Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
58. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Jangan membenci Bunda, nak."


"Tenanglah, yah. Aku bukan membenci, hanya kecewa pada ayah karena begitu mudah menggantikan posisi Ibu di hati dan di rumah. Aku gak suka semua perubahan yang di buat Bunda. Karena itu aku gak pernah pulang ke rumah ayah dan lebih banyak menghabiskan akhir Minggu di rumah Ibu. Ayah tahu, ini gak adil untuk ku."


Dada Fadil semakin sesak mendengar isi hati Mario. Ia pun teringat, terakhir kali bertemu dengan Mario saat dirinya meminta restu di Kafe sebelum menikahi Dewi.


"Bukan kah kamu bilang sibuk latihan bersama Tuan muda?" tanya Fadil karena Mario selalu mengatakan hal itu ketika ia meminta Mario pulang saat akhir Minggu.


"Dan Ayah percaya?" bukan menjawab melainkan balik bertanya. "Ayah pasti tahu bila akhir Minggu, kak Malvyn selalu berada di rumah keluarganya."


Fadil bungkam. Dan mengapa percaya begitu saja? padahal sebelumnya, dirinyalah yang menjemput Mario di asrama ataupun di rumah keluarga Abraham bila terlambat menjemput.


"Awalnya, aku begitu kecewa dan marah pada Ibu karena lebih memilih Tuan Carlos dari pada ayah dan aku. Tapi aku salah," ungkap Mario lagi masih tak ingin menatap Fadil.


Sebenarnya Fadil sudah tak sanggup mendengar ungkapan hati Mario, tetapi saat-saat seperti ini sangat jarang sekali terjadi. Mario adalah pemuda yang tertutup.


"Maksud kamu apa, Mario?" tanya Fadil.


"Aku salah, ayah. Seharusnya aku tak hanya memikirkan perasaanmu, tapi aku juga harus memikirkan perasaan Ibu. Seorang wanita memang butuh hidup berkecukupan, itulah mengapa Ibu lebih memilih Tuan Carlos. Tapi, apakah Ayah tak sadari, dibalik hidup mewah Ibu pasti sempatin untuk berkunjung ke rumah sederhana kita? Ibu masih mengirimi aku uang jajan yang banyak karena sekolah ku adalah sekolah elit?"


"Bukan kah kita sebagai pria apalagi sudah menjadi suami harus bekerja keras mencukupi kehidupan istri?" cerca Mario mengungkapkan rasa kecewanya.


"Tapi ayah gak sanggup, Mario. Kamu tahu sendiri jika ayah mu ini orang yang tak mampu," sanggah Fadil.


Akhirnya Mario menoleh dan tersenyum miring kemudian menatap kearah depan lagi. "Tapi kenapa setelah menikahi istri baru ayah, menerima warisan dari Om Bimo? bukankah sudah sangat lama warisan itu diberikan Om Bimo?"


DEG


Fadil kembali terbungkam. Tidak pernah menyangka bila Mario memerhatikan apapun yang terjadi selama ini.


"Bukankah sebelum menerima warisan itu, kita bisa hidup dengan penghasilan kebun saja? kenapa ayah cepat berpaling hanya karena istri baru ayah memberi perhatian disaat rasa sepi ayah? kenapa ayah justru meninggalkan ibu dan calon adik ku?"

__ADS_1


"Andai ayah tahu, betapa bahagia nyabaku mendengar kabar kalau Ibu berpisah dengan Tuan Carlos dan hamil anak ayah. Aku berpikir, setelah itu kalian akan bersatu dan adik ku memiliki nama belakang Wicaksono bukan sepertiku, Wiguna."


Wiguna adalah nama belakang Bimo. Mario terpaksa diberi nama belakang Wiguna karena pernikahan Fadil dan Nadia hanya pernikahan secara agama.


"Sekarang kamu bisa mengubah nama belakangmu menjadi Wicaksono, Mario." terang Fadil.


"Untuk apalagi aku menggunakan nama belakangmu, ayah? semua percuma bukan? setelah menikahi istri baru ayah menjadi lalai mengurusku."


"Kenapa kamu memojokkan, ayah? bukankah kamu sendiri yang mengijinkan ayah untuk menikah lagi?" Fadil merasa tak terima.


Mario menoleh menatap tajam kearah Fadil


Untuk pertama kalinya pemuda beranjak dewasa itu melawan sang ayah. "Apa waktu itu aku bilang gak ijinkan ayah menikahi dia, ayah akan menuruti permintaan ku?"


Sekali lagi Fadil dibuat bungkam oleh Mario.


"Kenapa ayah selalu mengajak istri baru ayah saat mengunjungi ibuku? apa ayah lupa kalau wanita hamil ingin dimanja begitu juga ibuku? buat apa ayah mengunjungi ibuku tapi ayah hanya merhatikan istri baru ayah dirumah ibuku ini?"


Fadil benar-benar tidak bisa mengeluarkan sepatah kata lagi. Hatinya hancur selaras dengan ungkapan hati sang anak.


"Pergilah, yah. Pergilah dari rumah ibuku sebelum aku benar-benar membenci kalian berdua."


Fadil terperanjat. Ditatap anaknya dari samping. "Kamu mengusir ayah, nak?"


Mario menoleh ke arah Fadil dengan wajah datar lalu mengangguk. "Ini rumah ibuku. Disinilah tempatku pulang. Bukankah ayah sibuk mengurusi istri baru ayah itu dan warisan ayah? dan bukankah waktu ayah selalu ayah habiskan hanya untuk memanjakan dan menuruti kemauan istri baru ayah?" sindir Mario kemudian bangkit melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah meninggalkan Fadil yang termangu.


Ketika hendak mencapai pintu masuk, Mario berpapasan dengan Dewi. Matanya tak seteduh dahulu ketika menatap Dewi sebelum mengetahui jika ibu sambungnya juga hamil dan merebut waktu Fadil.


"Bawalah pulang ayahku pulang. Beliau sedang gak enak badan," ucap Mario kemudian berlalu begitu saja.


Nadia mendengar itu langsung segera menyusul Fadil di gazebo. Tadi, setelah pemakaman, ia langsung istirahat karena kelelahan.

__ADS_1


"Mas," panggil Dewi.


Fadil tak menjawab karena pikiran nya tengah melayang ke masalalu dimana dengan setia menunggu Nadia kembali dan betapa bahagianya ketika Nadia berkunjung ke rumah nya yang sangat sederhana.


Walau ketika datang, Nadia sering sekali mengomel karena Fadil tak ingin merehap rumah sederhananya, atau hanya karena Fadil masih saja memasak untuk anak jalanan itu. Padahal, Nadia sudah menyuruh orang untuk memasak makanan buat anak jalanan itu.


Fadil juga teringat rencana nya dahulu membuat Nadia hamil itu agar kembali padanya. Tetapi kenyataan, ia begitu terlena oleh perhatian Dewi pada anak jalanan yang di asuhnya hingga lebih memilih Dewi dari pada Nadia.


"Mas," panggil Dewi lagi membuat Fadil terperanjat.


"Mas beneran gak enak badan?" tanya Dewi khawatir.


Susah payah Fadil menyembunyikan perasaan nya. "Siapa yang kasih tahu kamu?"


"Mario. Dia memintaku untuk membawa mas pulang."


Fadil menghela nafas panjang. "Ya. Ayo kita pulang."


"Tapi, apa Mario tak apa ditinggal sendiri?"


Fadil mengangguk tanpa menjawab lagi. Dadanya sesak masih teringat setiap kalimat yang tercurah dari mulut Mario, anaknya.


Fadil dan Dewi pulang dengan taksi yang sudah di pesankan oleh Mario. Dan hal itu semakin membuat Fadil gundah.


Di sepanjang jalan, Fadil hanya diam saja. Hal itu tak luput dari perhatian Dewi.


Maafin aku, Nad. Maaf jika semua yang dikatakan anak kita benar, tolong maafin aku yang gak bisa sabar menunggumu sedikit lagi waktu itu. Maaf kalau aku lalai merawatmu. Benarkah kamu masih mencintaiku?


Fadil langsung menatap ke arah luar jendela ketika air mata dan hujan turun bersamaan. Berulang kali mengedipkan mata agar air mata tak jadi menetes lebih deras lagi.


Maaf.

__ADS_1


__ADS_2