Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
94. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Lepasin, Om. Aku mau pipis," kata Calista seraya mencoba melepas pelukan Carlos yang sedari tadi tak menginginkan nya pergi.


Carlos melepaskan pelukan kemudian beringsut turun dari ranjang kemudian menggendong Calista.


"Aku bisa jalan sendiri, Om."


Carlos menggeleng sembari melangkah lebar masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan Calista buang air kecil di hadapan nya.


"Aku harus mengawasi mu, sayang. Kamu harus tetap berada di dekatku agar gak pergi lagi," kata Carlos membuat Calista berdecak.


Setelah selesai buang air kecil, Carlos kembali menggendong Calista kemudian membawanya keluar dari kamar mandi.


Di dudukkan di tepi ranjang kemudian Carlos mengambil pakaian santai untuknya dan Calista.


Dengan telaten Carlos memakaikan pakaian pada Calista, setelahnya baru ia memakai pakaian nya sendiri.


Calista menautkan alis ketika melihat Carlos berpakaian santai. "Om gak kerja?"


Carlos sedang merapikan kaos yang di pakainya langsung menoleh ke arah Calista karena mendengar pertanyaan itu.


"Sudah dibilang, kalau aku gak akan biarin kamu pergi lagi."


Calista berdecak dengan wajah cemberut. "Aku gak akan pergi lagi, Om."


Carlos menggeleng. "Aku gak percaya. Sekarang kita sarapan, setelah itu temani suami mu ini ke babershop agar tampan kembali."


Calista pun menurut. Ketika sudah berada di ruang makan, Calista melayani Carlos seperti biasa.


"Aku kangen kamu ambilin aku makan begini. Jangan pergi lagi," tutur Carlos menatap Calista dengan tatapan penuh cinta dan harapan secara bersamaan.

__ADS_1


Calista tersenyum lalu mendekati Carlos. Ia mengecup pipi kanan Carlos kemudian mengambil makanan untuknya sendiri.


Keduanya makan dengan tenang tetapi tatapan mereka yang sering beradu mengartikan banyak cinta dikeduanya.


Setelah selesai sarapan, Carlos benar-benar mengajak Calista ke babershop. Untuk hari ini, ia benar-benar tidak ingin bekerja karena hendak menghabiskan waktu bersama sang istri sebelum acara syukuran kehamilan dan pernikahan Wildan.


"Sayang. Apa kamu gak ngerasa bersalah?" tanya Carlos penasaran karena dilihatnya Calista baik-baik saja.


"Biasa saja," sahut Calista yang saat ini sedang makan siang bersama Carlos setelah usai dari babershop.


Carlos cemberut. Calista melihat nya menjadi terkekeh tetapi tangan nya terulur menggenggam tangan Carlos yang sedang berada di atas meja.


"Rasa bersalahku lebih besar dari apapun sekarang ini. Maaf," katanya menatap Carlos.


*


*


"Jangan terlalu lama memelukku, Kak."


Anita berdecak kemudian melepas pelukan nya. Ia beralih menghadap ayah dari anak laki-laki yang baru saja dipeluknya.


William.


Ada rasa canggung dan rindu kepada pria di hadapan nya ini. "Apa kabar, Om?" tanya Anita.


William tersenyum. "Baik."


Mereka sudah membuat janji temu dua hari sebelum keberangkatan William ke Indonesia.

__ADS_1


"Gimana persiapan pernikahan kalian?" tanya William menekan rasa sakit dihati.


Anita tersenyum canggung mendengar pertanyaan William. "Sudah finishing, Om."


Memang benar. Semua persiapan pernikahan Anita dan Wildan sudah sempurna. Hanya saja, Anita merasa akhir-akhir ini Wildan tidak punya waktu untuknya.


Tapi, Anita percaya dengan apa yang dikatakan Wildan jika calon suami nya itu sedang menyelesaikan beberapa proyek agar saat hari pernikahan dan satu Minggu ke depan dapat libur bekerja.


William mengangguk mengerti. Ketiganya berencana untuk makan siang lebih dahulu. Mereka memasuki restoran yang sering di datangi William.


"Om," panggil seseorang dari pojokan restoran tersebut.


Ketiganya menoleh ke sumber suara dan William langsung melambaikan tangan ke arah Calista lalu berjalan menuju meja Calista dan Carlos.


*


Awalnya Calista merasa aneh dengan Anita datang bersama dengan William dan Wilson. Tetapi, karena sedari awal harapan Calista adalah Anita menikahi paman nya itu mencoba biasa saja.


"Hai, Will!" sapa Carlos.


"Hai," sahut William dan Wilson.


"Aku menyapa Wilson bukan kamu, Will."


"Terserah."


"Papa kemana, An?" tanya Calista melihat Anita hanya diam saja.


Anita berdehem. "Kata papa kamu, sedang berada di luar kota."

__ADS_1


Calista mengangguk paham.


Benarkah?


__ADS_2