Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
53. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Siang itu, seperti biasa Calista dan Anita akan jalan berdua menuju parkiran. Anita sudah bercerita bila sekarang bekerja di rumah William sebagai pelayan. Padahal, ia sendiri belum tahu bekerja sebagai apa. Dan ia


Sesampainya di parkiran, Calista menghentikan langkahnya karena melihat seseorang yang sangat dikenalinya, Leon.


Leon mendekat ke arah Calista dan itu membuatnya membeku. "Kak Leon," gumamnya menunduk tak sanggup menatap mata Leon.


"Hai, Calt."


Calista memaksa senyum. "Aku duluan, kak. Sopirku sudah menunggu," Calista tak ingin pertemuan mereka menjadi masalah ke depan nya.


"Aku ingin bicara padamu, Calt. Sopirmu sudah aku suruh pulang," tutur Leon membuat Calista melotot.


"Kenapa kakak suruh pulang? lalu aku pulangnya gimana? kalau mau bicara gak harus suruh pulang sopirku, kak."


Calista kesal karena Leon melakukan sesuatu menyangkut dirinya tanpa izin. Mau bagaimanapun ia sudah bersuami dan antara dirinya serta Leon pernah menjalin kasih.


Tiba-tiba Leon menarik tangan Calista. "Kak, aku pelan-pelan."


Calista masuk ke dalam mobil, begitu juga Leon baru saja duduk di kursi belakang kemudi.


Leon membawa Calista kesebuah Coffee Shop tidak jauh dari Kampus. Dengan gelisah Calista berjalan di belakang Leon.


Keduanya masuk dan duduk berhadapan di dalam Coffee Shop tersebut. Memiliki desain monokrom dengan banyak quotes menjadikan tampil kekinian.


Calista duduk dengan perasaan gelisah. Ini pertama kali baginya pergi tanpa izin dalam keadaan ponsel mati karena kehabisan baterai.


"Aku harus pulang," ucap Calista beranjak tetapi ditahan oleh Leon.


"Aku hanya ingin berbincang dengan mu sebentar."


Calista menarik tangan dari atas meja yang baru saja di genggam Leon.


"Apa kamu bahagia?" tanya Leon membuat Calista menatapnya.


Calista mengangguk cepat. "Sangat. Aku sangat bahagia. Apalagi sekarang kami akan punya anak," terang Calista tersenyum seraya mengelus perutnya.


Leon melirik kearah perut Calista. Sungguh hatinya belum rela melepasnya.


"Aku merindukanmu, Calt. Sampai sekarang aku belum bisa menerima perjodohan ini," ujar Leon menatap dalam mata Calista yang jug menatap nya.


Calista tersenyum. "Maaf kak. Karena kesalahanku buat kakak gini. Tapi belajarlah buka hati untuk adikku. Memang cinta gak bisa dipaksa, sama persis kayak aku dan suamiku. Awal nya kami gak saling cinta, tapi sekarang kami saling sayang dan mencintai.*


Calista bangkit hendak pergi karena baginya ini sudah terlalu lama bersama Leon. "Aku harus pergi, kak. Salam buat ayah dan bunda. Sekali lagi maafin aku dan coba terima Malya. Bukankah masih lama pernikahan kalian? cobalah untuk mengenalnya."

__ADS_1


Calista benar-benar pergi dari sana walau Leon memanggil namanya untuk memberi tawaran mengantarnya pulang.


...----------------...


Carlos pulang ke rumah dengan kobaran amarah yang membuncah. Tidak menyangka bila Calista akan pergi bersama Leon yang diketahui adalah kekasih istrinya sebelum mereka menikah.


Melihat rumah tidak ada istrinya semakin membuat nya semakin menjadi. Barang perabot pun menjadi pelampiasan. Sudah dua jam menunggu istrinya tak kunjung pulang.


Pikiran negatif mulai memenuhi pikiran. Bagaimana jika Calista pergi meninggalkannya dan lebih memilih bersama Leon?


Ia tahu betul bila Leon masih belum bisa melupakan istrinya. "Aarrgghh..."


Prang


Prang


Prang


Carlos tak perduli barang-barang dan para pelayan juga penjaga menjadi ketakutan karenanya.


Padahal, rencana nya siang tadi Carlos ingin mengajak Calista merayakan perceraian nya bersama Nadia dan membicarakan kapan istrinya itu siap untuk dipublikasikan.


Ia sudah tak sabar mengenalkan Calista pada dunia bahwa hanya Calista lah wanita yang dicintanya.


Carlos balik badan setelah mendengar decitan pintu. Matanya nyalang menatap Calista yang belum menyadari dirinya menatap kearah istrinya itu.


Ya, Calista sibuk melihat lantai yang sudah penuh dengan pecahan dari perabot rumahnya.


"Puas jalan bersama mantan?" sentak Carlos mengagetkan Calista.


Tatapan keduanya bertemu. Rahang Carlos mengeras dan semakin kokoh, hingga urat leher timbul disana, matanya nyalang menandakan emosinya sudah berada di ubun-ubun.


Calista menyadari amarah Carlos. Bahkan ini adalah kali pertama melihat suaminya semarah ini, terakhir Carlos marah juga berakhir di ranjang.


Mendengar pertanyaan Carlos, ia sadar bahwa ini kesalahan nya.


"Jawab aku, Calista!" sentak Carlos lagi.


Calista tak berani menjawab. Ia menunduk menatap lantai marmer putih yang sudah berlapis serpihan kaca. Beruntung ia masih mengenakan sepatu sneakers yang dikenakannya sedari tadi pagi.


Carlos semakin geram melihat reaksi Calista hanya diam saja. Di raup wajahnya dengan kasar. Teringat kembali betapa lamanya menunggu Calista, justru pesan yang diterima bahkan potret yang disuguhkan anak buahnya dimana Calista sedang bersama Leon membuatnya semakin emosi.


"Aarrgghh.," erang nya lalu menghancurkan perabot kembali.

__ADS_1


"Pergilah ke kamar," titahnya dan Calista menuruti. Justru semakin membuat Carlos kesal.


Aku marah begini bukan dibujuk.


Di dalam kamar. Calista tak tenang memikirkan Carlos. Ia berjalan mondar mandir di balik pintu menunggu Carlos masuk ke dalam kamar.


Hingga tengah malam Carlos belum juga kembali membuatnya lelah menunggu, akhirnya memilih tidur lebih dahulu.


...---------------...


Pagi hari Calista bangun tak mendapati Carlos disampingnya, bahkan sisi ranjang biasa tempat suaminya tidur terasa begitu dingin.


"Apa Om Carlos gak tidur dikamar?" tanya Calista pada diri sendiri.


Calista pun beringsut turun dari ranjang menuju kamar mandi buat bersihkan diri.


Calista sudah tampak rapi menuruni tangga menuju ruang makan. Dahi nyabberkerut melihat meja makan itu kosong. Lalu melirik arloji di pergelangan tangan masih menunjukkan waktu sarapan Carlos.


"Mbok. Suamiku kemana?" tanya Calista saat Mbok Iyem menyajikan sarapan untuknya.


"Tuan sudah pergi pagi-pagi sekali, Nya."


Calista menghela nafas berat. Ternyata Carlos masih marah padanya. Hatinya menjadi sakit karena tak mendapat perhatian dan tak melihat suaminya semenjak tidur.


...----------------...


Seusai pulang kuliah, Calista meminta sopir agar mengantarnya ke Kantor Carlos. Ingin sekali bertemu dan meminta maaf pada suaminya.


Rasanya, tak mendengar ataupun mendapat pesan dari Carlos membuatnya tak bersemangat menjalani hari.


Senyuman nya mengembang melihat gedung Perusahaan Carlos yang menjulang tinggi. Tangan nya terulur secara naluriah mengelus perut Calista yang sudah mulai buncit.


"Kita akan bertemu, Papi!" cicit Calista kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam Lobby lalu masuk ke dalam lift menuju lantai teratas.


Sesampainya disana Calista bertemu dengan Bimo. "Om. Suamiku di dalam?" tanya Calista.


Bimo tampak salah tingkah. "Tuan sedang keluar," terang nya.


"Rapat ya, Om? aku nunggu di dalam, ya. Pinggang ku mulai pegal dari tadi banyak jalan.


"Jangan. Tuan berpesan gak ingin diganggu. Maaf, Calt." wajah Bimo tampak tak enak hati pada Calista.


Calista menghela nafas berat. "Suamiku masih marah. Aku pulang, Om."

__ADS_1


__ADS_2