Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
57. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Seharusnya jangan di lapor ke Polisi, Om."


Carlos berdecak seraya melirik kearah Calista kemudian fokus ke jalanan lagi. Beberapa saat lalu, Carlos benar-benar melaporkan tindakan kekekerasan yang dilakukan Meta terhadap Calista.


"Cepatlah pakai bajumu, sayang. Apa kamu sengaja memakainya perlahan agar kita mampir ke Hotel?" goda Carlos mengalihkan pembicaraan Calista karena sudah tidak ingin membahas masalah dengan Meta.


Calista memang sedang ganti baju lebih layak untuk menghadiri prosesi pemakaman jenazah Nadia. Carlos sendiri yang membawa baju tersebut untuknya.


Calista melotot mendengar godaan Carlos. Cubitan di pinggang Carlos mendarat sempurna dari Calista.


"Jangan aneh-aneh, Om. Ingat umur," gerutu Calista menggeleng merasa gemas dengan tingkah Carlos.


Carlos terkekeh. "Sayang, umur ku masih panjang. Aku masih ingin melihat anak kita lahir nantinya."


Calista yang baru saja selesai mengenakan dress hitam sepanjang betis, tersenyum. Di elus pipi Carlos sangat lembut. "Aku ingin hidup bersama Om lebih lama. Kita akan membesarkan anak kita bersama.'


Carlos melirik dan tersenyum manis pada Calista.


...----------------...


Carlos dan Calista sudah sampai di pemakaman. Jenazah Nadia baru saja di masukkan ke tempat peristirahatan terakhir. Sedari tadi Carlos menghela nafas berat melihat prosesi pemakaman tersebut.


Carlos masih tidak menyangka bila mantan istri nya akan pergi meninggalkan dunia. Teringat obrolan mereka ketika sidang putusan perceraian mereka.


Siang itu, sebelum akhirnya Carlos dan Nadia pergi ke tempat mereka masing-masing.


Duduk di kafe terdekat. Cukup lama Carlos dan Nadia terbungkam hingga suara Nadia lah yang lebih dahulu terdengar.


"Apa kamu bahagia?" tanya Nadia menatap Carlos.


Carlos menatap Nadia sekilas lalu meneguk kopi yang di pesan nya. "Ya. Aku sangat bahagia Nadia. Maaf aku harus mengatakan ini, tapi kenyataan nya aku sangat bahagia setelah menikahi Calista."


Nadia tersenyum getir dan mengangguk. "Aku juga minta maaf telah menyembunyikan masalaluku."


Carlos mengangguk. "Andai aku gak melakukan kesalahan pada Calista, aku bahkan tetap mempertahankan mu dan menerima Mario kalau kamu memilih ku. Tapi, aku juga gak akan marah kalau kamu memilih keluargamu."


Nadia tertawa miris. "Tapi kenyataan nya aku gak bisa miliki salah satu diantara kalian. Aku serakah dan akhirnya aku terbuang."

__ADS_1


Nadia sudah menyesali perbuatan nya. Dan ia juga sadari bila hatinya masih pada Fadil, tetapi kembali kepada kenyataan bahwa Nadia tak bisa memiliki keduanya.


"Jangan pikirkan itu, Fadil pasti tetap mengurusimu."


Nadia menatap Carlos dan mengangguk. "Aku tahu. Kalian pria baik. Jaga Calista dan anak kalian."


"Pasti. Aku akan melakukan apapun untuk Calista dan anak ku, Nad."


Nadia menatap dalam mata Carlos. "Carl. Dulu, Anabella dan aku sama-sama terpaksa masuk ke dalam dunia malam. Aku yang gak punya biaya untuk hidup dan Anabella terpaksa melakukan itu karena tengah mengandung dan keluarga pria itu tak ingin bertanggung jawab sampai akhirnya bertemu dengan Ed," terang Nadia membuat Carlos terperanjat.


"Apa maksud mu, Nad?"


"Dulu, sebelum aku bertemu dengan Fadil, aku dan Anabella sama-sama menjadi wanita panggilan. Bedanya Anabella sudah mengandung sebelum menjadi wanita panggilan. Anabella pernah bercerita tengah mengandung anak kekasih nya. Tetapi keluarga kekasihnya gak pernah merestui."


Carlos menegakkan duduk dengan kedua tangan diatas meja saling menggenggam, siap untuk mendengar cerita Nadia.


"Apa kamu bicara yang sesungguhnya?"


"Kenapa aku harus bohong, Carl? inilah salah satunya mengapa aku menyayanginya. Tapi lihatlah kenyataan nya, kalian menusukku dari belakang."


Carlos menghela nafas panjang. "Maaf kalau masalah itu. Sekarang lanjutkan yang tadi saja," ujar Carlos.


"Saat aku tahu Anabella berhubungan dengan Ed dan menjadi model, aku pikir anak itu di gugurkan. Ternyata enggak," imbuh Nadia lagi.


"Kenapa kamu gak pernah cerita hal ini padaku?" tanya Carlos.


"Karena aku gak pernah melihat orang yang ada di foto saat Anabella memberitahukan nya padaku," sahut Anabella.


"Foto? kamu punya foto pria itu?" tanya Carlos dan diangguki oleh Nadia.


Nadia mengambil ponsel dan membuka galeri dan menunjukkan foto seorang pria merangkul pinggang Anabella. "Namanya Wildan."


"Kenapa aku gak pernah tahu foto ini ada di ponsel mu?" gumam Carlos setelah menerima ponsel dan mengamati foto itu.


"Kita bukan anak baru gede yang periksa-periksa ponsel pasangan 'kan?" sindir Nadia dan diangguki Carlos dengan atensi masih tertuju pada foto di ponsel Nadia.


Carlos pun mengirim foto tersebut ke ponselnya lalu menaruh ponsel Nadia ke atas meja dengan kasar.

__ADS_1


"Hei, Tuan Carlos. Aku bukan lagi Nyonya Martinez. Kenapa kamu membanting ponsel mahal, ku."


"Kenapa ayah mertua ku sangat tampan? aku benci mengakui dua mertua ku yang tampan itu," gerutu Carlos membuat Nadia terperangah.


Selama menjadi suaminya, Nadia tidak pernah melihat Carlos begini. Insecure dengan mertua?


"Suruh siapa menikah sama wanita yang seharusnya menjadi anakmu, Tuan."


Carlos menatap Nadia dengan tatapan sengit. "Kami saling mencintai, Nad."


"Pedofil," ejek Nadia.


Carlos mencebik lalu bangkit. "Kamu menyebalkan. Aku mau pergi, kopi ini kamu yang bayar."


Nadia menggeleng dan membiarkan Carlos pergi begitu saja. Kini, telah diakui bila Carlos sangat terlihat begitu bahagia dan takut kehilangan Calista.


Senyuman nya terbit lalu menyesap lemon tea yang dipesan nya. "Bella, anak mu sudah bahagia dan menemukan pria yang tepat. Semoga Carlos bisa menemukan ayah dari anakmu itu. Janjiku telah kutepati. Dan tugasku telah usai."


...----------------...


Carlos terus memerhatikan Calista yang melihat prosesi pemakaman. Ia teringat foto itu, wajah Calista adalah perpaduan dari wajah Anabella dan Wildan.


Tetapi, hingga kini ia belum menerima informasi dari Bimo siapa Wildan itu.


Setelah selesai mengikuti prosesi pemakaman, Carlos dan Calista mengucapkan belasungkawa dan menyapa orang tua angkat Calista, keduanya pamit pulang lebih dahulu karena Calista sudah kelelahan.


...----------------...


Para pelayat sudah kembali ke rumah masing-masing. Fadil dan Mario duduk di gazebo rumah Nadia, sedang Dewi sudah beristirahat.


"Jangan terus larut dalam kesedihan," ujar Fadil melihat anak nya sedari pagi tampak murung.


Mario menoleh ke arah Fadil lalu menatap lurus lagi. "Ayah tahu, aku ingin sekali cepat dewasa dan bekerja pada kak Malvyn agar punya uang banyak."


Fadil menoleh dan mengerutkan dahi. "Apa kamu sudah muak dengan kehidupan kita yang sederhana?"


Mario menggeleng. "Enggak. Mario ingin punya banyak uang agar Ibu pulang ke rumah kita. Tapi, ayah lebih dulu menikah dengan Bunda. Apa hanya dalam waktu tiga bulan, dengan mudah ayah menggantikan Ibu ku?'

__ADS_1


Fadil terenyuh. Untuk pertama kalinya, Anaknya berani mengungkapkan isi hati padanya. Dan ia lalai memikirkan perasaan anaknya.


__ADS_2