
Fadil terus saja mengecup punggung tangan Dewi dengan sayang. Rasa bahagia yang telah lama hilang kini kembali terulang.
Mungkin bisa dikatakan bila Fadil tengah merasakan yang namanya puber kedua. Tetapi baginya, ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Selama empat belas tahun, hidup merana dan berharap Nadia kembali padanya. Tetapi siapa sangka, ditengah penantian nya Dewi datang dengan kelembutan dan sejuta perhatian untuknya hingga pada akhirnya hati menjadi berpaling.
Dirinya seorang pria dewasa yang haus akan pelayanan seorang istri tentu saja membuatnya dengan mudah berpaling saat ada wanita yang terus-menerus bersamanya.
"Terimakasih karena kamu sudah menjaganya untuk ku," ucap Fadil sekali lagi pada Dewi yang masih tampak kelelahan dalam rengkuhan nya.
Keduanya baru saja memadu kasih setelah seminggu lalu telah sah menjadi pasangan suami-istri.
Bukan tanpa alasan Dewi baru saja menyerahkan kesuciannya pada Fadil. Begitu banyak Nadia membuat masalah di rumah Fadil hingga harus menunda hal itu.
Seperti siang tadi, Nadia kembali datang dan meminta Fadil agar mengantarkan periksa kandungan besok.
Tentu saja Fadil menuruti dengan syarat Dewi ikut bersama mereka. Bukan dengan sengaja mengajak Dewi untuk memanas-manasi hati Dewi tetapi bagi Fadil adalah kejujuran dan keterbukaan dalam suatu hubungan itu sangat penting hingga tercipta rasa percaya dikedua belah pihak.
Dewi hanya tersenyum dan terpejam. Ia masih kurang nyaman dengan keadaan inti miliknya karena masih sedikit nyeri. Tak menyangka bila bercinta seperti itu rasanya.
...----------------...
Keesokan hari. Keduanya sudah bersiap setelah sarapan bersama dengan anak asuh mereka. Taksi yang sudah di pesan juga sudah menunggu.
Keduanya masuk ke dalam taksi lalu melaju membelah jalanan. Dewi menyandarkan kepala di lengan Fadil.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" tanya Fadil sedikit berbisik.
"Gak terlalu. Aku bisa mengatasinya, mas!" cicit Dewi menenangkan Fadil.
Jemari yang saling bertaut itu semakin merasakan cinta dari keduanya. Umur seakan tak lagi menjadi penghalang cinta mereka yang terus menggema.
Sesampainya di rumah Nadia yang baru, Fadil keluar dari taksi tanpa Dewi. Di lihat Nadia sudah rapi menunggu di teras rumah.
"Fadil," ucap Nadia hendak memeluk tetapi Fadil menghindar.
"Masuklah Nadia. Aku gak punya banyak waktu," tutur Fadil dingin.
Keduanya jalan memiliki jarak dimana Fadil memilih berjalan lebih dahulu dan masuk di kursi penumpang.
Betapa terkejutnya Fadil dan Dewi ketika Nadia juga ikut masuk ke kursi penumpang menjadikan Fadil berada di tengah antara Dewi dan Nadia.
Nadia menggeleng. "Enggak. Anakku mau dekat ayah nya. Kalau mau, biar madu ku saja yang pindah."
Merasa Dewi disindir akhirnya tahu diri. Saat hendak membuka pintu, Fadil menghalangi dan mengangkat tubuh Dewi ke pangkuan nya.
"Mas," cicit Dewi malu dan tak enak hati pada Nadia yang sudah kesal dan cemberut.
"Tetaplah begini atau aku yang akan duduk di depan samping sopir," ancam Fadil membuat dua wanita itu terdiam.
...****...
__ADS_1
Ketiga nya telah berada di ruang Dokter Kandungan. Tidak ada yang mengeluarkan suara selain Dokter dan Fadil juga Nadia sesekali jika Dokter bertanya padanya.
"Hamil di usia 35 tahun ke atas termasuk sebagai kehamilan geriatri. Risiko kesehatan hamil ini lebih tinggi jika dibandingkan ibu hamil anak pertama di usia 35 tahun ke bawah."
"Risiko nya apa, Dok?"
"Dilansir dari Healthline, beberapa ibu hamil di usia 40 tahun ke atas cenderung kurang bugar jika dibandingkan ibu hamil di usia 20 sampai 30 tahunan."
"Wanita yang hamil ketika usianya tidak lagi muda juga relatif mudah lelah, sensitif terhadap nyeri, dan lebih merasakan ketidaknyamanan selama kehamilan. Namun, risiko kesehatan ini bisa diantisipasi, asalkan ibu hamil di usia 40 tahun ke atas menjalankan gaya hidup sehat, rajin berolahraga, dan aktif bergerak."
Ketiga nya mengangguk paham. Dewi merasa cemburu tetapi tak mungkin di perlihatkan. Apalagi mengetahui Fadil tak mungkin berpisah dengan Nadia selama kakak madunya itu hamil.
"Rentan terkena penyakit kronis dan Risiko melahirkan down syndrom meningkat."
Wajah ketiganya tampak khawatir tetapi dokter menenangkan ketiganya. Nadia rebahan di brankar karena hendak di USG.
Fadil diam memaku melihat janin yang tumbuh dalam perut Nadia. Ia tentu saja tahu jika setelah malam itu, pasti akan membuahkan hasil karena melakukan nya tak memakai pengaman seperti biasanya.
Niat awal melakukan itu karena agar Nadia terjerat olehnya. Tetapi siapa sangka hatinya telah berpaling.
"Bayi kalian sehat. Usia kandungan nya sudah empat Minggu. Hanya ibu harus menjaga pola hidup sehat dan banyak berolah raga."
"Baik, Dok."
Ketiganya keluar ruangan Dokter.
__ADS_1
"Mbak Nadia tinggal bersama kita saja, Mas. Agar anak-anak bisa merawat Mbak Nadia."
"APA??."