Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
22. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Honey," panggil Nadia melihat Carlos tersenyum hendak masuk ke ruang kerja suaminya itu.


Carlos tampak terkejut lalu menoleh ke arah berlawanan. Melihat apakah Calista sudah masuk ke dalam lift atau belum. Ya, tadi Calista ikut mengantarnya dan jika Nadia datang lebih cepat dari ini makan bisa melihat Carlos memberikan kartu sakti pada Calista.


"Ada apa?" tanya Carlos dingin setiba masuk ke ruang kerja.


"Ayo nanti malam kita ke Hotel. Sudah lama sekali kita tidak bercinta."


"Kamu mengajakku ke Hotel seperti gak punya kesalahan padaku," tolak Carlos.


...***...


Di tempat lain. Lebih tepat di rumah Anita. Calista tengah rebahan sembari memainkan ponsel.


Izin ingin ke salon tidak dilaksanakan Calista karena sudah tahu bila Carlos sedang bersama Nadia sejak pagi hingga siang ini.


Bagaimana Calista tahu? pastinya ia sudah bekerjasama dengan Bimo. Bahkan kebiasaan Nadia, Bimo lah yang memberitahukan semua nya.


"Gue nginep, ya."


Anita menoleh kemudian melengos. "Ogah. Kamu istri orang," tolak Anita membuat Calista cemberut.


"Pelit," umpat Calista.


"Bukan pelit. Kan kamu juga tahu kalau suami mu itu punya istri lain, kenapa kamu sewot? sudah jatuh cinta ya sama Om ganteng?"


Calista terdiam. Benar yang dikatakan Anita. Kenapa dia harus marah tadi? bukankah seharusnya iaenjadi tahu jika Carlos masih berpihak pada Nadia dan ia belum berhasil memenangkan hati Carlos?


Hatinya mulai bimbang bila nanti rencananya berhasil, akankah sanggup meninggalkan pria baik seperti Carlos?


Calista pun memilih bangkit dan pamit pulang. Bukan langsung pulang, Calista pergi ke pusat perbelanjaan.


Calista masuk ke toko khusus kebutuhan wanita. Senyuman nya mengembang melihat sepasang dalaman yang menurutnya sangat cantik.


Setelah puas berbelanja menggunakan kartu sakti pemberian Carlos, Calista menuju salon kecantikan terkenal di Jakarta.


"Mbak, pijat nya bisa duduk nggak?" tanya Calista.


"Memang kenapa kalau telungkup?"


"Aku hamil," jelas Calista baru di setujui pihak salon.


...****...


Walau setengah hati sudah berpaling, Carlos tak mungkin mengabaikan Nadia begitu saja. Apalagi jika sudah melihat Nadia menangis maka menjadi tak tega.


"Aku tahu banyak salah padamu, Carl!" ucap Nadia terisak.


"Sering sekali aku menyakitimu jika sedang marah. Aku begitu khawatir karena kamu gak ada kasih kabar."

__ADS_1


Ucapan Nadia membuat Carlos merasa bersalah karena melupakan Nadia bila sudah berada di dekat istri kecilnya.


Setelah tangis Nadia reda, Carlos harus menahan nafas karena Nadia kembali menggoda nya.


Di gendong tubuh Nadia ala bridal style ke dalam kamar pribadinya. Sekuat tenaga Carlos tidak mencium bibir Nadia. Mengawali dari leher, bahu, turun ke tempat-tempat kesukaan nya yang membuat Nadia mende sah.


Hingga kini Carlos mengingat bahwa malam nanti akan melakukan ritual malam pertama bersama istri kecilnya. Tetapi, ketika mulai menjelajahi rawa-rawa yg ditumbuhi semak belukar gerakan nya terhenti akibat banjir bandang yang datang sebulan sekali.


"Kamu sedang datang bulan, Nad!" cicit Carlos menghentikan aksinya.


Andai saja Nadia tahu isi hati Carlos saat ini adalah tengah bersorak gembira karena tak jadi memberi nafkah batin untuk istri pertamanya. Sejujurnya ia tak berkeinginan melakukan itu.


"Benarkah? maafin aku," ucap Nadia lirih.


Carlos menyelimuti tubuh Nadia. "Tak apa, kita bisa melakukan lain waktu. Istirahatlah, aku harus bekerja. Nanti Office Girl akan bawakan pembalut."


Nadia mengangguk lalu merutuki diri karena tidak bisa memberi kehangat padahal hubungan mereka sedang tidak sehangat dahulu.


...****...


Carlos keluar kamar seraya mengancing baju kemeja nya lalu kembali duduk memeriksa beberapa berkas yang harus ia tanda tangani.


Ia tersentak ketika suara ponsel khusus untuk Calista berdering. Kepalanya celingkan dan menatap pintu kamar dimana Nadia berada.


Dengan hati-hati membuka ponsel tersebut. Matanya terbelalak lalu menelan saliva dengan kasar. Seketika junior yang sudah lama berpuasa kini berdiri tegak.


Bagaimana tidak, istri kecilnya itu mengirim foto sedang berpose di pinggir kolam renang.



Istri Muda : Kemarilah. Kita berenang bersama.


Carlos membaca pesan Calista. "Sial. Aku harus menuntaskan, Junior."


Carlos keluar ruangan berpapasan dengan Bimo. Ia pun menyampaikan bahwa ingin ke hotel dimana Calista berada dan meminta Bimo membuat alasan apapun agar Nadia tak curiga.


Di dalam mobil, Carlos sudah membayangkan pergulatan panas bersama Calista. Apalagi dirinya kembali mengingat lekuk tubuh Calista yang sek si alami sesuai dengan usia yang masih sangat muda.


Carlos melirik spion tengah melihat wajah dan penampilan nya. "Aku belum terlalu tua untuk bersanding dengan Calista."


Beberapa saat kemudian, mobil Carlos telah sampai dan ia keluar terburu-buru menuju kolam renang yang ada di hotel.


Calista tersenyum melihat Carlos sudah berada disana dengan nafas memburu. "Kenapa lari-lari?" tanya Calista mendekati Carlos lalu berjinjit mengusap keringat di kening Carlos.


Tau apa yang di rasakan Carlos? ia menahan nafas saat kulit keduanya bersentuhan. Keinginan segera bersatu tak dapat terbendung lagi.


Carlos menunduk menangkup wajah Calista. Tanpa bicara, ia melahap bibir merah istri kecilnya itu.


"Jangan memakai ini kalau gak ada aku, yang!" ucap Carlos posesif membuat Calista tertawa.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi aku cantik kan?"


Carlos mengangguk cepat kemudian kembali menikmati bibir Calista. Keduanya saling melu mat, menghisap, dan berpagut mesra.


Carlos mengangkat tubuh Calista dengan hati-hati. "Kamu mau dimana melakukan nya?" tanya Carlos dengan suara berat.


"Ini masih siang, Om!"


"Nanti malam lagi. Aku mohon," wajah Carlos berubah menjadi menyedihkan.


Calista diam saja. Ia berani mengirim foto keadaan nya sekarang itu hanya karena mendapat informasi bila salah satu office girl membeli pembalut atas perintah Carlos.


"Tapi hati-hati, ya."


Senyum terukir di wajah tampan Carlos, mendengar izin Calista membuatnya mengangguk cepat. Ia pun membuka semua pakaian menyisakan boxer yang dikenakan. "Iya. Kamar kamu dimana?" tanya Carlos.


Calista menarik leher Carlos lalu membisikkan sesuatu. "Aku ingin melakukan nya di alam terbuka. Kolam renan ini sudah aku booking khusus untuk kita," bisik Calista membuat Carlos merinding.


Mata Carlos terbuka lebar. Ia menatap Calista dengan rasa terkejut yang belum juga hilang. "Kamu yakin? gak malu?" tanya Carlos memastikan.


Calista menggeleng. "Aku suka yang menantang adrenalin, suamiku!"


Tanpa berkomentar, Carlos membawa Calista masuk ke dalam kolam renang dan menurunkan tepat di sudut kolam. Ia dudukkan Calista di pinggir kolam agar mudah untuknya menjajahi tubuh putih mulus sang istri kecil.


Bermula dari kecupan di kening, kedua mata, kedua pipi, hidung, dan terakhir bibir merah Calista. Perlakuan lembut dan perlahan dilakukan agar membuat Calista nyaman atas perlakuan nya.


Ini tidak pernah dilakukan Carlos pada Nadia.


"Terimakasih," ucap Carlos tulus seraya menikmati bibir lalu turun pada leher. Menciptakan jejak-jejak percintaan yang tak akan terlupakan bagi keduanya.


Membuka pelindung dua payu dara yang membusung tegak dihadapan Carlos membuat tak sabar ingin dilahap habis olehnya. Sedang Calista merasakan sentuhan berbeda dari malam kejadia lalu yang tergesa dan memaksa. Ini lebih dari kata lembut, Calista merasakan cinta Carlos.


Puas dengan dua payu dara, Carlos beralih pada perut seraya mengelus milik Calista yang masih terbungkus rapi oleh kemasan yang membuatnya semakin menginginkan.


Calista tak dapat berkata-kata selain mengeluarkan suara mendayu yang mengalun indah di telinga Carlos.


"Aku buka, ya!" izin Carlos mendongak menatap wajah Calista yang sudah berhasrat.


Calista hanya mengangguk. Carlos berhasil membuka benda pelindung milik Calista. Di buka lebar kedua paha Calista lalu memandangi milik Calista. "Bentuk dan warna nya cantik. Aku suka," puji Carlos lalu menjilat permukaan milik Calista membuat sang empu mengerang seraya meremas rambut sang pelaku alias suaminya.


"Om Carlos," pekik Calista.


"Panggil namaku kayak gitu, sayang. Aku suka," ucap Carlos langsung dituruti Calista.


Saat Carlos hendak naik ke pinggir kolam, Calista menghentikan. Justru ia ikut masuk ke dalam kolam renang lalu menenggelamkan diri meraih junior Carlos dan memainkannya.


Sedang Carlos mengerang hebat. Dengan kedua tangan berada di pinggiran kolam dan wajah mendongak kenikmatan.


Merasa sudah tak tahan, Carlos membawa Calista ke pinggir kolam dan melakukan penyatuan yang panas dan menantan adrenalin keduanya.

__ADS_1


"Kamu sangat nikmat, Calista."



__ADS_2