
Selly meremas seprei setelah ditinggal Wildan begitu saja. Sekali lagi, tubuhnya dijamah pria yang tak bertanggung jawab.
Ia bangkit langsung mengutip pakaian dan mengenakannya. Setelah itu, Selly pergi meninggalkan tempat tersebut menuju apartemen nya.
Setelah sampai apartemen, Selly langsung membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, Selly kembali menangis.
Ia mengejar Carlos karena ingin seperti Nadia. Tetap di terima walau memiliki masalalu yang kelam.
Tetapi, pria selalu memperlakukan nya buruk. Padahal ingin sekali menikah dan memiliki keluarga tanpa harus melihat masa lalu nya.
*
*
Hari pernikahan semakin dekat. Persiapan hampir 100% sempurna. Anita dan Wildan baru saja melihat gedung yang akan di buat tempat penyelenggara acara pernikahan dan syukuran tujuh bulanan Calista.
"Om. Aku kangen sama Calista, sudah lama kami enggak saling kabar."
Wildan mengelus kepala Anita yang sedang bersandar di dadanya. Ada rasa bersalah menggerogoti hatinya telah melakukan kesalahan besar dibelakang Anita.
"Calista baik-baik saja. Kamu jangan khawatir," kata Wildan seraya mengecup pucuk kepala Anita.
"Maaf," gumam Wildan dalam hati.
*
*
BRAK
BUGH
BUGH
Prang
Carlos tersungkur ke lantai setelah terbentur meja. Itu semua karena akibat ulah Edzard yang baru saja menghajarnya.
"Dari awal aku sudah melarang Calista untuk menikah dengan mu karena ini Carlos Martinez. Kau masih sama saja dari dulu," hardik Edzard menarik kerah kemeja yang di kenakan Carlos hingga pria itu berdiri walau tubuhnya sudah remuk redam.
"Ed. Aku gak ada hubungan apapun dengan wanita lain. Hanya Calista," bela Carlos terbata-bata.
__ADS_1
Edzard kembali meradang dan memberi bogeman kembali membuat Carlos tersungkur di lantai.
"Sebelum acara, jika aku lebih dulu menemukan Calista maka jangan harap bisa kembali denganmu."
Edzard keluar dari ruang tamu setelah mengatakan hal tersebut. Meninggalkan Carlos yang sudah babak belur.
Carlos terbatuk-batuk merasakan sakit di dada akibat bogeman terakhir yang diberikan Edzard.
Carlos sedang tidak enak badan sehingga memilih di rumah saja. Semenjak Calista pergi, makan nya tidak teratur dan ia begitu merindukan Calista.
Carlos berusaha bangkit kemudian langsung merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Tuan," kata Bimo baru saja masuk dan terkejut melihat keadaan Carlos.
Tanpa menunggu, Bimo pergi ke dapur meminta salah satu asisten rumah tangga agar menyiapkan air hangat dalam mangkuk dan kain bersih berukuran kecil buat mengompres.
Setelah berada di ruang tamu, Bimo membantu Carlos duduk. Dengan telaten ia mengompres luka lebam di wajah Carlos.
"Maafkan saya, Tuan. Seharusnya sejak lama sudah mengganti Selly," ungkap Bimo yang masih di tudung rasa bersalah.
Rasanya, Bimo sudah hampir putus asa karena jejak Calista tidak ada di temukan hingga kini.
Carlos merasa sudah tak ingin hidup semenjak kehilangan Calista dan calon anaknya. Yang dilakukan nya selama ini hanya bekerja dan sepulang bekerja mengelilingi kota Jakarta dengan harapan dapat menemukan Calista.
*
*
Berhari-hari berlalu. Wildan mendatangi makan Anabella. Ia menatap sendu gundukan tanah, bertulis nama Anabella di batu nisan.
"Aku merindukanmu," katanya seraya meletakkan setangkai mawar merah di gundukan tanah tersebut.
"Sebentar lagi aku akan menikah. Makasih telah menjadi istri yang baik sebelum aku pergi dahulu. Maafkan aku," ucapnya lirih.
Kenangan masa muda yang mereka lewati berdua sungguh sangat manis walau tidak mendapat restu dari orang tua Wildan.
Setelah selesai mengunjungi makam, Wildan hendak masuk ke dalam mobil tetapi urung setelah mendengar namanya dipanggil seseorang.
"Ini," wanita itu memberi sesuatu pada Wildan.
Wildan mengerutkan dahi tetapi tangan nya menerima sesuatu yang diberikan seseorang itu.
__ADS_1
Mata Wildan melotot melihat benda itu. Ada rasa takut menyelimuti nya. "Punya siapa ini?" tanya nya mencoba tetap tenang.
"Punyaku lah. Kamu pasti tahu benda apa itu," sahut seseorang tersebut.
Wildan meremas benda tersebut lalu mengajak orang itu masuk ke dalam mobil.
*
*
Manchester, Inggris.
Calista tersenyum samar menatap ponsel baru nya. Terlihat foto dirinya sedang berada dipangkuan Carlos tertawa dan Carlos sedang mengecup pipinya.
Calista ingat, di dalam foto itu sore hari dan ia sedang berenang. Carlos yang baru saja pulang bekerja menghampirinya.
Karena Calista hanya mengenakan baju renang yang sangat terbuka, membuat Carlos tergoda dan akhirnya mereka melakukan itu di kolam renang.
Calista mengusap foto itu. Hampir sebulan pergi meninggalkan Carlos dan tanpa tahu kabar suaminya itu membuatnya rindu.
"Masih belum mau pulang? Sebentar lagi acara amal," kata William kembali memergoki Calista sedang memandangi foto Carlos.
"Aku takut," kata Calista lirih.
William duduk dihadapan Calista. "Selesaikan masalah kalian, Calt. Enggak baik kabur-kaburan begini. Kalian sudah mau punya anak."
Sebenarnya William ingin memberi kabar bagaimana keadaan Carlos kepada Calista. Tetapi, keponakan nya itu selalu menolak dan berasumsi bila Carlos sedang bersenang-senang dengan Selly.
"Kamu pulang, ya. Kamu juga akan hadiri pernikahan papa kamu dan Anita kan?" tanya William lagi membuat Calista menoleh.
"Apa om baik-baik saja?" tanya Calista yang mengerti bagaimana perasaan William terhadap Anita.
William tersenyum lalu mengacak rambut Calista. "Om baik-baik saja."
"Apa om akan datang?" tanya Calista memastikan.
William menghela nafas. "Tentu saja. Om gak mau melewatkan pernikahan kakak Om."
Calista ikut tersenyum walau ia tahu dibalik senyuman William menyimpan banyak luka. "Kalau Om datang, gimana aku? masa ditinggal sendiri disini?"
"Kamu harus ikut."
__ADS_1