Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
21. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista memotong wortel, kentang, buncis, dan dan kubis kemudian bakso di potong menjadi dua. Ia ingin membuat sayur SOP bening dan sambal kecap.


Sebenarnya Calista belum mahir memasak, namun demi mendapatkan hati dan membuat sang suami berpaling dari istri pertama maka harus dilakukan.


Walau nantinya akan berpura-pura sedih dan merasa rendah diri agar Carlos simpati. Licik bukan?


Ketika Calista menyajikan makanan di atas meja, terdengar suara Carlos muntah-muntah di dalam kamar. Ia pun gegas masuk ke kamar.


Kaki Calista mengayun lebar menuju kamar mandi melihat dan memijat tengkuk leher Carlos. "Kok sekarang muntah, Om? biasanya engga lagi," ucap Calista.


Carlos tak langsung menjawab karena ia mencuci mulut lebih dahulu. "Gara-gara kamu pergi."


"Pergi? aku masak sarapan untuk kita, Om."


"Ya itu. Saat aku bangun, kamu nggak ada."


Calista tak menjawab, memilih menuntun Carlos duduk di tepi ranjang. Masih dalam posisi berdiri, Calista memijat kepala Carlos dan sang empu kepala justru memilih memeluk Calista.


"Ayo ke dapur. Aku buatin lemon tea hangat dan kita sarapan," ajak Calista langsung di setujui Carlos.


Dengan telaten Calista melayani Carlos saat makan. Tak lupa membuatkan lemon tea hangat agar mulai Carlos mereda.


Carlos tersenyum melihat semua pelayanan Calista. Apalagi ketika Calista bertanya banyak porsi yang disukainya.


"Sayang, aku akan makan seberapa banyak kamu sediakan di piringku!"


Calista menoleh. "Yakin? gimana kalau aku ambilkan satu panci begini?" Calista menunjuk wadah nasi tersebut.


Carlos terkekeh. "Kita bisa makan sepiring berdua kalau gitu," ucapnya.


"Ide bagus," celetuk Calista langsung menambah porsi nasi, lauk, dan sayur dipiting Carlos.


Carlos menggeleng merasa takjub pada Calista yang memiliki ide agar hubungan mereka semakin dekat. Bahkan dapat dirasakan bahwa Calista lah yang lebih banyak mendekatkan diri padanya.


Jika begini, bukan aku yang memenangkan hati Calista. Justru hati akulah yang akan di menangkan sepenuhnya oleh Calista.


"Kenapa melamun?" tanya Calista karena sedari tadi bicara tidak ada di respon oleh Carlos.


"Sini aku suapi kamu," sahut Carlos bukan untuk jawaban atas pertanyaan Calista tadi.


Keduanya saling suap-menyuap. Carlos merasa kembali muda bila bersama Calista.


Usai sarapan, Calista mencuci piring dan alat masaknya dan dibantu oleh Carlos. "Sudah sana Om mandi," ucap Calista.

__ADS_1


"Mandiin," ucap Carlos membuat Calista tertawa.


"Sudah tua, Om. Manja," ledek Calista langsung dipeluk Carlos dari belakang.


"Kangen sama kalian," bisik Carlos lalu mengecup tengkuk leher dan bahu Calista.


Calista balik badan ke arah Carlos. Kedua mata mereka bertemu. "Junior Om gede. Mulut aku sudah penuh masih aja gak muat," cicit Calista sembari menggambar asal di dada Carlos menggunakan jemari yang membuat sang empu dada bertambah berhasrat.


"Junior akan pas kalau dimasukin ke sarang kamu, sayang!" Carlos mengecup bibir Calista.


Calista hanya diam saja menimang apakah dirinya telah siap untuk bercinta kembali pada Carlos sedang rasa trauma itu masih ada.


Ingatan pada malam itu kembali terngiang dikepalanya. Tetapi kobaran api dalam diri kembali tersulut mengingat Carlos tidak ada niat bertanggung jawab, justru menikmati liburan bersama Nadia.


"Aku tahu kamu belum bisa menerima pernikahan kita,-"


Calista meletakkan jemari di bibir Carlos saat bicara. "Aku sudah menerima pernikahan kita, Om. Aku akan bersiap untuk malam pertama kita."


Carlos diam saja mencerna ucapan Calista. Matanya terbelalak saat menyadari maksud itu. "Sayang."


Calista mengangguk. "Aku tunggu Om malam nanti. Hari ini aku akan pergi ke salon untuk menyambut malam pertama kita setelah menikah," Calista mengerling mata.


Senyuman Carlos mengembang kemudia mengecup bibir Calista sekali lagi. "Mandi bareng, yuk!" ajak Carlos.


Karena jelas perbedaan Calista dan Nadia. Istri pertamanya itu memang melayani nya namun tidak manja seperti Calista. Sedang Carlos jika bersama istri kecilnya merasa hidupnya lebih berwarna dan lebih di butuhkan.


Senyuman Carlos kembali terbit membayangkan malam panas bersama Calista. Memikirkan perbedaan usia terpaut jauh membuat Carlos insecure.


Aku harus gym hari ini. Biar kerjaan Bimo yang tangani.


...****...


"Om, Junior bangun lagi!" pekik Calista setelah membantu Carlos melakukan senam lima jari.


"Namanya sudah lama gak masuk kandang, yang!" keluh Carlos sembari memijat kepala Calista yang tengah diberi shampoo.


"Kan bisa masuk kandang istri yang disana," ucap Calista sewot.


"Aku sudah lama libur."


"Om. Nanti malam jangan kasar kayak malam kejadian itu, ya. Ingat, ada anak kita masih sangat kecil di dalam perut aku!"


Carlos membilas rambut Calista. "Maafin aku. Karena salahku, kamu sampai masuk rumah sakit."

__ADS_1


Calista tersenyum. "Gak apa-apa, Om. Tapi aku sudah menerima takdir ku yang harus hamil di usia muda dan menjadi istri kedua yang disembunyikan," kata Calista lirih membuat Carlos menjadi serba salah.


Carlos membantu Calista memakai handuk lalu menuntun Calista duduk di depan meja rias. Ia bersimpuh di hadapan Calista.


"Maaf. Tapi kamu harus ingat, posisi kamu sama dengan Nadia. Jangan berpikir kamu rendah."


Tapi aku ingin posisi ku lebih di atas dari Nadia, jerit Calista dalam hati.


Calista hanya mengangguk. Ia bangkit setelah Carlos bangkit. Ia melangkahkan kaki menuju lemari mengambil pakaian untuk Carlos dan juga dirinya.


"Pak Agus selalu siap siaga di bawah untuk mengantarmu."


Calista mengangguk lalu mendekati Carlos setelah selesai berpakaian. Ia membantu Carlos memakaikan dasi. Tetapi harus naik ke atas kursi agar lebih muda memakaikan nya karena Carlos begitu tinggi darinya.


"Kamu kok bisa pasang dasi?" tanya Carlos.


"Kan sering pasang dasi Papi," sahutnya dengan mata masih fokus pada dasi berwarna biru tua dengan motif bintang kecil-kecil.


"Om. Jangan nakal!" pekik Calista karena selalu saja Carlos mencuri kecupan di bibirnya.


...****...


Bimo menghela nafas melihat siapa yang datang ke ruangan nya. Sudah hampir dua dekade bekerja dengan Carlos, tentu saja sangat tahu siapa yang mendekati sang Tuan.


"Suamiku kemana, Bim?" tanya Nadia.


"Biasakan permisi lebih dahulu saat memasuki ruangan orang lain."


"Ayolah. Kantor ini milik suamiku."


Bukan nya takut justru Bimo menyeringai. "Carlos butuh pewaris."


Nadia berdecak. "Kami bahagia seperti ini."


...****...


Nadia keluar ruang kerja Bimo dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak? sudah 14 tahun menikah dengan Carlos namun asisten suaminya itu tak pernah berkata ramah padanya. Bahkan sudah di ancam justru menjadi lebih ketus dan tak kenal takut.


"Honey," panggil Nadia melihat Carlos tersenyum hendak masuk ke ruang kerja suaminya itu.


Carlos tampak terkejut lalu menoleh ke arah berlawanan. Melihat apakah Calista sudah masuk ke dalam lift atau belum. Ya, tadi Calista ikut mengantarnya dan jika Nadia datang lebih cepat dari ini makan bisa melihat Carlos memberikan kartu sakti pada Calista.


"Ada apa?" tanya Carlos dingin setiba masuk ke ruang kerja.

__ADS_1


"Ayo nanti malam kita ke Hotel. Sudah lama sekali kita tidak bercinta."


__ADS_2