
Manchester, Inggris.
Calista duduk di depan perapian di sebuah ruang keluarga Mansion mewah milik keluarga Aletta.
Sudah satu Minggu Calista meninggalkan Indonesia memilih pergi ke kediaman William.
Ya, niat awal Calista datang ke kantor selain rindu menunggu Carlos bekerja, ia juga ingin mengajak Carlos liburan sebelum acara syukuran kehamilan dan pernikahan Wildan bersama Anita.
Bahkan Calista sudah membeli tiket Pesawat untuk mereka berdua. Tetapi, setelah melihat Carlos berduaan dengan Selly membuatnya sakit hati.
Ternyata ini alasan mengapa Carlos tidak juga kunjung mengganti sekretaris nya itu.
Calista menggeleng membayangkan apa saja yang sudah dilakukan Carlos dan Selly dibelakangnya.
Di usap dengan kasar air matanya yang mengalir di pipi mulusnya. Padahal, selama seminggu ini sudah berusaha keras untuk tidak menangisi Carlos lagi.
"Kalau kangen, pulang saja."
Calista menoleh dan mendongak menatap sang paman yang baru saja berbicara padanya. Ia menggeser duduk, mempersilahkan William duduk disebelahnya.
"Aku gak mau ganggu Om Carlos bersenang-senang bersama Selly," gumam Calista lirih selaras dengan sakit hati atas ucapan nya sendiri.
William menghela nafas panjang. Yang membantu Calista pergi tanpa jejak adalah dirinya.
Sebenarnya William tidak ingin Calista kabur dari rumah. Tidak baik bila seorang istri pergi tanpa izin sang suami.
Tetapi, William juga mengerti jika Calista masih berusia belasan tahun dan itu sedang labil nya.
William juga akan membunuh Carlos jika apa yang dilihat Calista adalah sebuah kebenaran.
William mendekap Calista, memberi ketenangan buat sang keponakan. "Jangan menangis lagi," kata William membelai rambut panjang Calista.
"Aku takut semua yang aku lihat itu benar, Om."
"Om akan cari tahu sayang."
William meminta Calista untuk istirahat dikamar karena malam semakin larut.
Setelah mengantar Calista ke kamar, William melangkah menuju kamarnya dan mengambil ponsel.
"Hallo. Tolong cari tahu semua yang sudah aku kirim ke emailmu."
*
*
Jakarta, Indonesia.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Carlos sudah berada di Kantor. Ia sudah hampir putus asa mencari Calista yang tak kunjung mendapat kabar baik mengenai Calista berada dimana.
Carlos juga merasa bingung karena sudah dua hari belakangan kedua mertua nya berulang kali menanyakan kabar sang istri.
Keadaan Carlos juga semakin memperihatinkan. Rambut yang mulai gondrong, berat badan yang menurun, dan terdapat kantung mata yang menghitam.
Selera hidup seperti sudah tiada lagi. Bagaimana hendak bersemangat? bila penyemangat hidup nya telah pergi meninggalkan dirinya sendiri.
Selama seminggu tanpa Calista, Carlos lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan dan mabuk-mabukan.
"Tuan. Ini berkas yang harus anda tanda tangani," ucap Bimo.
Carlos tersentak sesaat ketika mendengar suara Bimo. "Kau mengagetkan ku, Bim."
Bimo menghela nafas panjang. Padahal tadi ia sudah beberapa kali mengetuk dan memanggil Carlos.
"Maaf, Tuan."
Carlos tak menjawab lalu memberikan berkas yang sudah ditanda tangani nya.
"Tuan. Anda salah bubuhkan tanda tangan. Seharusnya disebelah sini," beber Bimo menunjukkan tempat yang seharusnya Carlos tanda tangani.
Carlos menghela nafas panjang. "Buat kembali laporan itu, Bim."
Bimo mengangguk lalu meninggalkan ruang kerja Carlos. Ia juga turut prihatin atas apa yang menimpa sang bos.
Carlos memijat pelipisnya. Rasanya, kepala serasa mau pecah dan mati saja. Carlos benar-benar tidak memiliki semangat dan tujuan hidup.
*
*
Rahang Wildan mengeras selaras dengan kepalan tangan yang menjadi putih pucat setelah mendengar kabar bahwa Calista sudah seminggu tidak nampak berada di rumah Carlos.
Wildan sudah curiga sedari dua hari lalu ketika berkunjung di rumah Carlos, Calista tidak berada di rumah dan para asisten rumah tangga disana tampak pucat ketika ia bertanya persoalan Calista.
Wildan juga sudah mengetahui Selly lah biang dari masalah yang terjadi.
Ia menyambar kunci yang berada di nakas kemudian keluar dari rumah yang beberapa waktu lalu dibeli. Rumah ini yang akan menjadi tempat tinggal bersama Anita.
Wildan melajukan mobil menuju rumah William dimana Anita masih tinggal disana sesuai permintaan William.
Setelah satu jam perjalanan, Wildan menghentikan mobil nya di depan garasi. Ia keluar dan melihat pintu rumah terbuka.
Wildan masuk dan melihat Anita sedang bermain ponsel.
"Sayang," sapanya.
__ADS_1
Anita nampak terkejut melihat Wildan sudah berada di dalam rumah sementara tadi tidak mendengar suara mobil.
"Om," kata Anita kemudian berdiri menyambut pelukan dari Wildan.
Pelukan terurai, Wildan menuntun Anita duduk di sebelahnya. Rasanya, amarah yang ditahan tadi menguap setelah berada di dekat Anita.
"Aku buatin minum dulu," kata Anita dan di angguki oleh Wildan.
Wildan memikirkan apa yang akan dilakukan kepada Carlos dan Selly, setelah itu barulah menjemput Calista.
Wildan menatap ponsel Anita yang bergetar. Karena Anita mengijinkan nya kapanpun ingin memeriksa ponsel calon istri nya.
Rahang Wildan mengeras ketika melihat isi chat dan riwayat panggilan telepon di ponsel Anita banyak tertera nama William disana.
Wildan bangun dari duduk langsung pergi begitu saja tanpa pamit. Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan dengan kecepatan tinggi.
Beberapa saat kemudian, mobil Wildan berhenti di sebuah club' malam. Ia masuk lalu memesan anggur merah.
Emosinya tak bisa terkontrol sedari tadi. Masalah anak dan cemburu membuatnya menjadi tak terkendali.
Satu gelas hampir habis hingga matanya memicing melihat wanita yang sedang menari meliuk-liuk di tengah kerumunan.
Seringai tercetak, Wildan bangkit menghampiri wanita tersebut. Tanpa berbicara apapun, Wildan menarik wanita yang membuat masalah di rumah tangga anak semata wayang nya.
"Lepas," pekik Selly.
Ya, wanita yang sedang menari meliuk-liuk tersebut adalah Selly.
Wildan tak menggubris. Ia terus menarik Selly, membawanya ke lantai dua dan memasuki salah satu kamar disana.
Dengan kasar Wildan menghempaskan tubuh Selly ke atas ranjang dan langsung menindih tubuh wanita tersebut.
"Lepaskan aku, sialan!"
"Bukankah ini yang kamu inginkan, hah? Bukankah kamu ingin ditiduri Carlos dan membuat pernikahan anakku hancur!" hardik Wildan kemudian dengan kasar mencium bibir Selly.
Selly memalingkan wajah dan terus berontak agar terbebas dari kukungan Wildan. Namun, tenaga nya tak sebanding dengan pria tersebut.
"Jangan munafik," sentak Wildan kemudian menarik pakaian Selly dengan paksa.
Amarah yang terbendung dilampiaskan pada tubuh wanita seksi di bawahnya. Wildan seketika lupa bila sebulan lagi akan menikahi wanita pujaan hatinya.
Caci maki yang dilontarkan Selly seketika berubah menjadi desa han dan erangan yang bersahutan.
Wildan berguling setelah mendapat pelepasan. Masih dengan nafas memburu, ia beringsut turun dari ranjang seraya memungut pakaian yang berserakan di lantai lalu mengenakan nya.
"Aku sudah memberi apa yang kamu inginkan. Jangan pernah coba-coba untuk masuk ke dalam rumah tangga anakku," tegas Wildan.
__ADS_1