
Wildan sangat senang ketika Anita setuju ikut bersamanya mengunjungi Calista. Sedari pagi ia sudah bangun, mempersiapkan diri agar tampil sempurna di hadapan gadis pujaan hatinya.
Wildan keluar dari apartemen menuju basement dimana mobilnya terparkir. Sepanjang perjalanan, senyuman Wildan tak surut dari wajah tampan nya.
Ia merasa kembali muda seperti saat hendak mengunjungi Anabella dulu. Sebagaimana anak muda sedang di mabuk cinta, begitu pula Wildan sekarang ini.
Ia pun berpenampilan sebagaimana anak muda. Kemeja panjang berwarna biru tua dan jeans senada pula.
Mobil yang ditumpangi Wildan telah tiba di pekarangan rumah William. Senyuman nya semakin merekah ketika melihat Anita dan Wilson sudah menunggu di teras rumah.
Ia pun membuka pintu dan keluar dari mobil menyusul mereka di teras rumah. "Kita berangkat sekarang?"
Anita dan Wilson mengangguk bersama. Ketiganya masuknke dalam mobil dan Wildan melajukan mobil membelah jalan menuju kediaman Carlos.
*
*
Sesampainya di rumah Carlos, Calista menyambut ketiganya dengan sangat antusias.
Wildan langsung memeluk dan mengecup pucuk kepala sang anak dengan sayang. Ia merasa bersyukur Calista tak sedikitpun marah dan justru sangat menerima kehadirannya sejak pertama kali bertemu.
Calista membawa mereka bertiga ke taman belakang dimana ada tempat bermain disana.
Ada permainan mencari harta karun dan disana ada sebuah tenda di beberapa sudut untuk tempat sebagai tempat yang akan dikunjungi dalam peta.
Ada permainan lampu lalu lintas, bowling, dan bermain gelembung.
Wilson memilih permainan mencari harta karun dan Anita menemaninya.
Wildan dan Calista tengah duduk di ayunan memerhatikan Anita dan Wilson.
"Nak," panggil Wildan gelisah.
"Ada apa, pa? papa ingin mengatakan sesuatu?" tanya Calista melihat Wildan menjadi gelisah.
"Tapi janji jangan marah, ya."
Calista menjadi penasaran pun langsung mengangguk.
"Gimana kalau papa menikah?" tanya Wildan takut bila Calista tak setuju dan akhirnya marah.
Calista hanya diam saja dan itu berhasil membuat Wildan merasa takut. "Sayang. Di KTP papa masih lajang, loh. Papa dan mama menikah siri karena dulu gak dapat restu. Tapi percayalah, kamu hadir setelah kami menikah. Dan Papa kecelakaan ketika akan menyusul mama kamu ke Bandung."
Calista mengangguk-angguk kepala mengerti atas penjelasan Wildan. Sebagai anak, tentu saja tak ingin melihat sang ayah terus saja menyendiri tanpa pasangan. Apalagi ia tahu bagaimana tersiksa nya menahan hasrat yang sudah lama terpendam.
__ADS_1
Calista menggeser posisi duduk menjadi arah Wildan dan menggenggam tangan sang ayah. "Aku terserah pada papa. Yang terpenting papa bahagia dan calon ibu ku harus menghormati ayah sebagai suami."
Wildan tersenyum bahagia. Di rengkuh tubuh anaknya dan mengucapkan banyak terimakasih pada Calista.
"Makasih, sayang."
Calista mengangguk dalam pelukan Wildan. "Aku tunggu beliau bertemu denganku, papa."
"Pasti. Papa akan bawa beliau segera."
Dari pagi hingga sore menjelang barulah Wildan membawa pergi Anita dan Wilson. Di pertengahan jalan, ia membelokkan mobil ke taman kota.
"Wil, mau es krim?" tanya Wildan dan di jawab anggukan oleh Wilson.
"Aku gak ditawari, Om?" tanya Anita iseng.
Wildan terkekeh mendengar pertanyaan Anita. "Mau rasa apa?"
"Aku mau rasa vanilla," sahut Anita malu-malu.
Wildan mengajak rambut Anita dengan lembut lalu ia melangkahkan kaki menuju ke tempat penjual es krim di pinggir taman.
Anita dan Wilson menuju bangku taman dan duduk di sana. iIa merasa tak curiga apapun pada Wildan mengajak mereka ke taman ini.
Ia pun merasa senang diajak keluar oleh Wildan karena merasa bosan berada di rumah mewah William.
Wildan tersenyum menanggapi ucapan Anita. kemudian ketiganya menikmati es krim pada sore itu dalam diam namun sangat menikmati suasana ramai di taman itu.
Sehingga pada saat sudah menyelesaikan menikmati es krim Wildan menatap Anita dengan seksama dan itu berhasil membuat sang empu merasa gugup dan salah tingkah.
Tetapi perlakuan Anita semakin membuat Wildan merasa gemas. "Anita," panggil Wildan menatap Anita dengan serius.
"I-iya, Om."
Wildan merubah posisi menjadi mengarah pada Anita, entah mengapa ia menjadi sangat gugup jika berada di hadapan gadis manis itu.
"Om ingin mengatakan sesuatu."
"Mungkin ini terdengar aneh tetapi inilah kenyataannya. Om menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu di rumah William."
"Om tahu banyak sekali perbedaan di antara kita dari umur, cara pandang, dan pengalaman. Tapi Om begitu nyaman bilanberada di dekatmu."
Anita memberanikan diri menatap Wildan. iya memang mengagumi sosok pria matang yang tak lain adalah Ayah dari sahabatnya itu karena sangat setia hingga kini pada almarhum ibu Calista.
Tetapi rasa yang dimiliki Anita hanya mengagumi bukan rasa sayang dan cinta sebagaimana seorang pria dan wanita.
__ADS_1
"Om tak salah menyukai ku? menyukai sebagai seorang wanita?" cecar Anita.
Wildan mengangguk seraya tersenyum.
"Aku ini sahabat anak Om, loh."
"Aku tahu. Aku juga sudah minta izin pada Calista untuk menikah," kata Wildan membuat Anita terkejut.
"Gimana ya, Om. Diantara kita belum saling mengenal sebelumnya. Beri aku waktu untuk memikirkan jawaban nya."
Wildan mengangguk mengerti. Ia tak membantah atas ucapan Anita karena semua itu benar adanya.
"Sampai menunggu waktu itu tiba, bolehkah aku mendekati mu?" tanya Wildan lagi.
Anita mengangguk dan tersenyum. Setelah membicarakan hal tadi Wildan membawa Anita dan Wilson pulang ke rumah William.
Setelah dari rumah William, Wildan kembali ke apartemen dengan hati yang bahagia.
*
*
Pagi-pagi sekali Wildan sudah menyambangi rumah William guna untuk mengajak Anita dan Wilson berangkat bersama ini adalah masa pendekatan baginya.
Tetapi sesampainya di rumah William, ia tidak menemukan sang adik dan gadis pujaan hatinya, hanya ada Wilson di ruang makan.
"Will, kemana papa dan kak Anita?" tanya Wildan penuh selidik. Ia sangat tahu bila sang adik bagaimana diluar sana.
Wilson mengedikkan bahu karena memang tidak tahu ke mana papa dan pengasuhnya.
Wildan melihat sang keponakan sudah menyelesaikan sarapan mengajak agar mencari di mana Papa dan pengasuh sang keponakan.
Semua ruangan rumah mewah itu sudah mereka sambangi hanya tersisa kamar utama rumah William yaitu kamar sang empu rumah.
Wildan menyuruh Wilson untuk mengetuk dan memanggil papanya. cukup lama mereka menunggu dan tak ada sahutan membuat rasa curiga di hati Wildan semakin kuat.
Beruntung kamar itu tidak dikunci sehingga mereka berdua dapat masuk ke kamar William.
Hingga pada akhirnya sesaat mereka tak menemukan di mana William Wildan dan Wilson berdiri di depan kamar mandi.
Tepat sesaat Wildan ingin mengetuk pintu kamar mandi justru pintu kamar mandi tersebut terbuka dan menampakkan dua orang yang mereka cari-cari.
betapa terkejutnya Wildan melihat penampilan William dan Anita sama-sama memakai bathrobe. Pikiran prasangka buruk pun timbul di benak Wildan bahwa mereka habis melakukan hubungan suami istri di dalam kamar mandi.
"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar mandi?" tanya Wildan dingin melihat tampilan William dan Anita secara bergantian.
__ADS_1
Cukup lama pertanyaan itu tak ada jawaban dari William dan Anita. Akhirnya Wildan pergi dari kamar dan rumah sang adik dengan membawa luka dan kekecewaan.