Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
29. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Nadia tampak gugup ketika Carlos bertanya dan duduk di hadapan nya. Tetapi hanya sesaat.


"Ingat pulang juga?" tanya Nadia dingin.


Carlos tersenyum miring. "Ya. Aku pulang karena untuk memastikan sesuatu. Kemana saja kamu sejak pagi?"


"Aku di rumah," sahut Nadia berkilah.


"Jangan membohongiku, Nad. Aku melihat sendiri kamu dari pinggiran kota berdua di dalam mobil," sanggah Carlos tak suka dibohongi.


Nadia menatap Carlos. "Kenapa kamu berubah, Carl? memang nya kenapa kalau aku dari pinggiran kota? aku hanya ingin menghibur diri saat suamiku sedang bahagia bersama istri mudanya?" cerca Nadia lirih dan meneteskan air mata.


Carlos yang masih ada rasa peduli pada Nadia pun hanya mampu diam saja karena yang diucapkan istri pertamanya benar adanya.


"Kenapa kamu berubah, Carl? katamu, kamu gak akan pernah berubah walau aku gak bisa punya anak. Kenapa sekarang kamu berubah setelah punya yang baru?"


Carlos masih diam seraya mengusap wajah dengan kasar. "Maaf," ucap Carlos berpindah menjadi duduk disebelah Nadia.


Nadia terus berpura-pura sedih agar Carlos tak curiga. Wanita itu tahu kelemahan suaminya adalah melihatnya menangis.


Di sandar kepalanya ke dada bidang Carlos. "Apa kamu mencintai istri muda mu, Carl?"


Tubuh Carlos menegang mendapat pertanyaan dari Nadia. Lidah nya kelu untuk menjawab pertanyaan itu.


Bagaimanapun, Nadia lah yang menemani nya selama empat belas tahun belakangan dan terpaksa mendua walau pada akhirnya dirinya menikmati itu dan jatuh cinta pada istri muda nya.


"Apa aku sudah gak ada di hatimu?" tanya Nadia kembali.


"Kamu masih ada di hatiku, tapi maaf kalau cinta ku sudah terbagi."


Nadia mengeratkan pelukan dan itu mampu membuat Carlos semakin merasa bersalah.


"Kamu harus adil. Aku gak rela kamu tinggalin aku. Kamu harus ingat, akulah yang menemani kamu sampai sesukses ini, Carl!"


Carlos mengeratkan pelukan. "Iya, aku akan adil. Aku janji," ucap Carlos membuat Nadia menatapnya dengan intens lalu mencium bibirnya.

__ADS_1


Carlos sempat terkejut. Namun, akhirnya terbuai dan membalas ciuman Nadia.


Setelah itu, Carlos masuk ke kamar dan membersihkan diri. Di bawah guyuran air shower, ia memikirkan kejadian tadi dimana Calista mengajak nya ke pinggiran kota dan bertepatan mobil Nadia melewati mereka.


Timbul rasa curiga pada istri kecilnya itu. Berbagai pertanyaan terngiang di hatinya.


Apakah Calista sengaja agar Nadia melihat mereka berdua?


Apakah Calista ingin membuat Nadia merasa sakit hati?


Apakah Calista ingin membuat dirinya dan Nadia berseteru?


Benarkah Calista orang yang seperti itu?


Carlos menggeleng merasa pusing menghadapi dua rumah tangga sekaligus. Bagaimana pun saat ini hatinya, ia harus adil untuk keduanya.


...****...


Saat Carlos mengantar nya hingga sampai di persimpangan, Calista turun dengan senyum bahagia. Belanjaan nya sudah dikirim ke Apartemen.


Calista melambai tangan ke arah Carlos dan mobil suaminya telah hilang dari pandangan. Cukup lama menunggu di persimpangan hingga sebuah mobil lain berhenti tepat di depannya dan iapun langsung masuk ke dalam.


"Apa Carlos melihat nya tadi?" tanya Bimo. Pria yang menjemput Calista adalah Bimo.


Calista mengangguk. "Tapi aku enggak tahu mereka disana bertengkar atau sebaliknya. Karena kata Bi Ijah mereka baik-baik saja. Bahkan tadi kata beliau, mereka berciuman!" sahut Calista lirih. Pandangan nya beralih menatap keluar jendela. Air matanya lolos membasahi pipi.


Bimo memberikan sapu tangan pada Calista setelah itu kembali fokus ke perjalanan. "Apa kamu mulai jatuh cinta padanya?" tanya Bimo sekali lagi.


Calista menggeleng. "Aku gak boleh jatuh sama dia, Om. Buktinya, kepergian ku selama dua Minggu gak mengubah hubungan mereka. Aku harus pasrah kalau pada akhirnya harus meninggalkan atau di tinggalkan. Bagaimanapun, posisi istri pertama Om Carlos lebih kuat dariku."


Bimo menghela nafas. "Jangan menyerah. Bukan kah tujuan kita sekarang mencoba membujuk Fadil untuk berlaku tegas pada Nadia? Carlos dan Fadil sama-sama tertipu oleh wanita serakah seperti Nadia."


"Aku takut pada akhirnya Om Fadil menyerah dan melepaskan Tante Nadia. Sementara aku masih menjadi yang kedua," ucap Calista kembali menghapus air mata menggunakan sapu tangan yang diberikan Bimo.


"Aku ini bukan rahim pengganti bagi mereka 'kan, Om?" tanya Calista membuat Bimo semakin iba padanya.

__ADS_1


"Bukan. Om pastikan akan menjadi orang pertama yang akan melindungi mu dari mereka yang akan mencelakaimu, Calt!"


Bimo menghela nafas. Ia sungguh tahu bagaimana Fadil dan Carlos. Mereka adalah dua pria baik hati yang terjebak oleh cinta palsu yang diberikan Nadia.


Fadil memang adiknya. Tetapi sebagai adik tiri karena almarhum ayahnya telah selingkuh dengan almarhum ibu Fadil.


Fadil sadar diri hingga telah dewasa tak ingin hidup bersamanya, dan sekarang memilih berkebun. Karena keadaan serba sederhana lah Nadia mendapat izin bekerja di Perusahaan Carlos. Namun, wanita itu lupa diri hingga terjadilah pernikahan gila itu.


Mobil mereka telah berhenti di salah satu rumah sederhana. Ada pohon mangga di depan pekarangan dan pohon rambutan di samping rumah.


Sangat asri.


Calista dan Bimo turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah itu.


"Kak Bimo," ucap Fadil lirih mempersilahkan Calista dan Bimo masuk dan duduk di sofa.


"Dimana Mario?" tanya Bimo.


"Sudah kembali ke asrama tadi," sahut Fadil kemudian bangkit, berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum.


Calista sendiri menelisik ruang tamu tersebut. Tak lupa ia mengambil potret dari pajangan-pajangan di dinding menampakkan pose Nadia menggendong bayi dan Fadil. Ada juga saat Mario sudah tumbuh besar.


Calista dapat melihat dari penampilan Nadia saat masih berusia dengan Fadil tampak sederhana, menggendong bayi, hingga perkiraan usia Mario dua tahun masih berpenampilan begitu sederhana.


Tetapi foto selanjutnya, Nadia tampak lebih modis dan diyakini telah menjadi istri Carlos.


Calista kembali duduk ketika melihat Fadil kembali membawa minum untuk mereka.


"Apa Om suami Tante Nadi" tanya Calista sudah tak bisa menahan diri lagi.


Fadil tersentak lalu melirik ke arah Bimo yang mengangguk. "Iya," jawab nya gugup.


"Jangan gugup, Om. Kenapa Om biarin Tante Nadia menikah lagi? Apa Om rela berbagi istri?"


"Tentu saja Om gak rela. Om sangat mencintai istri Om. Tapi istri Om gak butuh cinta selain harta yang gak bisa ku berikan. Anak anak diantara kami," sahut Fadil lirih. Sangat jelas kesedihan dari raut wajahnya.

__ADS_1


Calista mengusap air mata nya. "Lalu bagaimana kalau ada anak diantara aku dan Om Carlos? apa Om masih diam saja? kalau hanya karena uang, aku bisa memberi uang untuk kalian asal jangan begini," Calista terisak dan Bimo langsung memeluknya.


Sedang Fadil hanya diam saja.


__ADS_2