Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
60. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Anita baru saja selesai mengganti pakaian Wilson setelah bermain. Anak introvert itu sudah mulai mau berinteraksi padanya. Dan hal itu pula membuat Anita merasa senang.


Anita juga baru tahu bila di rumah itu ada orang lain selain William, Wilson dan para pelayan termasuk dirinya.


Wildan, sang kakak Tuan Rumah.


Tetapi, sepertinya akan ada penghuni lain selain mereka karena baik William dan Wildan tengah sibuk mendekor salah satu kamar di dekat kamar Wildan.


"Apa Wilson sudah selesai?" tanya William tiba-tiba masuk ke dalam kamar Wilson.


"Sudah, Om."


William berdecak ketika mendengar panggilan Om tersebut. Rasanya seperti sudah sangat tua.


William menggandeng tangan Wilson keluar kamar diikuti Anita dibelakang nya menuju lantai dasar dimana Wildan sudah menunggu.


Satu hal yang belum diketahui Wildan selama ini. Yaitu, Calista menikah dengan Carlos karena setiap William mengajak Wildan melihat Calista pasti saat sendirian.


Tentu saja tak diberi tahu karena penyebab Calista menikah dengan Carlos itu adalah ulah William sendiri.


"Kak, jangan terlalu lama berdiri. Ingat kata Dokter, hanya dua jam paling lama dalam sehari!" tegur William ketika baru saja tiba di lantai dasar melihat Wildan berdiri.


Wildan mencebik. "Aku harus belajar berdiri sekarang. Aku sudah gak sabar bertemu anakku," ucap Wildan girang.


"Tapi jangan banyak berdiri dulu, kak. Ayolah jangan keras kepala," omel William langsung membawa kursi roda ke hadapan Wildan.


Satu hal lagi yang baru diketahui Anita tentang William yaitu cerewet.


Wildan akhirnya menurut duduk di kursi roda dengan wajah yang cemberut. Semua perlakuan kakak beradik itu tak luput dari pandangan Anita.


Keempatnya kini sudah memasuki mobil dan melaju dengan tujuan ke rumah Edzard. Anita tahu arah jalan yang telah mereka lewati, namun memilih diam saja.


Sepanjang jalan Wildan terus saja menebar senyum. Baginya, walau terlambat menyelamatkan Anabella setidaknya Calista harus tahu kehadiran nya.


Sesampainya di kediaman keluarga Abraham, William dan Wildan berjalan beriringan mendahului Anita dan Wilson.


"Kak. Kita sedang berada dimana dan untuk apa?" tanya Wilson menengadah melihat bentuk rumah dan sekeliling sekitar rumah keluarga Abraham.


"Ini di rumah sahabat kakak. Tapi kakak gak tahu tujuan kita kemari," sahut Anita menjelaskan.


Wilson pun mengangguk lalu melanjutkan langkahnya. Anita tersenyum ketika baru tiba depan pintu melihat Ivy membuka pintu dan bertanya padanya.


"Ada apa, ya Anita?"

__ADS_1


Anita gelagapan merasa bingung harus menjawab apa karena sama sekali tak tahu tujuan datang kesini itu apa


"Kami ingin bertemu dengan Pak Ed, Bu." jelas William menyelamatkan Anita.


Anita bernafas lega kemudian melirik William sambil tersenyum.


Akhirnya Ivy mempersilakan rombongan William masuk dan mempersilahkan duduk di ruang tamu dan sementara Ivy memanggil Edzard di ruang keluarga.


Edzard tampak lebih dahulu hadir di ruang keluarga lalu disusul Ivy dan seorang pelayan membawa minuman serta cemilan di nampan.


"Silahkan dinikmati," ucap Ivy ramah kemudian duduk di samping Edzard.


Edzard sendiri menatap dua pria sama dewasa dengan nya dengan wajah datar. Ia mengenal William Aletta, seorang pengusaha batu bara yang cukup kaya raya dan melihat kemiripan dua pria tersebut pastilah saudara, pikir Edzard.


"Langsung saja. Tujuan anda kesini ada perlu apa?" tanya Edzard yang tidak suka basa-basi.


William memuji Edzard dalam hati. Ia memang sudah mencari tahu tentang Edzard Zeon Abraham yang terkenal gesit dalam bekerja juga tidak suka basa-basi dalam bicara.


"Kenalkan saya Wildan Aletta, kakak-,"


"Langsung saja. Aku tahu pasti kalian saudara karena mirip," potong Edzard membuat Wildan kicep.


Ivy mendengar ucapan suaminya hanya bisa menggeleng. Sudah hal biasa baginya bila sang suami selalu bicara tanpa basa-basi.


Tangan Wildan pun bergerak mengambil berkas berisi bukti-bukti bahwa Calista adalah anak kandung nya beserta foto kebersamaan nya bersama Anabella.


"Silahkan dibaca, semoga bukti ini dapat dipercaya dan saya berhak atas Calista."


Edzard menerima berkas tersebut. Sebenarnya, ia sudah tahu bila akhir-akhir ini Calista sering diperhatikan dua orang pria dewasa di hadapan nya. Tetapi belum tahu maksud dari tujuan mereka.


"Disitu juga ada hasil tes DNA dari Rumah Sakit Singapura dan Rumah Sakit Jakarta," sambung William.


Tujuan melakukan tes di Rumah Sakit yang berbeda agar dapat lebih dipercaya.


Edzard dan Ivy masih melihat semua bukti tersebut. Anita sendiri merasa terkejut atas apa yang di dengarnya.


"Kenapa anda baru datang sekarang? karena perlakuan wanita mu itu, aku di hukum keluarga dan istriku."


"Papi," tegur Ivy.


Ivy memaksa tersenyum pada tamu nya. Ia menjadi merasa tak enak hati pada tamunya.


"Maafkan saya. Ada sesuatu terjadi hingga membuat saya harus dirawat karena kelumpuhan yang telah saya alami."

__ADS_1


Edzard hanya diam saja. Kecintaan nya pada anak-anak tak pernah membedakan antara Calista dan kedua anak kembarnya.


Edzard tahu bila akan terjadi seperti ini dimana ayah kandung akan mendatangi nya dan tentu saja tak akan menghalangi pertemuan antara ayah kandung dan Calista. Tetapi, apakah sanggup?


"Calista sudah gak tinggal disini," ucap Edzard menghela nafas.


Wildan tampak terkejut tetapi tidak dengan yang lain nya karena tahu dimana Calista sekarang tinggal.


"Jadi dimana Calista sekarang tinggal?" tanya Wildan.


"Di rumah suaminya," sahut Edzard seraya menyilangkan kaki.


Wildan melotot. "Calista masih muda, Pak Ed. Bagaimana bisa anda menikahkan anak saya di usia muda?"


Edzard menatap Wildan dengan tatapan tajam. Ketika hendak memaki Wildan, Ivy dengan sigap mengelus lengan Edzard agar tak terpancing emosi.


Edzard mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Lebih baik anda bicara langsung pada suaminya," terang Edzard kemudian menekan icon loud speaker di ponsel setelah panggilan telepon terhubung ke ponsel Carlos.


Sudah berulang kali belum juga di jawab oleh Carlos. Namun, Edzard terus saja melakukan panggilan telepon pada Carlos.


...----------------...


"Sayang, pelan-pelan saja. Nanti kamu kelelahan," seru Carlos masih setia memegang pinggang Calista yang sedang naik turun diatas tubuhnya.


Tangan Carlos terulur mengusap dahi Calista yang basah bermandikan peluh. Rasanya, kenikmatan yang tercipta tak dapat lagi diungkapkan oleh kata-kata.


Semakin besar perut Calista justru semakin membuat bi ra hi Carlos tak terkendali. Apalagi naf su Calista juga semakin tinggi selama kehamilan.


Carlos membalikkan posisi menjadi Calista dibawah kukungan nya. Ia tak ingin membuat istrinya menjadi kelelahan apalagi dirinya belum mencapai puncak.


Mata Carlos melirik melihat ponsel yang berdering sudah berulang kali. Karena takut itu adalah telepon penting, Carlos menggapai ponsel dan melihat namabsang mertua tertera disana.


Pacuan pinggul Carlos melamban karena mengangkat telepon tersebut.


"Ha-halo," ucap Carlos terbata.


"Dasar menantu gila. Kemana saja kau?"


"Di kamar, ada apa?" tanya Carlos lirih.


Carlos tak ingin Edzard mendengar suara percintaan mereka. Mungkin bila bukan menjadi mertuanya, tak ada rasa malu dihati Carlos.


"Om... Kenapa berhenti, lebih cepat kayak tadi dong, Om. Nanggung ini. Apa aku yang diatas lagi?" rengek Calista kesal karena Carlos berhenti berpacu. Ucapan Calista membuat Carlos melotot.

__ADS_1


__ADS_2