
Anita memasak dan tersenyum tak luntur. Baginya, melihat tingkah Wildan sangat lucu karena sangat nampak jika pria matang itu tengah grogi berada di dekatnya.
Yang membuat Anita menyukai Wildan adalah perjuangan pria itu untuk sembuh dan kesetiaan terhadap ibu kandung Calista.
Bukankah kesetiaan adalah kunci sebuah hubungan?
"Sini biar Om bawa ke meja makan," kata Wildan ketika Anita telah selesai menaruh masakan ke atas piring.
Anita tersenyum dan mengangguk. Keduanya duduk saling berhadapan. Ia dengan sigap mengambil alih piring Wildan lalu mengisi dengan makanan.
Wildan merasa terharu atas perlakuan Anita. Digenggam tangan Anita setalah gadis itu duduk di seberangnya.
"Aku gak ingin berlama-lama berhubungan sepertimu ini, aku ingin kita segera menikah."
Anita terkejut atas ucapan yang baru saja dikatakan Wildan. Ia menelan saliva dengan kasar.
"Tapi.."
Wildan menatap mata Anita dalam-dalam. "Apa kamu gak mau menikah sama Om?"
Anita yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Diselipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Tapi gimana dengan Calista, Om?"
"Kita berjuang bersama agar Calista merestui hubungan kita. Apa kamu mau berjuang bersama, Om?"
Anita mengangguk malu. Usai membicarakan hal itu, keduanya makan dengan lahap. Wildan tak henti-hentinya memuji masakan Anita yang sangat enak baginya.
Setelah makan malam bersama, Wildan mengajak Anita berkeliling kota. Gadis itu tidak ingin mengunjungi tempat apapun dan Wildan tak memaksa itu.
Wildan mengantar Anita pulang ke rumah William. "William sudah kembali," gumamnya masih terdengar oleh Anita.
Tetapi, keduanya tercengang ketika para pelayan membawa banyak koper keluar rumah dan dimasukkan ke dalam mobil.
Dengan cepat Wildan dan Anita keluar dari mobil. Di dekati William yang tengah merangkul Wilson.
"Will. Apa-apaan ini?" tanya Wildan.
William menatap Wildan dan Anita bergantian lalu tersenyum. "Aku dan Wilson akan pindah ke Inggris."
Wildan dan Anita terkejut mendengarnya. Wildan maju selangkah mendekati William. "Apa ini ada hubungan nya dengan hubungan kami?" tanya Wildan merasa bersalah.
William terkekeh kemudian menepuk pundak sang kakak. "Bukan. Ada proyek besar disana. Aku baik-baik saja tentang hubungan kalian. Aku tunggu undangan pernikahan kalian," ucapnya kemudian beralih menatap Anita.
"An. Aku titip kakak ku, jaga dia."
Anita mengangguk lemah. Kemudian ia bersimpuh dihadapan Wilson. Dikecup seluruh wajah anak laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Kamu jangan nakal disana," ucap Anita dan di angguki oleh Wilson.
"Jangan diam saja saat bersama pengasuh yang baru. Katakan apa yang kamu inginkan."
"Boleh kakak memelukmu?" tanya Anita dan Wilson langsung memeluknya.
Anita terpejam menikmati pelukan anak laki-laki tersebut karena mereka sudah dekat. Air mata Anita meluncur begitu saja saat itu.
"Wil. Ayo kita berangkat," kata William mengajak Wilson.
Anita berdiri kembali.
William memeluk Wildan kemudian berhadapan dengan Anita. Dan Anita langsung memeluk William.
"Jangan main wanita lagi, Om. Kasihan Wilson."
William mengurai pelukan kemudian mengangguk.
"Kami berangkat," kata William kemudian mengajak Wilson agar masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil William hilang di balik pagar rumah, Wildan pamit pada Anita untuk pulang.
*
William hanya diam membisu sepanjang perjalanan menuju Bandara. Ia sudah bertekad pindah karena tak ingin hidup diantara Wildan dan Anita.
Hingga saat Wildan mengetahui bila Anabella pergi karena ulang orang tua mereka dan mengalami kecelakaan.
Ia tahu betul perjuangan Wildan agar tetap hidup demi bertemu dengan Anabella. Tetapi kenyataan yang diterima tidak membuat Wildan kembali semangat.
Beruntung William bertemu dengan Calista, keponakan nya yang begitu mirip dengan wajah Anabella.
Semoga kalian berbahagia.
*
*
Keesok hari. Wildan menjemput Anita karena mereka berencana menemui Calista dan meminta restu atas hubungan mereka.
Calista yang baru saja selesai senam hamil bersama Carlos langsung menyambut mereka.
"Hai ,Pa."
"Hai, An."
__ADS_1
Calista memeluk kedua nya bergantian kemudian ia mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.
Carlos melihat kedatangan Wildan bersama Anita terlihat acuh. Ia pun sudah yakin maksud dari telepon Wildan kemarin malam ada kaitan nya dengan kedatangan mereka ke rumahnya.
Calista duduk di samping Carlos dan menyandarkan kepala dengan manja ke dada bidang suaminya sambil menunggu siapa lebih dulu membuka obrolan diantara mereka.
"Calt. Papa ingin bicara," kata Wildan.
Calista mengangguk namun tetap bersandar manja.
"Papa ingin memperkenalkan kamu dengan calon istri, papa. Ibu sambung kamu," kata Wildan gugup.
Calista menegakkan badan menatap Wildan dengan senyuman. "Kapan, pa?" tanyanya tampak senang.
Calista menatap Anita. "Aku mau punya mama baru, An."
Tanpa sadar Wildan dan Anita tersenyum mendengar pertanyaan Calista tampak senang.
Carlos sendiri sedari tadi memerhatikan gerak gerik Wildan dan Anita yang semakin menguatkan dugaan.
"Sekarang, Calt."
"Ya sudah. Aku siap-siap dulu, pa."
Calista hendak bangkit nemuin tangan nya di cekal Carlos dengan gelengan kecil.
"Sayang. Duduk sebentar. Papa kamu belum selesai bicara," kata Carlos membuat Calista bingung kemudian menatap sang papa.
Wildan berdehem mengusir kegugupan. "Calista. Papa akan menikahi Anita. Dia calon istri papa," kata Wildan.
Hening.
Wildan, Anita, dan Carlos memandangi Calista yang diam saja namun beberapa saat kemudian tertawa.
"Jangan konyol, pa."
"Papa bicara yang sesungguhnya, Calt."
Hening kembali.
Calista tak berbicara apapun sampai ia memilih bangkit. Sebelum melangkahkan kaki, ia berbicara pada Carlos. "Om. Aku mau mandi lalu tidur. Aku harap, setelah bangun papa dan dia pergi dari rumah kita."
Tiga orang lain nya terperanjat.
"Sayang," panggil Carlos namun Calista tak menggubris memilih masuk ke kamar.
__ADS_1
Carlos menghela nafas menatap Wildan dan Anita bergantian yang sudah berubah sendu.
"Calista butuh waktu. Sebaiknya kalian pulang dan aku akan mencoba membujuk istriku," kata Carlos dan disetujui oleh Wildan juga Anita.