
🌹🌹🌹
Duh…kepalaku jadi pusing.
Batin Kayana yang mulai memainkan jemarinya di atas pahanya.
Ada perdebatan batin di dalam diri Kayana, mau jujur tetapi, diri sendiri ragu, tidak jujur tetapi, jelas terlihat kalau Sadewa menunggu dirinya untuk bercerita.
“Kau meragukan aku?” Sadewa melihat keraguan dikedua bola mata indah Kayana.
“Ini hanya masalah kecil tuan, masalah adik saya. Bukanlah apa-apa!” berusaha berkelit.
“Baiklah, ceritakan masalah kecil itu padaku!” terus mendesak.
“Hahahaha…mana Quinsha, tuan?” mengalihkan pembicaraan.
“Kalau aku bisa menyelesaikan masalahmu, maukah kau memenuhi permintaanku?” mendesak Kayana dengan pertanyaan baru.
“Hah?” melonggo.
“Aku janji, bagaimanapun caranya akan menyelesaikan masalahmu! Seluruhnya.” Bersungguh-sungguh. “Tetapi, aku mau imbalan atas itu, dan kau harus berjanji menyanggupi permintaanku!”
Apa-apaan ini? Dia lagi bercandaan apaan coba? Tau masalah aku saja tidak, soknya sudah seperti Dewa saja yang pasti memberikan solusi. Memang kalau nama kamu, Sadewa terus kamu memang bisa jadi Dewa penyelamat gituh? Membatin. Sok banget nih manusia.
“Waktu kamu tidak banyak? Kalau aku tidak salah, kamu harus segera menyelesaikan masalah adikmu hari inikan?” Sadewa tidak membiarkan Kayana berpikir terlalu lama.
__ADS_1
“Bagaimana?” terus bertanya.
“Tuan sama sekali tidak tahu permasalah saya, lagi pula ini hanya masalah kecil.” Terus mengelak.
“Hahahaha”, tertawa mencemooh. “Kau tau? Kau itu bukan seorang pembohong ulung?”
Kayana diam, mendadak tertunduk.
“Aku bisa membantumu! Aku janji, dan aku pasti tepati itu. Dan kau, kau harus mau berjanji juga akan memenuhi permintaanku sebagai kompensasinya!” serius, sangat serius.
Kayana masih diam, masih tertunduk dengan aneka perasaan yang sedang galau. Campur aduk membuat dirinya masih ada dititik ragu.
“Pikirkanlah! Meskipun kau sendiri yang paling tahu kalau waktu berpikirmu tidak boleh lama-lama bukan?” menatap Kayana yang hanya tertunduk membisu.
“Ini nomor hp-ku”. Tanpa izin Kayana memasukkan nomor teleponnya kedalam handphone Kayana.
*****
Quinsha tertidur pulas di atas ranjang Kayana, gadis kecil yang cantik itu entah bagaimana bisa begitu lengket padanya. Kayana memperhatikan wajah imut yang sangat teduh bergelung dengan bantal guling. Bantal guling yang ukurannya lebih besar dari Quinsha.
Quinsha sepertinya lumayan lelah, seharian ini setelah Sadewa meninggalkan gadis kecil itu padanya, mereka sibuk sekali. Quinsha ikut membantu Kayana membuat bakso dari daging ikan tenggiri. Mereka tertawa bersama, saling bercanda dan Kayana sedikit mengoda Quinsha dengan olesan tepung terigu di hidung mancung yang kecil itu.
Quinsha suka, Quinsha bahagia, entah bagaimana Quinsha sangat bahagia. Selesai dengan bakso ikan, selesai dengan makan siang, Kayana membawa Quinsha ketaman belakang, menemani Quinsha mewarnai buku gambarnya sambil saling bercerita. Mereka mengobrol bersama, banyak sekali bahan obrolan mereka. Quinsha adalah anak yang cerdas. Meskipun belum genap berusia lima tahun, tetapi dia adalah anak yang cerdas. Quinsha menceritakan apa saja yang dirinya alami dalam beberapa hari ini, bercerita tentang Tomi sang Papa dan Sadewa si ayah.
Kayana mengusap rambut Quinsha, mata indah yang sedang terpejam itu membuat Kayana sedikit beriba hati. Siapa yang menyangka ternyata Quinsha adalah anak piatu. Kayana tidak mengerti alur cerita akan hal tersebut namun, Kayana merasa harus melindungi Quinsha.
__ADS_1
Kayana sayang, dan itu jujur. Dirinya sayang Quinsha, sayang seperti seorang ibu pada anaknya.
“Sudah tidur nona kecilnya non?” bibi melihat Kayana menutup pintu kamar perlahan.
“Sudah bi, nyenyak banget.” Tersenyum.
“Dia kelelahan sepertinya non.” Ikut tersenyum.
“Anaknya cerdas banget bi.” Duduk di ruang tengah. Bibi mengikuti dari belakang.
“Dia sangat sayang sama nona.” Menarik kursi paling ujung, dan duduk di sana.
“Ana juga sayang Quinsha bi. Dia begitu murni, begitu mengemaskan.” Pikiran melayang pada sosok bocah yang tertidur di dalam kamarnya.
“Bi, bibi tahu apa yang terjadi dengan ibunya Quinsha?” teringat cerita Quinsha tadi.
“Eh…Persisnya bibi tidak tahu non.” Agak gelagapan. “Non, bibi kekamar dulu ya. Kalau nona dokter perlu apa-apa panggil bibi ya!” berdiri dan meninggalkan Kayana.
*****
Agak mengherankan cara bibi barusan tetapi, Kayana sedang tidak ingin memikirkan hal itu. Mungkin bibi mendadak harus melakukan sesuatu, pikir Kayana.
Ditinggal sendiri, Kayana menarik nafas dalam dan menghenbuskannya perlahan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rayana, wajah sang adik semata wayang dengan segala kesedihannya sedang memenuhi pelupuk matanya.
Aku harus menelepon nyonya!
__ADS_1
Aku harus tahu apa lagi mau dia kali ini!
Aku harus menyudahi ulahnya pada Rayana, nyonya harus berhenti membuat hidup keluargaku susah!