
"Jika ingin bekerja dengan ku, kamu harus tinggal bersama ku."
Anita melotot mendengar ucapan William. Di telan saliva dengan susah payah. Pikiran nya melayang memikirkan kejadian barusan dan menghubungkan atas ucapan William.
Seketika Anita bergidik ngerih. Jangan sampai pikiran nya menjadi nyata.
"Tapi, Om. Aku masih kecil, aku gak sanggup untuk layani Om."
William mengerutkan dahi mendengar jawaban Anita yang begitu ambigu. "Kamu pikir, aku akan mempekerjakan mu sebagai apa?"
Seringai tercetak diwajah tampan William kemudian bangkit mendekati Anita. Tampak jelas Anita menjadi gugup setelah di dekatinya.
"Atau kamu memang ingin bekerja seperti yang kamu pikirkan?" goda William.
Anita menelan saliva dengan kasar lalu menggeleng cepat. "Aku gak mau, Om. Aku gak mau kerja sama, Om!" cicit Anita semakin takut.
"Tapi kamu terlanjur menghubungiku. Maka kamu harus bekerja denganku, jika enggak maka gak akan ada tempat untuk menerimamu bekerja."
Anita melongo. Ia sadari sudah salah berurusan dengan seseorang. "Ba-baik, Om. Aku akan bekerja dengan Om."
William tersenyum tipis nyaris tak terlihat lalu menepuk-nepuk kepala Anita sekilas. "Oke. Kamu sudah makan siang? sore kita langsung ke rumah dan kamu mulai bekerja sore itu juga," ujar William.
Lagi-lagi Anita dibuat heran dengan perilaku William. Baru bertemu terlihat seram karena aktivitas bercinta terganggu, lalu terlihat sangat, dan sekarang menjadi lembut.
Sebenarnya William yang asli yang bagaimana?
"Aku belum makan, Om. Tapi aku belum membereskan barang-barang ku," jawab Anita lirih.
"Aku gak butuh barang usangmu, Anita. Orang-orang ku sudah mengambil barang pentingmu saja," tutur William santai tetapi bagi Anita, William terlihat sombong sekarang.
Apakah Om tua tampan ini seorang bipolar? astaga, mana mungkin dia berubah seperti power ranger dalam satu waktu. Sombong juga dia.
Tak ada lagi pembicaraan. Anita lebih memilih menunggu di sofa. Tak berapa lama, makanan yang di pesan William sudah datang dan di sajikan ke atas meja di hadapan Anita.
Ia memandangi beberapa jenis makanan yang terlihat lezat itu. Sangat jarang ia makan makanan lezat dan akan makan itu ketika di ajak Calista ke Restoran mahal.
Anita melirik William masih fokus dengan kerjaan nya sehingga membuatnya menatap makanan lezat itu saja tanpa menyentuhnya.
"Makan saja kalau sudah lapar," tutur William tanpa mengalihkan atensi pada berkas di tangan nya.
__ADS_1
"Enggak, Om. Aku nunggu Om saja," tolak Anita sopan.
Satu alis William naik. "Apa kamu begitu ingin makan bersama dengan ku?" tanyanya super percaya diri.
Anita menganga mendengar pertanyaan William. Ingin rasanya menertawakan pria tua itu sekarang juga karena saking percaya diri.
Anita hanya diam membuat William menyudahi pekerjaan sesaat, menghampiri Anita.
Keduanya duduk berhadapan. William mulai mengambil makan siang nya dan memakan dalam diam. Sedang Anita masih diam menatap William memakan makanan lezat itu dengan lahap.
William menyadari Anita hanya diam. "Makanlah. Jangan memandangku seperti itu. Air liurmu sampai netes," ucapnya.
Otomatis Anita mengusap area bawah bibirnya karena takut yang dikatakan William benar adanya.
William melirik lalu melanjutkan makan begitu juga Anita. Seusai makan siang, William melanjutkan pekerjaan nya. Sedang Anita harus duduk diam di ruang kerjanya.
Bosan nya diriku. Mana Om tua itu lagi rapat lagi. Keluar saja kali, ya.
Anita pun memutuskan untuk keluar dari ruang kerja William langsung bertemu sekretaris tadi.
"Mbak enggak ikut Om William meeting?" tanya Anita.
"Kucing kali mbak," kekeh Anita tetapi hatinya meringis mendengar pertanyaan sekretaris William. Hatinya semakin cemas, pekerjaan apa yang hendak diterimanya.
...----------------...
Fadil memijat pelipisnya. Kepala terlalu pusing memikirkan dua wanita yang sedang mengandung benihnya.
Ya, Dewi dinyatakan hamil setelah sebulan pernikahan mereka. Ada rasa bangga pada diri Fadil karena benihnya masih subur walau usianya sudah tak muda lagi.
Dewi yang biasa kalem dan banyak mengalah serta pengertian berubah menjadi wanita yang manja dan cemburuan.
Nadia yang pada dasarnya keras kepala, harus diperhatikan secara ekstra karena hamil pada usia di atas empat puluh tahun. Apalagi salah satu risikonya sudah dialami Nadia, tekanan darah tinggi.
Ia menjenguk Nadia dua hari sekali dan Dewi selalu mengikutinya karena merasa cemburu. Ia juga sudah mempekerjakan dua asisten rumah tangga untuk siaga bersama Nadia.
Jangan tanya dari mana uang Fadil hingga bisa mempekerjakan dua asisten rumah tangga tersebut. Semua itu karena Fadil sudah menerima sebagian warisan dari almarhum ayah tirinya.
Warisan yang mau di terimanya beberapa hektar tanah yang sudah ada tanaman pohon cokelat siap panen.
__ADS_1
"Mas," panggil Dewi membuat Fadil menoleh.
Fadil tersenyum lalu melambai tangan memberi isyarat agar Dewi duduk di sebelahnya.
Dewi menuruti duduk di sebelah Fadil lalu menyandarkan kepala di bahu kekar suaminya. "Mas. Aku resign dari Kantor, ya."
Fadil membelai rambut Dewi. "Itu terserah kamu, sayang. Aku tak ingin posesif dalam urusan keinginan mu. Tapi kalau boleh jujur, aku lebih suka kamu di rumah nunggu aku pulang dari kebun," tutur Fadil mengutarakan keinginannya.
Dewi menengadah lalu mengecup pipi suaminya. "Aku akan mengirim surat pengunduran segera agar bulan depan nya aku sudah gak kerja," ucap Dewi dan diangguki oleh Fadil.
"Oh iya. Mas gak pernah jenguk mbak Nadia tanpa aku, kan?" tanya Dewi curiga dan mulai posesif.
Fadil merangkul lalu mengecup pucuk kepala Dewi. "Aku gak akan pergi kalau kamu gak izinkan. Aku gak mau buat kamu cemburu lagi," terang Fadil.
Mungkin benar. Kegagalan dan kedewasaan bisa membuat pasangan lebih merasa bahagia. Kenapa? karena kegagalan mengajarkan kita agar tak membuat kesalahan yang sama. Kedewasaan sangat dibutuhkan untuk menghadapi orang lain agar tidak menyakiti perasaan nya.
...----------------...
Calista tersenyum menatap langit yang gelap bertabur bintang kecil-kecil yang indah dipandang. Ini salah satu kebiasaan nya menghibur diri bila sedang merindukan almarhum ibu dan sosok ayah yang tak pernah diketahui nya.
Ia merasa, sekumpulan bintang-bintang di atas sana adalah sebuah sapaan dari sang ibunda yang telah terlupakan dari ingatan.
Masih dengan memandangi langit, Calista sesekali menyesap susu hamil rasa cokelat yang beberapa waktu lalu dibuat oleh Carlos.
Calista terpejam menikmati sepasang tangan kekar memeluk perut dan mengelusnya dari belakang. Tentu saja kenal siapa pemilik tangan kekar tersebut, Carlos.
"Besok kita mengunjungi makam mama, gimana?" Carlos seakan tahu bila Calista sedang merindukan sang ibunda.
Calista mengangguk.
"Ayo kita masuk. Ini sudah sangat larut. Habiskan susu hamilnya lebih dulu," tutur Carlos mengingatkan Calista bila susu hamilnya belum habis sepenuhnya.
Calista menghabiskan susu hamil, lalu masuk ke kamar mandi di temani Carlos. Ia tersenyum melihat Carlos selalu memanjakan nya.
"Terimakasih," ucap Calista penuh makna.
Tatapan keduanya bertemu. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, sayang. Aku melayanimu begini belum ada apa-apa nya dari pada kamu yang sudah memberiku keturunan. Akhirnya aku mengalami bagaimana seorang suami begitu tak sabar pulang kerumah dari kerjanya untuk bertemu istri dan anak. Impian ku sudah terwujud, Calista. Terimakasih," ungkap Carlos tulus.
Calista hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca. Tak menyangka bila impian Carlos begitu sederhana. Betapa jahatnya dirinya bila harus meninggalkan Carlos hanya karena dendam dahulu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Om."