
Anita memberanikan diri melepas sepatu dan kaos kaki William. Setelahnya, Anita menarik tubuh William agar menjadi terlentang.
Perlahan ia membuka kemeja yang di kenakan William. "Om," pekik Anita saat tiba-tiba William menariknya lalu memeluk dengan erat.
"Anita," gumam William dalam ketidak sadaran nya.
"I-iya, Om."
"Aku mencintaimu," ucap William lirih kemudian mengecup kening Anita.
DEG
Seketika denyut jantung Anita begitu kencang setelah mendengar pengakuan cinta dari William yang tengah tak sadar.
Benarkah tak sadar?
Bukankah seseorang ketika sedang mabuk, alam bawah sadar yang lebih banyak bekerja?
Anita menggeleng. "Ini gak mungkin," gumamnya.
Anita menatap wajah William yang terlelap kemudian terdengar dengkuran halus dari bibir pria itu.
Anita mencoba melepas diri dari pelukan William tetapi semakin mencoba melepas diri, pelukan itu semakin erat membelit badan nya.
Hingga sampai ia kelelahan dan menyerah, membiarkan dirinya tertidur di atas dada William dan berharap bangun lebih awal agar bisa melepas diri tanpa diketahui pria itu.
*
*
Pagi hari tampak cerah hari ini apalagi bagi seorang William Aletta. Ia sudah bangun lebih dulu.
William tersenyum melihat Anita tidur di dada nya tampak begitu nyenyakbdan nyaman. Padahal sedari tadi sudah dipeluk erat bahkan ia mencuri kecupan pada pucuk kepala gadis itu.
Ia merasa lucu pada diri sendiri karena tak berani menyentuh Anita lebih dari ini. Seperti ada dorongan dari dalam dirinya untuk menjaga kehormatan gadis manis ini.
Sekali lagi William mencuri kecupan di pucuk kepala Anita. Tetapi, sepertinya perbuatan William kali ini mengusik tidur Anita yang damai.
Anita mengerjap mata perlahan. Pertama kali dilihatnya adalah dinding kamar berwarna abu-abu muda yang terasa asing baginya.
Perlahan ingatan malam tadi mulai terlintas dalam pikiran hingga pada akhirnya menyadari bila ia sedang berada di dada bidang seorang pria matang yang tampan dan tak lain itu adalah majikan nya.
Mata Anita terbuka lebar seraya menelan saliva dengan kasar. Ia berpikir, bagaimana jika William sudah bangun dan mengetahui ia tertidur dengan nyaman di dada pria itu.
Pasti bakal ngomel.
__ADS_1
"Ini sudah siang. Apa kamu merasa terlalu nyaman tidur di atas dada ku?" tanya William terdengar dingin.
Anita memejamkan mata berpura-pura tidur dan membenarkan dugaan yang dipikirnya tadi.
Benar apa yang aku bilang.
"Apa kamu ingin menjadi istriku agar bisa sepuasmu tidur di dadaku?" tanya William dingin tapi itu adalah sebuah kebenaran.
DEG
Sekali lagi jantung Anita bekerja sangat keras. Ia pun berpikir sekali lagi apakah William masih tidak sadar karena pengaruh alkohol.
Merasa jantung nya sedang tak baik-baik saja, Anita langsung duduk. "Sepertinya Om masih dalam pengaruh alkohol."
Belum sempat William menjawab, terdengar suara ketukan pintu dan Wilson memanggil William.
"Papa."
"Papa, bangun."
William dan Anita tersentak. Keduanya bangkit dan menjadi bingung.
"Aku harus sembunyi, Om."
Anita tampak mondar mandir mencari tempat sembunyi. Akhirnya ia memilih masuk dalam kamar mandi.
Ia pun menyusul Anita masuk ke dalam kamar mandi. Saat sudah berada di dalam, William tidak menemukan Anita.
Tetapi melihat ada bayang seseorang dari balik kaca pembatas antara sisi bathtub dan shower.
Ia pun masuk ke dalam sana dan melihat Anita berjongkok di sudut ruang berdinding kaca untuk mandi menggunakan shower.
"Astaga, Anita. Kamu ngapain sembunyi?" tanya William merasa lucu melihat tingkah gadis itu.
Anita yang masih berjongkok mendongak menatap William den menaruh jemari telunjuk ke bibirnya. "Suutts.. Nanti Wilson dengar om. Aku cuma gak mau nimbul kesalah pahaman."
Satu alis William naik. "Salah paham yang gimana?"
"Aku takut mereka berpikir kita melakukan aneh-aneh di kamar Om."
William berjongkok di depan Anita. "Memang nya mereka siapa? Yang panggil kan Wilson, dan lagi pula kita gak melakukan apa-apa bukan? atau kamu melakukan sesuatu saat aku gak sadar semalam?" selidik William.
Anita membeku. Ingatan dimana William menyatakan cinta lalu mengecup kening nya membuatnya menelan saliva dengan kasar.
Mata keduanya bertemu, tetapi Anita lebih dahulu memutuskan tatapan itu karena baginya, tatapan mata William menghunus tepat pada jantungnya.
__ADS_1
Tangan William berada di kedua lengan bagian atas Anita lalu mengajak gadis itu agar berdiri. Namun, tanpa sengaja badan Anita mengenai dimer sehingga membuat shower hidup dan membasahi tubuh keduanya.
"Ya ampun."
"Astaga."
Keduanya terkejut dan William melotot ketika baju Anita bagian depan sudah basah kuyup dan menampakkan bagian dada yang montok.
Anita sadar langsung menyilangkan kedua tangan langsung membalikkan badan begitu juga William.
William lebih dahulu keluar dari sana, mengambilkan bathrobe bagi Anita. Masih dalam keadaan memunggungi Anita, William memberikan bathrobe itu.
"Pakailah ini, baru setelahnya kamu keluar dari sini. Maaf, aku gak bermaksud melihatnya tadi."
Anita menerima bathrobe tersebut. Ia sudah tak sanggup berkata apapun lagi. Wajahnya memerah karena begitu malu pada William.
William sendiri sudah membuka celana dan memakai bathrobe juga. Ia ingin lebih dahulu keluar dari kamar mandi. Karena sejujurnya, ia sudah merasa tak tahan berada dalam satu ruangan bersama Anita. Ia begitu takut menerkam Anita dan pada akhirnya gadis itu membencinya.
Ia tak ingin itu.
Tetapi ketika hendak membuka pintu, Anita sudah berada tepat dibelakang nya. William menghela nafas merasakan tubuhnya yang sulit di kendalikan bertambah jantungnya yang berdebar begitu kencang setiap kali berada di dekat gadis itu.
William memutar handle pintu dan menariknya perlahan.
"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar mandi?" tanya Wildan dingin melihat tampilan William dan Anita secara bergantian.
Anita menelan saliva dengan kasar. Ia merasa tak enak hati pada Wildan. Ia menangkap kekecewaan dari sorot mata pria matang itu.
Ada rasa tak enak hati karena baru saja kemarin Wildan menyatakan cinta padanya, tetapi Anita tak langsung menjawab dan meminta waktu buat memikirkan nya.
Bukan karena masalah umur. Tetapi banyak hal yang harus dipikirkan bila mereka bersatu.
Wildan meninggalkan mereka berdua dan Wilson berada disana.
William sendiri merasa bersalah pada sang kakak karena yakin pasti berpikir yang tidak-tidak diantara dirinya dan Anita.
"Papa dan Kak Anita mandi bersama?" tanya Wilson membuat kedua orang itu menjadi kikuk.
"Em.."
"Bukankah papa bilang, laki-laki dan perempuan gak boleh mandi bersama?" tanya Wilson lagi semakin membuat kedua orang itu salah tingkah.
Anita tersenyum kemudian bersimpuh dihadapan Wilson. "Maaf, pasti kamu cari kakak, ya. Kamu sudah sarapan?" tanya nya mengalihkan pembicaraan.
Wilson mengangguk. "Cepatlah bersiap, kak. Nanti kita terlambat."
__ADS_1
Anita mengangguk lalu berdiri lagi. Ia dan Wilson keluar kamar William.
William tersentuh melihat keakraban keduanya.