Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
61. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Om... Kenapa berhenti, lebih cepat kayak tadi dong, Om. Nanggung ini. Apa aku yang diatas lagi?"


Semua orang berada di ruang tamu di rumah keluarga Abraham menegang mendengar rengekan beserta suara desa han berasal dari ponsel Edzard.


Anita dengan sigap menutup telinga Wilson karena tahu anak introvert tersebut sangat cerdas. Takut bila menimbulkan pertanyaan yang sulit dijawab oleh orang dewasa.


Edzard pun langsung mematikan ponsel nya. Wajah orang dewasa di ruangan itu berubah memerah bak udang rebus.


Umpatan demi umpatan terus terlayang dalam hati mereka. Saling melirik dan salah tingkah.


Cukup lama mereka berdiam diri dalam keadaan tersebut. Bolak balik meminum teh untuk menormalkan diri dan suasana namun tetap saja tak mampu.


Edzard berdehem. "Sebaiknya kita tunggu mereka hubungi kita lagi."


Semua setuju usulan dari Edzard. Sedang Ivy mengajak Anita dan Wilson ke teras belakang membiarkan tiga pria dewasa itu mengobrol.


...----------------...


"Om... Kenapa berhenti, lebih cepat kayak tadi dong, Om. Nanggung ini. Apa aku yang diatas lagi?" rengek Calista kesal karena Carlos berhenti berpacu. Ucapan Calista membuat Carlos melotot.


Carlos langsung menaruh ponsel ke tempat semula lalu membungkam mulut Calista dengan bibirnya. Ia kembali melakukan pemanasan agar semakin nikmat.


Untuk sesaat Carlos pura-pura hilang ingatan yang baru saja terjadi. Mengumpulkan tenaga dan semangat agar nantinya siap menghadapi semburan omelan dari mertuanya.

__ADS_1


Baik Carlos maupun Calista saling memberikan pelayanan terbaik. Tidak ada lagi penghalang diantara keduanya.


"Aku mencintaimu," ucap Carlos lirih setelah sekali lagi junior nya menyembur cairan masa depan di dalam rahim sang istri.


"Aku lebih mencintaimu, Om." balas Calista memejamkan mata merasakan kecupan di kening dan bibirnya.


Carlos berguling ke samping tubuh Calista. Satu tangan nya menyangga kepala dan mengarah ke hadapan Calista.


Satu tangan nya lagi membelai pipi Calista dengan lembut. Dikecup kembali bibir istri kecilnya tersebut. "Sayang, apa kamu sangat kelelahan?" tanya Carlos seraya menyelimuti tubuh keduanya.


Calista membuka mata sekejap lalu terpejam kembali. "Lumayan, Pi."


Carlos mengecup kening Calista. "Tidurlah. Kita istirahat sebentar," ucap Carlos seraya mengangkat kepala Calista dan dibaringkan kembali di lengannya, hingga Calista menjadi memeluk tubuh Carlos kemudian tidur bersamaan.


Dua jam kemudian. Calista tampak cemberut karena Carlos belum juga selesai bersiap. Padahal, mereka sudah sangat terlambat.


"Kita harus kerumah Papi Ed. Tadi beliau menelepon," gumam Carlos tadi membuat Calista tersentak langsung bangkit membersihkan diri.


Tetapi lihatlah ketika Calista sudah bersiap, justru Carlos baru saja terbangun dan masuk kamar mandi dalam keadaan mengantuk.


Beberapa saat kemudian Carlos keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih fresh. Ia tersenyum melihat Calista yang cemberut bahkan menghentakkan kaki saking kesal padanya.


Carlos mendekati Calista lalu menunduk setelah berdiri dihadapan sang istri. Dikecup pipi Calista tetapi sang empu pipi langsung mengusap bekas kecupan nya.

__ADS_1


Bukan marah, justru kelakuan Calista membuat Carlos tertawa. Baginya, apapun yang dilakukan Calista padanya begitu sangat menggemaskan.


"Oke. Baiklah-baiklah. Aku bersiap sekarang," ucap Carlos menyerah ketika melihat mata Calista berkaca-kaca.


Carlos memakai pakaian yang telah disediakan Calista dengan cepat. "Aku sudah selesai, ayo kita berangkat!" ujar Carlos langsung menggendong Calista.


Calista memberontak. "Aku bisa jalan sendiri, Om."


"Tapi aku lebih suka jalan bersama kalian. Nanti setelah anak kita lahir, aku akan menggendong kalian sekaligus."


"Idih. Enggak takut pinggang encok, Om?" ejek Calista terkekeh seraya mengalungkan tangan ke leher Carlos.


Carlos menggendong Calista hingga memasuki mobil yang sudah di siapkan sang sopir. Hari ini, keduanya pergi dengan sopir.


"Papi menelepon karena apa ya, Om?" tanya Calista dan dijawab dengan Carlos mengedikkan bahu.


Pasalnya, Calista tahu jika ayah angkatnya menelepon pasti ada sesuatu hal penting. Tetapi berbeda dengan Carlos. Ia memikirkan apa yang akan terjadi setelah mendengar suara luknut tadi.


Sesampainya mobil berhenti di pekarangan rumah keluarga Abraham, Carlos tak kunjung bergerak.


"Om harus berdamai dengan Papi. Ayo," ajak Calista menarik lengan Carlos.


Carlos menghela nafas pasrah bila sang istri sudah begini. Bukan takut pada Carlos, namun lebih ke rasa segan sekarang.

__ADS_1


Keduanya masuk setelah dibuka kan pintu oleh pelayan rumah. Calista melihat ada tamu dengan kening berkerut dan Carlos terpaku melihat pria yang duduk di sebelah sahabatnya.


Bukankah pria itu adalah pria yang sama di foto itu?


__ADS_2