
Calista cemberut disepanjang perjalanan menuju kampus bersama Carlos. Kedua tangan bersidekap di dada tanpa perduli dengan panggilan Carlos.
"Kok cemberut terus?"
"Om itu nyebelin. Aku gak mau tinggal di rumah mewah itu lagi."
"Loh, kenapa?"
Calista melengos dan menatap Carlos sengit. "Berhentikan mobilnya," cicit Calista membuat Carlos menepikan mobil.
"Om itu gak sadar, ya? Om itu nempatin aku di tempat yang serba salah."
Dahi Carlos mengerut. "Maksudnya?"
Calista mendengus kesal. "Aku gak mau tinggal di Rumah, Om."
Carlos terperanjat. "Memangnya kenapa, sayang?"
"Pakek ditanya lagi, ih!" Calista yang sudah geram langsung mencubit lengan Carlos yang bagi sang empun tak memiliki rasa apapun selain geli.
"Sayang, kamu buat aku pingin makan kamu."
Calista melotot mendengar ucapan Carlos. Ditarik kembali tangan nya yang masih berada di lengan Carlos.
"Om mesum," gerutu Calista lirih tetapi masih terdengar jelas ditelinga Carlos hingga membuat suaminya itu terkekeh.
"Mau kuliah atau ikut Om kerja?" tawar Carlos karena tahu suasana hati Calista sedang tidak baik-baik saja.
Calista menoleh ke arah Carlos dengan wajah masam dan cemberut. "Ikut Om kerja," sahutnya manja.
Merasa gemas, Carlos langsung mengecup bibir Calista lalu mengacak rambut istri kecilnya itu. Dilajukan kembali mobilnya menuju Kantor.
Sesampainya di Kantor. Calista berjalan berjarak pada Carlos karena sadar suaminya itu menjadi bahan pembicaraan, kini. Pasti banyak mata yang sekedar ingin tahu atau menyalahkan wanita yang telah menjadi istri kedua suaminya.
"Jangan jauh-jauh dariku, Calt."
Calista tersentak ketika Carlos merangkul pinggang nya karena memberi jarak terlalu jauh. Ia menoleh melihat beberapa karyawan menatap mereka dan saling berbisik.
"Om, jangan gini. Nanti kita digosipin," bisik Calista namun tak digubris Carlos.
Hingga masuk ke dalam lift dan sampai ke Ruang Kerja Carlos tak melepas rangkulan itu. Membuat Dewi melihat keduanya merasa heran karena posisi mereka tak lazim bila hanya sebagai Paman dan keponakan.
"Apa Calista istri kedua Tuan Carlos?" tanyanya sendiri memikirkan kembali setiap Calista datang ke Kantor, maka tirai Ruang Kerja Bos nya tertutup.
Mata Dewi terbelalak. "Benarkah? kalau benar, Nyonya Nadia dalam posisi lemah. Nona Calista punya orang tua yang sama kuat nya dengan Tuan Carlos."
...****...
"Om. Gimana kalau mereka tahu aku istri muda, Om?" tanya Calista kesal pada Carlos.
Carlos yang sudah memulai memeriksa berkas di atas meja menoleh ke arah Calista. "Memang seharusnya mereka mengenal Nyonya Carlos Martinez yang sebenarnya, sayang."
__ADS_1
Calista menghentakkan kaki lalu mendekati meja Carlos dan mengambil ponsel suaminya itu.
Ia membuka aplikasi pesan makanan online dan duduk di hadapan Carlos. Wajahnya berpangku tangan menatap Carlos dengan intens.
Dengan senyum manis Calista terus menikmati pemandangan dimana Carlos masih fokus pada pekerjaan.
Kulit yang tidak terlalu putih. Ah, Calista senang akan itu karena cukup dirinya saja yang putih dan anak-anak mereka nanti.
Alis tebal, garis wajah yang tampan dan memiliki rahang kokoh dan tegas, Tinggi badan yang.. Ah, tak diragukan lagi, dada bidang tempatnya bersandar, bahu lebar, dan lengan berotot.
"Om," panggilnya membuat Carlos menegakkan pandangan ke arah Calista.
Calista tersenyum. Entah dari mana pikiran nya hendak menggoda Carlos. Rambut yang tadinya digerai, di gulungnyabkeatas hingga memperlihatkan leher dan bahunya yang mulus.
Mata keduanya bertemu, dengan sengaja Calista yang masih menggulung rambut, menggigit bibir bawahnya semakin membuat kesan seksi di mata Carlos.
Sedang Carlos menikmati sajian yang diberikan Calista. Jangan tanya apakah Carlos terpengaruh atau tidak. Jelas saja menginginkan Calista. Sedari malam tadi menahan hasrat karena takut menyakiti istri dan calon anaknya.
"Jangan menggodaku, sayang. Aku gak ingin sakiti kalian hanya karena hasratku tak tersalurkan," ucap Carlos dengan suara berat menahan hasratnya.
Calista hanya diam, bangkit mendekati Carlos yang masih duduk terpaku menatap nya dengan tatapan lapar.
Calista berjalan ke arah belakang tubu Carlos dengan tangannya berada di bahu lebar hingga memutari tubuh suaminya dan berhenti di atas pangkuan suaminya itu.
"Hati-hati, sayang!" ucap Carlos masih sempat memerhatikan Calista.
Calista mengangguk. "Om sangat tampan. Aku mencintaimu," ucap Calista manja menangkup wajah Carlos lalu mencium, ******* bibir yang sudah mengajarinya bercinta itu.
"Kita ke kamar?"
Calista menggeleng. "Disini saja, kita belum mencoba diruang kerja, Om."
Carlos menggeleng dan terkekeh. "Fantasimu sungguh luar biasa, sayang."
Carlos langsung menggendong bak koala dan merebahkan Calista di sofa ruang kerjanya itu.
Carlos tidak membuka seluruh pakaian Calista, begitu juga dengannya.
"Sayang, kayaknya cumanbisa sekali!" racau Carlos masih menggerakkan pinggulnya.
"Kenapa?"
"Sebentar lagi ada rapat dengan William."
Calista hanya mengangguk.
Hingga keduanya meracau saat puncak arwana telah sampai di daki.
...****...
Nadia menatap nanar benda pipih kecil yang menunjukkan dua garis merah. Ia tak menyangka diusia nya sudah dikepala empat dapat mengandung kembali.
__ADS_1
Tetapi, bukan berarti Nadia harus hamil anak Fadil. Ia menggeleng. "Ini gak bisa dibiarin."
Tentu saja Nadia tahu siapa ayah dari janin yang dikandungnya karena terakhir kali melakukan itu hanya dengan Fadil.
Sedetik kemudian, ia berubah tersenyum lalu membersihkan diri kemudian bersiap dan memasak makan siang buat Carlos.
Setelah masakan tersaji ditempat bekal. Calista membereskan dapur dan juga bersiap, tak lupa membawa alat tes kehamilan tadi.
Mobil yang dikendarainya telah sampai di Kantor Carlos. Dengan senyuman merekah, Nadia melangkah masuk ke dalam Kantor.
"Calista."
...****************...
Usai bercinta dengan Carlos, keduanya membersihkan diri bersama. Lalu Carlos kembali bekerja karena ada rapat yang harus di tangani nya, sedang Calista memilih di kamar saja menikmati makanan yang dipesan nya.
Usai makan, Calista ingin keluar. Betapa terkejut saat Nadia memekikkan namanya.
Seketika ia menjadi gugup dan salah tingkah.
"Kamu ngapain disini, Calt?" tanya Nadia curiga.
Calista berdehem. "Aku tadi sama Papi mau rapat dengan Om Carl. Aku disuruh nunggu disini, Tan."
Awalnya Nadia curiga. Tetapi, mendengar Calista bersama Papi nya alias Edzard membuatnya memangkas rasa curiga itu.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Nadia lembut.
"Sudah, Tan."
"Tante bawa makan siang untuk Om?" tanya Calista melihat rantang yang dibawa Nadia.
Nadia tersenyum. "Iya. Tante mau kasih kejutan untuk Om kamu."
Calista hanya diam saja. Ada rasa cemburu dan bersalah dihatinya. Bagaimana tak cemburu melihat suami dan calon ayah dari janin yang dikandungnya diperhatikan wanita lain.
Dan semakin merasa bersalah telah menjadi duri di dalam hubungan suami istri tersebut.
"Tante hamil, Calt. Kami akan memiliki anak."
DEG
Ucapan Nadia seakan membuat jantung nya berhenti berdetak. Calista menatap intens ke arah Nadia.
"Semoga anak ini bisa menyatukan kami lagi dan Om kamu akan meninggalkan istri muda nya setelah anak mereka lahir."
Mata Calista memanas. Berulang kali mengerjap mata agar air mata itu tak menganak sungai.
"Selamat untuk Tante dan Om. Aku pergi dulu," Calista mengucap itu dengan suara bergetar.
Calista tak sanggup menahan semua nya. Tak menyangka bila Carlos telah mengingkari janji nya untuk tak menyentuh Nadia setelah diizinkan menyentuhnya.
__ADS_1