Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
50. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Sayang, sekali lagi jangan ulangi lagi!" tegur Carlos.


Calista mengangguk lemah. Tadi, Bimo masuk ke ruangan Carlos menegur Calista telah mengganggu jam kerja karyawan.


"Maaf," cicit Calista, suaranya mulai terdengar bergetar.


Carlos tentu panik langsung bersimpuh dihadapan Calista yang sedang duduk di sofa. "Jangan menangis," ucap Carlos lirih.


Calista mengangguk tetapi air matanya tak bisa dibendung lagi semakin membuat Carlos merasa bersalah.


Ia bangkit duduk di sebelah Calista dan langsung merengkuh tubuh istrinya. "Sudah. Jangan menangis."


Calista menangis semakin menjadi. Pelukan hangat yang selalu membuatnya nyaman dan aman. Tanpa bisa menyembunyikan rasa bersalah dan kesedihan nya menjadi tangisannya semakin keras.


Dengan sayang Carlos mengelus kepala Calista. "Mau es krim?" tawar Carlos.


Calista mengangguk dalam pelukan Carlos. Seketika moodnya kembali baik. Carlos membawa Calista ke Kafe khusus Eskrim di pusat kota Jakarta.


"Sayang. Kamu beneran gak malu jalan sama aku?" tanya Carlos menarik kursi Kafe untuk Calista duduki kemudian duduk di seberang meja berhadapan dengan Calista.


Calista mengucapkan terimakasih lalu memerhatikan penampilan Carlos dan dirinya. "Malu kenapa, Om? Penampilan Om sangat rapi," tanya Calista.


Hingga kini, Carlos masih sering merasa terlihat tua bila sedang bersama Calista walau hatinya begitu mencintai istri kecilnya itu.


"Om takut kamu malu jalan sama Om-om," ucap Carlos lirih.


"Kenapa malu? mereka enggak tahu saja kalau Om sangat kuat saat gagahi aku," goda Calista mengalihkan arah bicara Carlos.

__ADS_1


Carlos mencebik. "Kamu begitu menggoda sayang, mana bisa aku hanya sekali. Apalagi fantasi mu luar biasa, buat aku jadi muda lagi!"


Calista melotot mendengar ucapan yang keluar dari bibir Carlos meluncur lancar tanpa hambatan.


"Om. Pelan-pelan kalau ngomongin begituan. Sama saja dengan Papi Ed," oke Calista membuat Carlos mengatup bibirnya.


"Nanti ke rumah, Papi ya Om."


Carlos meringis mendengar permintaan Calista. Tentu saja akan menuruti tetapi mengingat mertuanya adalah musuh gila nya tentu saja membuatnya kesal.


Belum juga berkunjung sudah merasa kesal. Astaga, andai aku bisa menolak permintaan istriku, pikir Carlos.


"Hari ini?" tanya Carlos memastikan.


Calista mengangguk cepat. "Iya. Nanti kalau Om sudah pulang kerja," tuturnya.


Calista diam menatap Carlos. "Kalau boleh, tapi terserah Om saja!" sahut Calista lirih. Semakin membuat Carlos tak tega.


Carlosenghela nafas panjang. "Baiklah. Kita akan menginap," kata Carlos membuat Rau wajah Calista berubah menjadi senang.


Keduanya menghabiskan es krim yang telah tersaji di atas meja. Selepas itu, Carlos kembali ke Kantor setelah mengantar Calista pulang lebih dahulu.


Sore hari, Carlos sudah pulang bekerja. Di lihat Calista sudah rapi dan sedang memakai make up di depan cermin meja rias.


Tubuhnya membungkuk memeluk Calista dari belakang. Di hirup dalam-dalam ceruk leher Calista beraroma musk yang begitu membuatnya candu.


"Geli, Om. Sana mandi. Aku sudah siapi pakaian ganti nya di ranjang," ucap Calista mengelus kepala Carlos tanpa mengubah posisi duduk nya.

__ADS_1


"Gak pingin mandikan aku, sayang?" Carlos menatap Calista dari pantulan cermin dengan senyum menggoda.


Calista berdecak langsung menjauhkan diri dari Carlos. "Jangan menggodaku, Om. Kamu tahu kalau aku gak bisa di goda," desis Calista tetapi justru membuat Carlos tertawa.


Tentu saja tahu maksud dari ucapan istri kecilnya karena selama hamil, istri kecilnya itu semakin nakal di atas ranjang dan Carlos menyukai hat itu.


"Baiklah. Aku mandi dulu," Ucap Carlos kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Sedang Calista menunggu Carlos selesai mandi sembari bermain ponsel.Tak butuh waktu lama, Carlos sudah keluar kamar mandi dan segera bersiap.


...----------------...


Carlos membawa paper bag berisi keperluan Calista termasuk susu hamil, cemilan, dan make up. Sedang Calista merangkul lengan Carlos.


Di dalam mobil, Carlos terus merangkul Calista sembari mengelus perut istrinya. Setiap menyapa dan mengajak bicara pasti mendapat respon dari janin yang dikandung Calista berupa kedutan atau gerakan calon anaknya.


"Kayaknya anak kita bakal manja sama Papi nya," tutur Calista.


Carlos terkekeh. "Aku suka jika kalian manja padaku," ucap Carlos jujur.


"Awas saja kalau anak kita lahir mirip, Om. Kalau itu benar, maka aku kayak para ibu di luar sana. Kebanyakan hanya kebagian hamil, melahirkan, dan menyusui. Mirip nya enggak. Padahal aku cantik," gumam Calista cemberut.


Carlos melongo mendengar protes Calista. "Sayang. Enggak boleh begitu. Mirip siapapun nanti anak kita, pasti akan cantik seperti kamu dan tampan seperti aku."


Calista tak lagi menjawab. Ia lebih memilih mengeratkan pelukan di tubuh Carlos.


Beberapa saat kemudian. Mobil mereka baru memasuk gerbang dan kebetulan Papi Edzard berada disana.

__ADS_1


"Baru ingat, datang ke rumah orang tua?"


__ADS_2