama wanita itu kak, si ulat bulu yang tidak pantas untukmu. Kau itu layak mendapatkan wanita yang baik, wanita penuh kasih yang bersikap lembut dan bisa menjadi sandaranmu untuk semua duka mendalammu. Bukan wanita tidak tahu malu itu, wanita menjijikkan yang hanya tahu cara bersolek dan memamerkan lekuk tubuhnya. Cih, menjijikkan sekali.
Membatin sambil mengekor di belakang Sadewa.
 
Ting...
 
Pintu lift terbuka, Sadewa masih berjalan di depan, membiarkan Martin dengan sikap malasnya mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
 
Sadewa tahu, Martin tidak suka pada Melani. Dan Sadewa juga tahu apa alasan sikap lelaki yang sudah di anggapnya adik itu, sampai tidak respek pada kekasihnya. Tetapi, mau bagaimana lagi. Hingga detik ini, hanya Melani saja yang tidak takut padanya. Hanya Melani saja, sosok wanita kuat yang sabar menghadapi sikap arogannya. Lagi pula tidak ada ruginya bersama Melani, dia pandai bersolek dan pandai memuaskan mata Sadewa. Meskipun sang Bunda merasa penampilan Melani cenderung kurang elok sebagai wanita baik-baik, dengan caranya berbusana. Tetapi, bagi Sadewa itu tidak masalah, matanya segar dengan pilihan kostum Melani yang selalu nyaris tidak cukup untuk menutupi bagian-bagian penting tubuhnya itu.
 
Sadewa menekan bel di depan pintu apartemen Melani, menunggu kekasih hati datang membukakan pintu baginya.
 
Tidak butuh waktu lama, Melani telah berdiri di ambang pintu. Tersenyum manja pada Sadewa, sibuk menarik Sadewa dan bergelayut manja. Tidak malu apa lagi ragu, meskipun tahu kalau Sadewa tidak sendiri. Ada Martin mengekor di belakang dengan mata sangat tidak ramah.
 
“Sayang “. Suara mendesah yang Martin tahu di buat-buat oleh Melani.
“Kangen banget akuhnya sama kamu “.
 
“Kapan kamu pulang ?” Sadewa mengecup kening Melani.
 
“Aku baru mendarat siang tadi, dan aku langsung kabari kamu “. Mengajak Sadewa duduk.
__ADS_1
 
“Kenapa kau pulang ulat bulu, bagus jangan pulang !” Suara sinis Martin sambil menutup pintu apartemen.
 
“Acuhkan saja dia !” Sadewa tahu kalau Melani tidak suka dengan Martin. Dari awal mereka menjalin hubungan, Martin dan Melani tidak pernah bisa berteman.
 
“Kenapa sih harus bawa pengacau itu “. Merajuk dengan wajah di buat sangat mengiba.
 
“Biasa saja tuh muka, mendadak di kutuk Tuhan baru tahu rasa “. Suara Martin tanpa segan.
 
“Aku ada pekerjaan setelah ini, jadi dia harus ikut “. Sadewa membelai rambut Melani. “Sudahlah, jangan dengarkan dia !”
 
“Preetttt....!!!!” Martin masih berulah, mengganggu kekasih Sadewa.
 
“Berapa lama kali ini kau akan tinggal ?” Tanya Sadewa dengan Melani yang nampak masih memasang wajah permusuhan pada Martin.
 
“Dua minggu, aku dapat libur dua minggu sampai waktu pemotretan berikutnya di Korea “. Suara Melani terdengar selalu mendesah, Martin sangat benci itu.
 
“Apa kegiatanmu selama dua minggu ini ?” Bertanya sambil menatap lurus ke depan.
 
“Pemotretan kemaren benar-benar membuat aku lelah. Jadi, aku berencana untuk menikmati masa istirahat ini sebaik mungkin “. Berbicara dengan jemari telunjuk sibuk bergerak di lengan Sadewa. “Setelah itu, aku ingin menemui Bundamu, bagaimana ?”
 
“Tidak boleh “. Martin.
 
Awas kau, saat aku sudah menjadi nyonya besar keluarga Britania, kau orang pertama yang akan aku depak dari kehidupan Dewa. Membatin penuh rencana jahat. Kemudian, wanita tua yang selalu menghalangi hubunganku dengan anaknya, juga bocah kecil yang selalu membuat perhatian Dewa teralih dari aku. Pokonya, Dewa dan hartanya akan menjadi milik aku, yang lain akan aku singkirkan.
 
“Apa yang ada di otak jahatmu itu ? Kau sedang merencanakan hal jahat apa ulat bulu ?” Martin memberi tatapan tajam pada Melani.
 
Sialan kau Martin, tunggu saja nanti.
“Sayang, lihat sekretarismu itu. Dia begitu kejam padaku !” Melani merenggek dengan suara di buat sangat sedih
 
“Martin, tutup mulutmu !” Membesarkan mata pada Martin. “Kau jangan banyak bacot, atau aku tidak segan menghajarmu !”
 
“Mulut, mulut aku. Suka aku mau gomong apa tentang ulat bulu itu “. Menaikkan bibir kiri ke atas. Mengejek Melani.
 
Dan Bughhhh...
Kaki panjang Sadewa menendang bebas betis Martin, menyisakan sakit di tulang kering lelaki itu. Membuat dirinya meringis sambil mengusap bagian yang mungkin sedang berangsur-angsur memar.
 
Syukurrrrrrrr, hahahahahaah..... Melani tertawa senang dalam hati.
 
Sialan kau Melani, tunggu pembalasanku. Martin membatin penuh kekesalan.
 
“Berapa lama lagi kau mau di sini Kak ? Ingat, Bunda Nia dan Shasa menunggumu tuh !” Sengaja mempropokasi Sadewa. “Ini sudah mulai malam kak “.
 
__ADS_1
“Tidak boleh “. Sekuat tenaga menolak, menempelkan kepala di lengan kekar Sadewa, berusaha menghalangi Sadewa bergerak.
“Aku masih kangen kamu “.
 
“Lani, maaf ya “. Tersenyum. “Aku memang harus pulang. Aku sudah janji sama Shasa buat pulang cepat hari ini. Dan aku juga sudah janji buat belikan Shasa hadiah, dia pasti sedang tunggu aku sekarang “.
 
“Lantas aku, bagaimana dengan aku ? Aku libur pemotretan gak lama sayang, kapan waktu kami buat aku ?” Merenggek dengan mata berkaca-kaca.
 
“Aku sudah bilang Lani, keluargaku adalah segalanya buatku. Aku hanya punya Bunda dan Shasa, kau jangan pernah lupa itu “. Mendadak marah. Melepaskan jemari Melani di lengannya, Sadewa langsung berdiri.
 
“Iya, aku tahu. Aku tidak pernah lupa itu. Dua tahun kita pacaran, kamu selalu mengingatkan aku tentang Bunda dan Shasa. Aku ingat Dewa, aku belum amnesia “. Berusaha menahan Sadewa, jemari Melani berhasil menggenggam jemari Sadewa. “Sekarang aku tanya kamu, bagaimana dengan aku hah ? Apa kamu lupa kalau aku ini pacar kamu ? Aku juga punya hak untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang kamu “.
 
“Dewa, aku selalu mengalah untuk Bunda dan Shasa. Tetapi, bisakah kamu mengalah untuk aku ?” Berbicara lembut. “Kita tidak bisa setiap hari bersama, pekerjaan kamu dan pekerjaan aku di dunia berbeda. Dan sekarang, aku di sini Dewa, aku ingin Dewaku, kekasihku “.
 
“Dan kamu juga tahu apa jawabannya Lani “. Mengibaskan jemari Melani, Sadewa melangkah pergi.
 
“Dewa, kamu gak adil, hiks, hiksssss “. Mulai terisak, berharap Sadewa mengiba. Melani berharap air matanya bisa meluluhkan kerasnya hati Sadewa.
 
“Ayo kak “. Martin secepat kilat membukakan pintu untuk Sadewa dan secepat kilat pula menutupnya kembali. Memastikan Sadewa tidak terpengaruh dengan derai air mata Melani. Memastikan si ulat bulu kembali gagal membuat Sadewa patuh pada keinginannya.
 
Prankkk...prankkkk...prankkkk..
 
Aneka benda yang tersusun di meja makan melayang ke segalah arah. Ada yang sukses hancur berkeping-keping hingga tidak jelas bentuknya. Dan ada pula yang berserakan mengotori lantai, membasahi dinding.
 
“Huaaaaa......!” Suara tangis Melani begitu menyayat hati. “Dewaaaaaaa, Dewaaaaaaaa “. Berteriak sekuat tenaga. Hati Melani sakit, bukan sekali hal seperti ini terjadi. Berkali-kali sudah Sadewa meninggalkan dirinya begitu saja. Tidak perduli bagaimana keadaan yang tengah di hadapi Melani, tetap saja, Melani kalah di bandingkan Ibu dan anak kecil yang memanggil Sadewa Ayah. Melani selalu di nomor duakan Sadewa.
 
“Huaaaaaaa, huaaaaaa.....huaaaaaaaaa “. Mengalir sudah air mata kekecewaan Melani, menganak sungai, meluap begitu saja. Sungguh sakit hatinya, sungguh benci dirinya pada keluarga Sadewa.
 
Sadewa dan Martin sudah jauh meninggalkan apartemen Melani, mobil mewah lelaki super kaya ini sudah membelah lalu lintas jalan raya. Mengantar sang pemilik ke istana megah keluarga Britania. Semakin menjauh dari Melani yang terpuruk dalam tangisan sedihnya di sana.
 
***************
 
EPILOG
 
“Ayaaah “. Setengah berlari, gadis kecil berambut panjang dengan wajah sangat imut mengejar kepulangan Sadewa.
 
“Apa hari ini anak Ayah gak nakal ?” Mengendong gadis kecil nan cantik itu, dengan Martin mengekor penuh senyum di belakang.
 
“Ooo, tentu tidak dong. Sashakan anak baik “. Bergantung kuat di leher Sadewa.
 
“Baiklah, karena hari ini anak gadis Ayah berhasil menjadi anak yang baik, maka Ayah akan memberikanmu hadiah “. Mencium pipi si gadis kecil.
 
“Asyiikkkk “. Berteriak kegirangan. Memamerkan deretan gigi putihnya dan tersenyum sangat semang.
 
__ADS_1
“Gadis kecil Ayah yang baik “. Memeluk erat sosok gadis cantik dengan wajah imut dan polos itu, yang nampak nyaman dalam gendongannya. Sadewa bahagia, hilang sudah kepenatannya. Quisha bisa menjadi penyemangat hidupnya, setelah semua duka yang begitu kejam mengimpit sanubarinya.