Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Semua Bertanya


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Kenapa kamu beberapa hari ini?” Diandra membawakan Kayana teh hijau hangat dengan cemilan soimay ikan tanpa kentang dan sedikit pedas kehadapan Kayana. Saat ini, jam praktek Kayana sudah selesai, lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena jumlah pasiennya yang tidak terlalu banyak, hanya delapan orang saja hari ini.


Baru pukul satu siang, dengan alasan sudah waktunya makan siang, Diandra berhasil membawa Kayana ke Kafetaria Rumah Sakit.


Penasaran, itulah yang dirasakan oleh Diandra dengan perubahan sikap Kayana nyaris sudah empat hari ini. Kayana semakin hari semakan pucat, bahkan ada guratan hitam di bawah mata cokelat indahnya. Secara bekerja, Kayana tidak ada perubahan, dia selalu professional seperti biasa, selalu sukses membuat pasies kecilnya bahagia dan semangat untuk sehat.


Tetapi, secara fisik tergambar jelas kalau Kayana sedang menanggung sebuah beban berat. Apa itu? Dan tentang apa itu? Kayana sangat tertutup.


“Aku baik-baik saja kok, gak kenapa-kenapa.” Jawab Kayana diplomatis.


“Aku memang bukan dokter, mbak. Aku juga bukan psikiater tetapi, aku ini juga bagian dari tenaga kesehatan. Aku tahu kalau kamu sudah beberapa hari ini sedang tidak baik-baik saja!” Diandra menatap lama pada Kayana.


Kayana diam, jelas dirinya tidak ahli berbohong, Diandra bisa tahu itu.

__ADS_1


“Aku hanya kangen keluarga saja. Kan sudah kuceritakan beberapa hari lalu?” berusaha menggelak.


“Aku juga sudah jawab mbak, kalau kangen keluargamu maka, pulanglah sabtu besok.” Masih tidak percaya. “Lantas kenapa lagi?”


“Heheheh..” cenggar cenggir tidak jelas. “Iya..ya aku lupa.” Lagi-lagi berbohong.


Ya Tuhan…aku harus apa???


**********


“Ada masalah apa non,” wajah Kayana tidak seperti biasa. Sangat lelah dan pucat, duduk diruang tamu sedari tadi tetapi, tidak jua bersuara.


“Iya, gimana non?” duduk dihadapan Kayana.


“Ana harus apa?” mengulang pertanyaan yang sama.

__ADS_1


“Kenapa? Ada masalah apa non?”


“Bi, Ana harus apa?” Kembali lagi mengulang  kata yang sama. “Semua terasa berat tetapi, Ana harus terus berjalan.”


“Nona, hidup tidak selamanya indah, tidak selamanya mulus. Akan ada masanya nona menemukan sesuatu yang sulit. Tetapi, nona coba lihat dengan baik, coba pelajari dengan baik, pikirkan dengan baik, apa yang harus nona lakukan? Nona harus mengambil keputusan bukan? Maka, pikirkanlah apa yang paling nona bisa lakukan berhubungan dengan keputusan itu, sekaran dan nanti.” Bibi mencoba menjawab pertanyaan Kayana yang terus diulang-ulang meskipun, dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Mencoba menengahi dengan membawa Kayana pada cara pikir terbaik.


“Pikirkanlah plus dan minusnya, baik dan buruknya! Hidup ada dua sisi nona, kadang siang kadang malam, jadi cobalah nona lihat juga dari dua sisi agar nona tahu harus melakukan apa!”


Kayana menundukkan wajahnya, dalam diam dirinya mencoba mencerna segala apa yang disampaikan bibi padanya. dalam diam dirinya harus segera mencari solusi terbaik untuk dirinya, untuk keluarganya dan untuk terlepas dari semua belenggu kejam si nyonya.


***********


Semoga up terbaru ini bisa menghibur kakak-kakak readers semua. Maat atas keterlambatan dan kelamaan upload dari author, ini jadi pembelajaran bagi author agar lebih baik kedepannya.


Insyaallah, mulai bulan besok author akan upload setiap minggu.

__ADS_1


Mohon like dan komen dari kakak-kakak readers semua.


Terima kasih kaka selalu setia, sehat selalu dan jangan lupa berbahagia.


__ADS_2