
🌹🌹🌹
“Apakah kau masih mencintainya?” Tanya Sadewa. Entah kenapa, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Kayana cepat mengerakkan kepalanya ketempat Sadewa duduk. Persis di sebelahnya, Sadewa duduk dengan wajah mengarah pada pohon rindang beberapa meter di depan sana. Wajah Sadewa nampak datar saja, wajah tampan itu tidak bisa ditebak, apakah sedang marah atau sedang bahagia saat pertanyaan tadi diajukannya.
Kayana bingung, tidak tahu harus menjawab apa.
Cinta..ucap hati Kayana.
Dia memutuskan aku dengan begitu hinanya, padahal kami sudah menjalin kasih nyaris lima tahun. Dia, mengucapkan kata-kata tuduhan yang sangat merendahkanku, padahal dia sangat tahu selama kami bersama, seperti apakah pola pacaran kami. Dia, dia tidak mempercayaiku. Bahkan, di saata aku menceritakan seperti apa kekejaman ibunya dalam hidup percintaan kami, dia terus saja menghina aku, tidak mau percaya padaku.
Kayana merenung dalam diam.
Apakah aku masih mencintainya?
Kayana tidak bia menjawab, hatinya tidak bisa menjawab.
“Sudahlah, kau tidak perlu menjawab. Anggap saja aku tidak pernah bertanya.” Sadewa, lagi-lagi mengemukakan kalimat yang sukses membuat Kayana terkaget.
“Ayo, kita tebus obat Ayah. Jangan sampai Ayah dan Ibu terlalu lama menunggu kita.” Sadewa berdiri. Menatap Kayana sesaat dan mulai berjalan. Membuat Kayana yang masih dalam mode kaget hanya diam saja mengikuti langkah kakinya dari belakang.
*****
“Sudah malam, Ibu pulang saja! Istriahat di rumah! Martin akan mengantarkan Ibu pulang.” Sadewa melihat jarum jam di pergelangan tanganya. Sudah hampir pukul sepuluh malam, Sadewa melihat Ibu sudah mulai lelah.
‘Iya benar, Ibu istirahat saja di rumah. Biar Ana yang jaga Ayah.” Kayana pun memberi pendapatnya.
“Kalian saja yang pulang.” Tolak Ibu. “Ibu mau di sini bersama Ayah.”
“Apa yang anak-anak sampaikan benar. Ibu istrirahat di rumah saja. Biar Ana dan Sadewa di sini bersama Ayah. Lagi pula, besok Ayah sudah boleh pulang. Ibu tunggu Ayah di rumah, sambil siapkan masakan kesukaan Ayah ya.” Bujuk Ayah.
“Tapi Yah.” Ibu masih menolak.
“Ibu gak kasihan sama Ayah, lihat-lihat Ayah sudah kurus ini.” Mengangkat tangan kanan, memperlihatkan pada Ibu. “Padahal, Ayah belum sampai dua puluh empat jam di sini.” Memasang wajah iba.
“Ayah kangen masakan Ibu.”
“Ayah ini,” senyum Ibu terkembang melihat ulah sang suami.
Ahhhh...
Ada rasa menohok dihati Kayana. Kemesraan Ayah dan Ibu membuat hatinya merasakan sebuah rasa tidak nyaman sendiri. Pernikahan Ayah dan Ibu sangat bahagia, selama Kayana bisa mengingat, ingatanya selalu mengambarkan betapa bahagianya Ayah dan Ibunya sebagai pasangan suami isteri.
Dan dia, semua kejadian yang dialaminya pagi tadi membuat dirinya semakin tidak mungkin untuk tidak melaksanakan pernikahan kontraknya dengan Sadewa. Ya, pernikahan kontrak.
Kayana merasa bersalah teramat sangat.
*****
Ibu sudah dibawa Martin untuk pulang, dan atas perintah Sadewa, malam ini Martin akan tidur dirumah Kayana untuk menjaga Ibu dan Rayana, adik Kayana.
__ADS_1
Sekarang, tinggallah Kayana dan Sadewa yang hanya duduk diam di sofa empuk tidak berapa jauh dari ranjang rawatan Ayah. Ayah sudah tidur pulas di sana.
“Istirahatlah!” Sadewa memecah keheningan diantara mereka.
“Saya belum mengantuk tuan.” Jawab Kayana sesaat kemudian.
“Sudah sangat malam. Dan kita habis menempuh perjalanan jauh tadi. Kau istirahat saja dulu! Jangan khawatir pada Ayah, Ayah baik-baik saja. Ibu dan adikmu juga baik-baik saja. Percaya padaku!”
“Ya, saya percaya pada tuan.” Aku Kayana jujur.
Sadewa tersenyum, entah kenapa hatinya sangat senang mendengar kejujuran Kayana barusan.
“Rencana pernikahan kita tetap lanjut.” Sadewa kembali berbicara, memecahkan keheningan diantara mereka.
“Setelah Ayah kembali kerumah esok, aku akan cari waktu yang tepat untuk berbicara!”
“Ya.” Jawab Kayana disertai anggukan kepalanya pelan.
“Selama kau menjadi isteriku, kau jangan sampai lupa bahwa, kau tidak boleh bersama lelaki manapun, kau tidak boleh menjalin asmara dengan lelaki manapun!”
“Ya.” Kembali jawaban Kayana yang disertai anggukan kepalanya.
“Setelah Ayah dan Ibu setuju, aku akan membawa Bunda dan Tomi menemui keluargamu! Aku akan melamarmu secara resmi. Baru setelah itu kita menikah.”
“Ya.” Lagi, Kayana menjawab disertai anggukan kepalanya.
“Kita akan tidur bersama.” Sadewa kembali berbicara saat merasa Kayana kembali diam disampingnya.
“Apa maksud tuan?”
Tidur bersama? Enak saja. Apa maksudmu hah, lelaki arogan??
Batin Kayana mengerutu kesal.
“Hahahaha…” Tawa Sadewa melihat kekesalan Kayana.
“Kau ini lucu sekali.” Sadewa mengacak-acak rambut Kayana.
‘Ihhhh…apaan sih.” Kayana menepis kesal tangan Sadewa. Kayana semakin mengerutu tidak suka.
Semakin dibuat kesal, semakin imut sekali dia. Batin Sadewa.
“Sudah diam, nanti Ayah bangun!” Kayana menutup mulut Sadewa dengan kedua tangannya. Berusaha menghentikan tawa Sadewa.
Padahal tawa Sadewa tidak terlalu keras, hanya mereka berdua saja yang dengar, tidak akan menganggu Ayah yang sudah nyenyak di alam mimpinya.
Begitu menyenangkan mengoda dia ternyata. Batin Sadewa melihat ulah Kayana yang menutup mulutnya.
“Berapa lama kau akan menutup mulutku?” Sadewa sudah tidak tertawa lagi tetapi, tangan Kayana masih bertenger manis di bibirnya.
Wangin, Sadewa mencium aroma vanilla dan jeruk di tangan Kayana, mungkin aroma yang berasal dari lotion yang dipakai Kayana.
__ADS_1
“Eh..” secepat kilat Kayana menjauhkan tangannya dari mulut Sadewa. Dengan malunya, Kayana langsung memasang model duduk kaku.
Astaga..aku ngapain coba tadi. Ihhhhhhh…..memalukannya. Batin Kayana menyadari ulahnya.
Konyol.
*****
Detik berlalu, menit berganti dan jam memasuki putaran waktu. Setalah Kayana menyudahi kekonyolannya menutup bibir Sadewa, dan waktu berlalu dengan dihabiskan oleh Sadewa dan Kayana saling berdiam diri. Malam semakin menunjukkan kuasanya.
Sadewa sibuk dengan handphonenya, mengecek beberapa urusan pekerjaan yang harus segera mendapat respon dirinya. Sedangkan Kayana, dirinya hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa.
Pekerjaan Sadewa selesai, memindahkan mode handphonenya ke mode layar terkunci. Melirik pada Kayana yang duduk persis disebelahnya, hanya berjarak kurang dari setengah meter darinya.
Kayana tertidur, suara nafasnya terdengar terhembus dengan teratur.
Sadewa tersenyum, “pantas tidak banyak ulahnya lagi, ternyata sudah tidur.”
Pelan Sadewa berdiri, memastikan geraknnya tidak menimbulkan efek pada sofa yang didudukinya, tidak akan menganggu Kayana.
“Imut banget kalau sedang tidur.” Puji Sadewa saat menatap Kayana tertidur.
Sadewa mengeser pelan beberapa helai rambut yang sedikit menutupi kelopak mata Kayana yang tengah tertutup.
“Bulu mata lentik.” Sadewa menelusi wajah Kayana. Alis Kayana yang rapi, bulu mata lentik yang menyatu dalam tidurnya, hidung mancung yang sangat menyempurnakan wajahnya. “Cantik.” Ucap Sadewa saat matanya berhenti di bibir mungil Kayana, bibir mungil berwarna pink. Matanya lama berhenti di sana.
“Uhhhh…,” Kayana mengeliat.
Sadewa terperanjat, mundur selangkah.
Apa yang sudah aku lakukan? Bisa-bisanya aku memuji dia. Menatap kagum wajahnya.
Dan setelah menunggu beberapa saat, Sadewa melihat Kayana sudah kembali dalam alam tidur pulasnya. Merasa Kayana tidak akan nyaman dengan posisi tidur dalam keadaan duduk, Sadewa dengan sangat perlahan, sangat hati-hati mengendong Kayana. Membawa gadis cantik ini ke arah tempat tidur bagi keluarga pasien. Tempat tidur yang sukses diminta Sadewa kepada pihak Rumah Sakit untuk disediakan sebagai salah satu fasilitas kamar rawatan Ayah.
Tanpa membuat Kayana terbangun, Sadewa berhasil menidurkan Kayana di atas kasur yang beralaskan sprai berwarna biru muda. Kembali, dengan hati-hati Sadewa menarik selimut yang disediakan pihak Rumah Sakit, dan menyelimuti Kayana. Sadewa mengangkat tangan kanan Kayana perlahan agar tidak tertutup selimut.
“Uhhh…,” suara Kayana membuat Sadewa menggenggam tangan gadis cantik itu. Tidak ingin Kayana terjaga.
“Janji lindungi keluargaku.” Ucap Kayana dengan mata terpejam.
Sadewa tersenyum, wajah tampan itu menggeleng memperhatikan Kayana. “Bisa-bisanya dia menggigau.” Ucap Sadewa pelan.
“Aku akan melindungi keluargamu, aku janji padamu!”
Sadewa menyentuh pipi Kayana dengan jemarinya. Entah kenapa, dirinya sangat ingin melakukan itu.
*****
“Aku tahu kau memiliki rasa sayang pada anak gadisku. Caramu memperlakukannya, membuat aku yakin kau pantas untuk menjadi pendampingnya. Semoga, kau selalu bisa menjadi lelaki yang mencintai dia dan lelaki yang selalu membahagiakan dia seumur hidupnya. Kedepan, aku percayakan Kayana padamu.”
Tidak ada yang tahu, ternyata Ayah sedari tadi telah terjaga. Memperhatikan Sadewa yang sedang mematikan layar handphonenya, hingga sampai saat ini. Saat Sadewa sedang terduduk di kursi di tepi tempat tidur yang tengah ditiduri Kayana. Sadewa terduduk di sana karena Kayana tidak melepaskan tangan Sadewa.
__ADS_1
Dalam hatinya, Ayah sangat yakin untuk merestui Sadewa sebagai menatunya kelak. Ayah berjanji akan menikahkan Kayana pada Sadewa.