
"Kamu gak apa aku tinggal sendiri?" tanya Anita.
Calista dan Anita tengah berada di Apartemen dan sudah menginap hampir seminggu disana namun Carlos belum ada datang sekali pun.
"Iya gak apa-apa. Om Carlos juga sudah kirim pesan mau kesini," sahut Calista bohong. Nyatanya nomor Carlos tak aktif, hanya satu pesan yang di kirim untuknya keesokan hari setelah Calista mendatangi rumah Fadil bersama Bimo.
Om Carl :
Calista, maaf. Aku harus adil pada kalian. Aku memutuskan seminggu sekali mengunjungi kalian dan dalam Minggu ini adalah giliran Nadia. Sampai bertemu Minggu depan.
Usai kepergian Anita, Calista kembali masuk kamar. Dengan sengaja berdiri di balkon agar dapat menikmati gerimis.
Wajahnya menengadah dengan mata terpejam. Setiap tetesan halus menerpa kulit hingga tanpa terasa, air matanya tak dapat terbendung lagi.
Awal hanya derai air mata dalam diam, tetapi sesak di dada semakin menjadi hingga tak mampu menahan isak tangis itu.
Tubuh Calista luruh ke lantai dengan kaki di tekuk. Ia memeluk erat tubuhnya sendiri disertai gerimis telah berganti dengan guyuran hujan bersamaan tangisnya semakin pecah.
Calista menyesali keputusan awal meminta Carlos untuk menikahinya.
Calista menyesali telah berniat jahat.
Calista menyesal telah mempermainkan pernikahan.
Calista menyesal telah mempermainkan hati hingga dirinyalah yang telah jatuh hati.
Kini, ia menyadari ucapan Mami Ivy benar-benar terjadi padanya.
Dan lihat, mental Calista belum cukup kuat untuk menghadapi Nadia yang licik dan serakah.
Di bawah guyuran hujan, tubuh Calista mulai melemah dan memilih merebahkan tubuhnya karena sudah tak sanggup untuk bangkit dan masuk ke dalam rumah.
Hingga semua menjadi gelap seiring mata Calista tertutup perlahan.
...****...
BUGH
BUGH
"Kau lihat Carlos?"
"Kau lihat gadis malang itu, Hah?" teriak Bimo pada Carlos yang telah tersungkur dilantai akibat dua bogeman darinya.
__ADS_1
Karena merasa geram dan tak puas menghajar Carlos, Bimo mendekati Carlos langsung menarik kerah kemeja pria itu lalu menarik tubuh yang notabane adalah bos nya itu mendekati ranjang dimana Calista tergeletak tak sadarkan diri.
"Bagaimana bisa kau menjadi pria bajingan seperti ini, Carlos Martinez? Bagaimana bisa kamu membiarkan istri yang sedang mengandung anakmu, kamu biarkan tanpa kabar sedikitpun?" Bimo menghempas Carlos dengan kasar.
Ya, beberapa saat lalu Bimo menghubungi Calista sekedar bertanya kabar atau menanyakan apakah Carlos sudah bisa dihubungi atau belum.
Panggilan telepon tersambung tetapi tak juga di angkat. Dihubungi Anita karena tahu sahabat wanita muda itu yang menemani mengatakan jika Calista berada di Apartemen.
Karena merasa cemas, akhirnya Bimo datang ke Apartemen ini untuk memastikan bahwa Calista baik-baik saja. Tetapi, betapa terkejutnya mendapati Calista tak sadarkan diri, basah kuyu di balkon.
"Calista yang seharusnya masih asyik bermain dengan teman-temannya, lihat dia sekarang. Harus mengandung dan menjadi istri simpanan bahkan kau gak adil."
"Bagaimana bisa kau lupa kalau Calista pernah mencoba bunuh diri karena perlakuanmu?"
Carlos hanya diam saja merasa bersalah.
"Kenapa kau lebih mengutamakan istri pertama mu ketimbang Calista?"
Tatapan mereka bertemu.
"Aku gak mungkin mengabaikan Nadia. Gimana pun aku bersalah sudah menduakan nya."
"Dan mengabaikan istri yang hamil muda?"
"Jangan sentuh anakku," sentak Ivy baru saja memasuki kamar Apartemen tersebut.
Kedua pria itu tersentak langsung menoleh ke arah pintu. Ivy berjalan dengan langkah cepat diikuti beberapa orang berpakaian dinas berwarna putih mendorong brankar Rumah Sakit, ia menepis tangan Carlos dengan wajah dingin.
"Bawa anak saya. Hati-hati, dia lagi hamil!" ucap Ivy tanpa menghiraukan Orang yang berada di dalam kamar itu.
"Ivy, mau kamu bawa kemana istriku?" tanya Carlos panik.
Ivy menatap Carlos dengan tajam lalu mendekati pria itu. Satu tamparan melayang di pipi Carlos.
"Jangan sebut anakku adalah istrimu, Carlos Martinez."
Perih di ujung bibirnya bertambah perih akibat tamparan tersebut. "Aku tahu aku yang salah. Tapi tolong jangan pisahkan aku dengan istri dan anak ku," Carlos berlutut di kaki Ivy yang masih diliputi amarah.
"Kenapa kamu memohon? bukankah selama ini kamu mengabaikan nya? kenapa harus anakku yang kamu abaikan?"
"Apa hanya karena tangisan palsu Nadia, kamu kembali luluh dan mengabaikan anakku yang sedang mengandung? kenapa kamu menutup mata saat anakku memberi jalan agar kamu setidaknya curiga dan menyelidiki istri tercintamu? tapi kenyataan nya justru kebalikannya, kamu justru mengabaikan anakku yang sama sekali gak pernah ingin menjadi istrimu."
Setelah mengatakan itu, Ivy dan beberapa orang dari pihak kesehatan membawa Ivy yang masih tak sadarkan diri dengan Carlos yang terus mengejar dan mengiba agar Calista tak di bawa pergi.
__ADS_1
Sedang Bimo hanya bisa diam termangu melihat setiap kejadian tadi.
...****...
Ivy ikut masuk ke dalam mobil ambulance dan menggenggam tangan Calista. Betapa terkejutnya saat mendapat kabar jika Calista tak sadarkan lagi.
Beruntung Edzard sedang berada di luar kota untuk perjalanan bisnis sehingga dengan mudah membawa Calista kembali ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Calista langsung ditangani Dokter.
"Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Ivy setelah melihat Dokter keluar dari ruangan.
Dokter tersebut menghela nafas panjang. Lalu meminta Ivy ikut ke ruangannya.
"Tolong. Jauhkan Calista dari hal-hal yang membuatnya setres. Kita tahu Calista pernah mencoba bunuh diri dan pernah dirawat karena setres. Jangan sampai terulang lagi. Jika tidak, maka kandungan nya tak bisa di tolong. Kamu tahu kalau usia kandungan Calista masih rentan keguguran," ucap sang Dokter.
"Baik, Dok."
Ivy keluar dari ruangan Dokter langsung menuju ruang rawat inap dimana Calista telah dipindahkan.
Ia juga menelepon orang suruhan nya untuk berjaga di sekitar agar Carlos tak menemui Calista untuk sementara waktu.
...****...
Di Apartemen. Carlos mengamuk karena dirinya sendiri. Kamar tersebut telah berubah seperti kapal pecah dan Bimo hanya menonton saja.
Ucapan Ivy barusan telah mengganggu pikiran nya. Dan merutuki betapa bodoh dirinya tak pernah bisa adil pada Calista yang seharusnya istri kecilnya itu menjadi prioritas nya bukan lagi Nadia.
Apalagi di kepala nya saat ini memikirkan ucapan Ivy bahwa Calista memberi jalan untuk mencurigai Nadia.
Memang, saat mengajak Nadia menikah tak pernah sekalipun ia mencari tahu masalalu Nadia karena merasa kelemah lembutan yang ditonjolkan Nadia mampu diartikan bahwa istri pertama nya itu adalah wanita baik-baik.
Carlos duduk di tepi ranjang sembari menarik rambutnya karena frustasi.
"Kemana istriku, Bim?"
"Istri yang mana?" tanya Bimo balik dengan dingin.
Carlos menoleh menyadari bahwa Asisten Pribadi nya masih marah. "Keduanya."
"Istri kedua yang terabaikan ada di Rumah Sakit dan istri pertama yang tercinta ada di pinggiran kota Jakarta gak jauh dari saat anda bersama istri kedua yang anda abaikan berada Minggu lalu."
"Ngapain Nadia kesana lagi? memangnya ada hiburan apa disana?"
__ADS_1
❤️