Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
55. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Stop sayang, stop!" pekik Carlos dengan tangan mengudara memberi isyarat pada Calista yang hendak memakai kimono tidurnya.


Calista yang masih memunggungi Carlos langsung berbalik ke arah suaminya karena kesal. "Apa sih, Om?" tanyanya kesal mengacak pinggang.


Sedang Carlos melotot melihat pemandangan indah di hadapan nya, kulit putih bersih dan mulus ditambah perut yang mulai buncit menambah keseksian Calista.


"Jangan di pakek," pekik Carlos sesaat ketika Calista hendak memakai kimononya lagi.


Calista yang masih kesal, tak menggubris ucapan Carlos. Dipakainya kimono tersebut, lalu naik ke atas ranjang tanpa perduli Carlos yang sedang gusar.


Carlos melangkahkan kaki mendekati sisi ranjang dimana Calista sudah rebahan. "Sayang. Maaf, boleh ya aku tidur sambil peluk kamu. Kangen," rengek Carlos.


Calista yang pura-pura terpejam langsung mengubah posisi menjadi menunggu Carlos. "Gak ada tidur disebelah aku. Awas saja kalau berani. Seminggu ini Om bisa gak peluk cium aku. Jangan begitu, tegur sapa juga bisa tahan. Sana tidur di kamar tamu ataupun di ruang kerja kayak seminggu ini," usir Calista kemudian menyelimuti dirinya.


Carlos meringis mendengar omelan dan pengusiran padanya. Ini memang salahnya. Tetapi, selama seminggu ini benar-benar banyak pekerjaan terutama pekerjaan pembangunan rumah sederhana yang akan menjadi tempat tinggal nya bersama Calista dan anak-anak mereka di hari tua.


Akhirnya Carlos memilih tidur di sofa yang tak sepanjang tinggi badan nya. Bolak-balik ia mengubah posisi tidur mencari kenyamanan tapi agaknya, sofa bukanlah tempat ternyaman.


Carlos bangkit, mendekati ranjang, dan naik ke atas ranjang. Berbaring menatap wajah polos Calista yang sudah tertidur pulas.


"Maaf. Aku cemburu, aku takut kamu ninggalin aku dan pergi bersama Leon yang jauh lebih muda dari ku," gumam Carlos kemudian mengecup kening Calista.


Sebenarnya, Calista juga belum dapat tertidur. Selama seminggu tak mendapat perhatian dari Carlos sangat menyiksa baginya.


Mendengar gumaman Carlos dan merasakan hangatnya bibir Carlos yang mengecup keningnya membuat Calista semakin merindukan suami tua nya ini.


Masih dengan mata terpejam, Calista mendekatkan diri ke tubuh Carlos. Ia merindukan pelukan sang suami.


Keduanya sudah merasa nyaman dengan posisi tidur yang sekarang. Calista berada dalam pelukan Carlos dan bersembunyi dibalik dada bidang suaminya. Akhirnya keduanya dapat tidur pulas lagi malam ini.


...----------------...


Pagi menjelang, Calista lebih dahulu bangun tetapi masih ingin menikmati nyaman nya pelukan dari Carlos.


"Aku merindukan, Om." Gumam Calista justru semakin membuat pelukan Carlos mengerat.

__ADS_1


"Om," cicit Calista menyadari jika Carlos juga sudah bangun.


"Maaf."


Calista mendongak. Tatapan keduanya bertemu. "Aku juga minta maaf, Om. Aku sudah berusaha menghindar, tapi kak Leon memaksa. Jadi aku rasa untuk menyelesaikan urusan kami lebih dulu. Om kan tahu, kami harus berpisah karena kejadian malam itu," terang Calista.


Carlos manyun. "Pasti dia beranggapan kalau kamu terpaksa menikah denganku," Carlos merajuk.


Calista mengangguk justru semakin membuat Carlos merajuk. "Ya. Tapi aku juga menjelaskan kalau waktu demi waktu aku telah jatuh cinta padamu. Makasih, Om. Kamu benar-benar mencurahkan cinta untukku," terang Calista membuat Carlos menatap dalam matanya.


"Aku gak pernah merasakan cemburu, marah, dan takut kehilangan seperti apa. Hanya padamu, hanya karenamu, hanya padamu aku rasakan itu, sayang. Maaf atas perlakuanku, sebenarnya aku bukan marah padamu. Tapi, aku memikirkan bagaimana jika kamu benar-benar meninggalkan aku. Mungkin aku akan benar-benar gila atau bahkan akan bunuh diri karena hidup tanpamu."


Calista tak ingin lagi mendengar ucapan yang begitu pilu menjadikannya langsung membungkam bibir Carlos menggunakan bibirnya.


Keduanya saling berpagut, menyesap, bertukar saliva, memuaskan dahaga yang telah lama tak tersalurkan.


Pagutan itu terlepas dengan nafas terengah dan mata saling memandang. Carlos sudah tak dapat membendung hasratnya.


"Sayang, boleh?" tanya Carlos dan diangguki oleh Calista.


Carlos tak membuang waktu lagi. Di kukung Calista dibawah tubuhnya. Menikmati ladang kenikmatan yang tersuguhkan.


Kalimat cinta dan pujian untuk Calista selalu didengungkan oleh Carlos. Pria itu benar-benar sangat memuja istri kecilnya.


Calista adalah salah satu tipe orang physical touch love language atau bahasa kasih dengan sentuhan fisik, menyukai segala sentuhan fisik, seperti berpelukan, berpegangan tangan atau sekadar menyentuh lengan atau tangan mereka selama percakapan, menawarkan untuk memijatnya, dan masih banyak lagi.


Oleh sebab itu, setiap sentuhan yang diberi Carlos sangat menyentuh hatinya. Pria itu selalu memperlakukan nya dengan lembut.


"Aku hampir sampai, ah..," racau Calista.


Mendengar racauan Calista semakin membuat Carlos melajukan ritme hentakan nya semakin cepat.


"Tahan, sayang. Sedikit lagi, ah.. Sh*it," racau Carlos juga.


Hingga kata ah terus menghiasi kamar tersebut dan lenguhan sebagai tanda terakhir keduanya mencapai puncak nirwana.

__ADS_1


Carlos mengusap keringat di kening Calista tanpa mencabut junior nya. "Sayang," panggil Carlos pelan seraya melakukan gerakan melingkar di inti keduanya.


"Ya," gumam Calista masih terpejam. Ia tahu maksud panggilang Carlos apalagi merasakan gerakan melingkar junior di dalam intinya.


"Boleh?" tanya Carlos.


Calista membuka mata menatap mata Carlos. "Boleh, tapi pelan-pelan. Jangan lagi di tambah tanda merah nya," ucap Calista langsung diangguki oleh Carlos.


Carlos memulai lagi menikmati tubuh Calista dengan lembut. Rasanya, pria itu tak pernah merasa puas bila hanya dua kali pelepasan.


"Emang enak nyusu? kan kosong, Om!" cicit Calista memerhatikan Carlos sedang menikmati dua gunung kembarnya.


"Enak dan buat kamu sehat, sayang."


"Aahh.., kamu sengaja," pekik Calista.


Carlos semakin mempercepat ritme goyangan nya karena ingin mendengar suara mendayu Calista lebih keras lagi.


Hingga Carlos kembali memuntahan cairan masa dengan dalam rahim Calista. "Aku mencintaimu, terimakasih sayang." ucap Carlos mengecup kening dan bibir Calista.


Di cabut junior lalu ia meringkuk di hadapan perut Calista. Dielus dan dikecup berulang kali perut istrinya.


"Maafin Papi sudah cuekin kamu seminggu ini. Maaf, papi gak dengerin penjelasan mami kamu lebih dulu. Dan maaf untuk ini, pasti kamu capek diajakin papi dan mami main kuda-kudaan," ucap Carlos di depan perut Calista yang sudah mulai buncit.


Calista mendengar ucapan Carlos spontan mencubit lengan pria itu. "Gak boleh cerita begituan, Om."


Carlos terkekeh, lalu menyelimuti kedua tubuh mereka dan ia pun sudah mensejajarkan tidurnya.


"Sayang. Apa kamu benar-benar gak malu punya suami yang pantas jadi ayah kamu?" tanya Carlos seraya menempatkan kepala Calista di lengan kekarnya.


"Aku gak pernah memikirkan itu, Om. Dari awal aku meminta agar dinikahi juga gak pernah terbersit masalah umur."


"Suamiku, aku mohon. Jangan pernah insecure dengan umur. Aku benar-benar tulus dan sangat mencintai mu karena ketulusan dan perlakuan mu padaku."


❤️

__ADS_1


Maaf ya,


Satu hari ini listrik daerah kami padam dan baru hidup🙏🙏


__ADS_2