Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
83. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Sedari pagi senyuman Wildan tidak luntur. Hal itu sangat di perhatikan oleh Calista. "Papa kok senyum-senyum terus?"


Wildan menoleh kearah Calista. "Malam nanti, papa akan kencan dengan calon istri papa."


Calista tampak senang melihat sang papa sudah mendapatkan pengganti almarhum mama nya.


"Apa dia wanita cantik?" tanya Calista dan di angguki oleh Wildan.


"Dia sangat sederhana. Apakah kamu gak masalah kalau dia bukan dari kalangan seperti kita?"


"Asal dia wanita baik-baik dan menerima papa juga aku," kata Calista langsung mendapat pelukan dari Wildan.


Dikecup pucuk kepala Calista lembut. "Pasti kalian akan akur dan saling menyayangi. Papa sudah melihat latar belakangnya,"


Calista mengangguk menikmati pelukan dari sang papa, orang yang selama ini ingin dijumpainya.


Carlos kesal melihat pemandangan yang mengharu kan itu. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, mereka telah bersiap untuk segera pulang.


"Sayang," panggil Carlos membuat ayah dan anak itu menoleh ke arah sumber suara.


Calista tahu bila sang suami sedang cemburu langsung mengurai pelukan. "Ayo kita segera pulang."


Kedua pria dewasa itu mengiyakan. Semua urusan administrasi telah diurus oleh Bimo namun tak dapat menjemput karena harus menggantikan Carlos di berbagai pertemuan.


"Om. Papa malam nanti mau kencan," kata Calista setelah mereka berada di dalam mobil.


Wildan mendengar anaknya mengadu pada suami yang notabane adalah tak jauh dengan usia nya menahan malu.


Carlos berdecak. "Aku kira itu mu sudah tak berfungsi semenjak tak bertemu Anabell," cemooh nya membuat Calista menimpuk lengannya.


"Gak boleh begitu, Om."


"Iya."


...----------------...

__ADS_1


Setelah makan siang di rumah Carlos, Wildan kembali ke apartemen hendak bersiap kencan bersama Anita.


Bak seorang pemuda yang hendak berkencan pada umum nya. Hati nya berbunga menatap layar ponsel tertera nama Anita disana.


Ternyata, gadis itu meminta dijemput lebih awal karena William pergi ke luar kota bersama Wilson.


Wildan menaruh ponsel nya kembali ke atas nakas kemudian berjalan menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi.


Beberapa saat kemudian, Wildan keluar dari kamar mandi menuju lemari. Tangan nya terulur mencari pakaian mana yang cocok buat kencan dengan Anita.


Wildan mendengus melihat semua pakaian nya terkesan dewasa. "Apa Anita juga sama seperti anakku yang lebih suka melihat Carlos sesuai umur? gimana kalau Anita malu punya pacar tua sepertiku?" gumam nya menjadi tak percaya diri.


"Ternyata begini yang dirasakan Carlos," imbuh nya lagi.


Di tutup lemari kemudian berjalan menuju nakas, mengambil ponsel dan menghubungi Carlos.


"Kamu dimana?"


"Di kamar."


"Apa ada Calista?" tanya Wildan sedikit berbisik.


Mata Wildan melotot mendengar ucapan Carlos tanpa di filter lebih dahulu. Menantu nya itu berbicara seperti pada teman bukan pada mertua.


"Aku ingin bicara padamu," ucap Wildan lalu menghela nafas panjang karena sudah di serang rasa malu.


"Bicara apa? kalau pekerjaan, besok saja. Aku masih sakit."


Wildan berdecak juga ingin memaki. Tetapi urung karena ia membutuhkan Carlos saat ini.


"Carl. Kencan dengan seorang gadis belia, gimana?"


Hening.


Wildan tidak mendapat sahutan apapun dari seberang telepon hingga akhirnya Wildan dikejutkan oleh suara tawa yang menggelegar.

__ADS_1


"Wah.. Pedofil juga papa mertua?"


Setelah Carlos bertanya seperti itu dan kembali menertawakan nya, Wildan menutup sambungan telepon. Perasaan nya menjadi kesal pada sang menantu.


Karena tak mendapat apapun, Wildan duduk di tepi ranjang kemudian berselancar pada dunia maya.


Di cari outfit yang cocok untuk berkencan dengan gadis 19 tahun. "Kesan nya aneh menurutku," komen nya melihat beberapa outfit anak muda zaman sekarang.


Merasa tak ada yang cocok, Wildan memakai pakaian seadanya. Di pilihnya kemeja biru muda dan celana jeans berwarna lebih tua dari kemeja nya.


Menyisir dan menata rambut sudah, parfum juga sudah. Wildan tersenyum menatap dirinya dari pantulan cermin.


"Bella. Kamu pasti tenang disana melihat aku dan Calista telah bertemu. Hari ini aku akan memulai kebahagiaan ku setelah kamu pergi," gumam Wildan sesaat mengingat almarhum mantan istri siri nya itu.


Wildan keluar dari apartemen menuju basement. Masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Di pertengahan jalan, ia singgah ke toko bunga dan membeli satu buket bunga mawar buat Anita.


Di lakukan kembali mobil nya menuju kediaman William. Beberapa waktu kemudian, mobilnya sudah berhenti dan Anita langsung mendekati lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Maaf lama, An."


Wildan memberikan sebuket mawar merah pada Anita lalu diterima. Anita menghirup aroma bunga mawar merah itu dengan senyum merekah.


"Kita jalan sekarang?" tanya Wildan.


Anita tersenyum lalu mengangguk. "Kita mau kemana?" tanyanya.


"Aku gak tahu. Kan aku sudah sangat lama gak kemana-mana, selama ini hanya fokus pada pengobatan saja."


"Kita masak sendiri saja, yuk. Aku sudah lama gak masak."


Wildan mengangguk setuju. Akhirnya Wildan menghentikan mobil tepat di parkiran supermarket."


Keduanya turun langsung masuk dan memilih bahan makanan yang hendak di masak. Senyum keduanya terus tercetak indah.

__ADS_1


Selesai berbelanja, Keduanya masuk ke dalam mobil dan melajukan menuju alamat apartemen Wildan.


"Kamu cantik," bisik Wildan setelah mereka masuk ke dalam lift.


__ADS_2