
"Sayang," panggil Carlos lembut.
Ia baru saja menyelesaikan sebagian pekerjaan. Karena sudah tiba waktu makan siang, Carlos masuk ke dalam kamar dan melihat pemandangan yang mendamaikan hati.
Calista tertidur, ia berjongkok tepat pada wajah Calista. Di usap pipi mulus istrinya menggunakan ibu jari lalu di kecup bibir ranum milik istrinya.
Calista menggeliat pelan lalu terlelepan kembali dan itu membuat Carlos terkekeh merasa gemas. Lalu ia menggeser tubuh menjadi berhadapan dengan perut Calista yang sudah buncit.
Di kecup berulang kali perut Calista tetapi tak mendapat respon dari sang anak dalam kandungan. "Kamu juga sedang tidur, ya. Istirahatlah, Papi akan membelikan makan siang dulu."
Carlos bangkit dan berjalan menuju kamar mandi setelah itu ia keluar dari ruang kerja nya.
Carlos tidak menyuruh orang lain untuk membeli makan siang mereka. Ia ingin memilih sendiri makanan buat Calista.
Dan ia memilih makanan Jepang untuk makan siang mereka hari ini. Ia membeli Sushi, Tempura, dan Ramen.
Saat dalam perjalanan kembali ke Kantor, Carlos melihat ke arah spion tengah lalu spion kanan, merasa curiga dengan mobil hitam yang berada di belakang nya.
Sadar bila sedang di ikuti, Carlos menginjak pedal gas menambah kecepatan begitu juga mobil hitam dibelakang nya.
BRAK!!!
*
*
Di Kantin Perusahaan Martinez Group
Wildan celingukan mencari tempat duduk kosong. Siang ini, setelah makan siang ia akan membahas proyek renovasi apartemen Edzard bersama Carlos.
__ADS_1
Tetapi, ia datang lebih cepat dari jam yang di janjikan. Matanya menangkap kursi kosong di sebelah seseorang dan ia pun mendekati kursi kosong tersebut.
"Kenapa Bapak duduk disini?" tanya seseorang yang disebelah Wildan ternyata Selly.
Wildan menoleh kemudian mencebik. "Ck. Hanya kursi ini yang kosong," sahut Wildan cuek membuat Selly melengos.
"Dasar Pak Tua," gumam Selly yang masih di dengar oleh Wildan.
"Sedang kamu pelakor gagal," cibir Wildan gantian.
Selly melotot mendengar cibiran Windan. "Lihat saja, aku bakal buktikan pasti aku bakal bisa menggoda Tuan Carlos." Selly pergi meninggalkan Wildan.
Wildan beserta pendengar ucapan Selly. Mulai sekarang ia harus memperhatikan Gadis itu karena tak ingin merusak kebahagiaan anaknya, Calista.
Wildan sendiri mengakui jika Carlos semakin tampak memukau bukan hanya sangat tampan tetapi kekayaannya semakin melimpah.
Sepanjang jalan koridor kantor, Selly menggerutu dan memaki Wildan. Setiap bertemu dengan pria itu pasti akan membuatnya emosi.
Apa salahnya jika ia ingin menjadi istri kedua Carlos. Salahkan pria yang dikagumi nyabitu terlalu mempesona. Apalagi setelah mengetahui kasus pernikahan pimpinan nya itu semakin membuat Selly menginginkan Carlos.
Perlakuan manis Carlos pada Calista membuatnya iri dan ingin merasakan juga.
*
*
Dilihat Calista sedang memainkan ponsel Ia pun mendekati wanita hamil itu. "Calt. Suami mu meminta Om mengantar kamu ke suatu tempat," ucapnya.
Calista mendongak menatap Bimo karena pria itu sedang berdiri dan dirinya sedang duduk.
"Mau kemana, Om?" tanya nya.
"Ikut saja. Nanti juga kamu tahu."
Calista mengangguk lalu dia mengambil tas jinjingnya kemudian mengikuti Bimo. Saat sudah berada di mobil iya duduk di sebelah kursi pengemudi di mana Bimo yang akan menyetir sendiri.
__ADS_1
Calista melihat demo yang hanya diam saja menjadikan Tidak berani berkata apapun walaupun di dalam pikiran banyak pertanyaan hendak ke mana ia akan dibawa.
Dahi callista berkerut ketika mobil bemo terparkir di parkiran salah satu rumah sakit di Jakarta.
"Ngapain kita ke rumah sakit, om?"
"Kita masuk saja dulu."
Akhirnya Calista menyerah untuk bertanya lagi pada demo karena sedari tadi ia bertanya tak ada jawaban yang tepat.
Tetapi rasa takut dan prasangka buruk pun terus saja menyertai pikirannya.
Bimo membuka pintu sebuah ruang rawat inap bagi Calista, keduanya masuk ke dalam ruangan itu.
Setiba sudah masuk tubuh Calista mematung melihat siapa yang tengah berbaring di atas brankar. Air matanya tak terbendung melihat Carlos di sana.
Punggung tangan yang sudah terpasang infus dan perban di dahi Carlos. "Om," kata Calista dengan suara serak setelah mendekati brankar suaminya.
Carlos terbangun mendengar suara Calista. Ia pun hendak duduk, dan Bimo membantunya. Carlos meminta istrinya agar naik ke atas brankar bersamanya.
Baik Carlos dan Bimo dengan sigap membantu Calista naik ke atas brankar. Setelah Calista berada di atas brankar, Bimo pamit pergi ke rumah Carlos mengambil keperluan pasangan suami istri itu.
Sebelah tangan Carlos yang bebas infus terulur mengusap pipi Calista telah basah dibanjiri air mata.
"Jangan menangis. Ini hanya luka kecil, tadi Om harus banting setir karena hampir menabrak kucing di jalan," Carlos menjelaskan agar Calista tak lagi menangis walau penjelasan itu adalah sebuah kebohongan.
Beberapa saat lalu ketika Carlos menambah kecepatan laju mobilnya, justru mobil hitam itu juga semakin kencang membuntuti nya. Hingga terjadi kejar kejaran diantara mereka, sampai pada jalanan sepi, mobil Carlos di serempet dengan keras dan pada akhirnya mobil Carlos menabrak sebuah pohon besar.
"Beneran?"
Carlos mengangguk dan tersenyum. "Maaf telah membuat kalian khawatir," kata Carlos seraya mengelus perut Calista.
Saat malam tiba ketika Calista sudah tidur di samping Carlos. Bimo datang membawa semua keperluan Carlos dan Calista serta membawa kabar kejadian tadi.
Carlos turun dari brankar sambil memegang botol infus kemudian duduk di sofa bersama Bimo.
__ADS_1
"Mobil yang mencelakai Tuan belum di temukan, apalagi mobil itu ternyata tak menggunakan plat mobil."
Carlos hanya diam memikirkan siapa yang berani mencelakainya. Baginya, tak apa ia yang dicelakai asalkan jangan Calista dan anaknya.