Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
93. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista merenggangkan otot setelah baru saja keluar dari Bandara Soekarno Hatta. Dengan memakai jaket, kacamata, dan masker. Calista mengikuti William dan Wilson memasuki mobil yang menjemput mereka.


Dua hari lagi, acara syukuran kehamilan nya yang ke tujuh bulan. "Om. Boleh lewat dari rumah Om Carlos gak?" tanya Calista menyengir kuda.


William berdecak lalu menggeleng. "Turun juga boleh. Biasa nya Carlos sedang berada di kantor," ucapnya memberi ide pada sang keponakan.


Calista mengangguk setuju.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka telah sampai di depan pagar rumah Carlos. Calista turun dan membuat penjaga rumah terkejut langsung membuka pagar.


"Nyonya," sapa Agus yang juga berada di pos jaga.


Calista tersenyum. Ia melangkahkan kaki masuk ke dalam sedang William meninggalkan Calista.


Para asisten rumah tangga tampak terkejut dan merasa senang akhirnya sang nyonya kembali pulang.


"Dimana tuan, bi?" tanya Calista.


"Di kamar, Nyonya. Dari kemarin tuan gak mau buka pintu," sahut Bibi Nur.


Calista terkejut lalu meminta kunci cadangan kepada bibi Nur. Ia segera ke lantai dua dimana kamar mereka berada.


Dibuka kunci pintu kamar mereka perlahan memasuki kamar yang masih gelap karena tirai jendela masih tertutup.


Calista melangkah mendekati jendela lalu membukanya.


Carlos yang masih terlelap terganggu karena cayaha dari jendela. Di tutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


Calista menatap nanar keadaan kamar mereka yang tampak berantakan. Aroma minuman keras begitu menyengat membuatnya menjadi mual.


Calista keluar memanggil asisten rumah tangga untuk merapikan kamar mereka yang berantakan.


Hatinya mulai ragu tentang kepergian nya.


Calista membuka selimut yang menutupi kepala Carlos.


"Jangan ganggu aku, Bim!" kata Carlos kesal masih dengan mata terpejam kemudian menutup kepalanya kembali.


Calista tersenyum, lalu mengulang apa yang ia perbuat tadi.


"Aku gak mau kerja, Bim."


Carlos kembali menutup kepala nya kemudian mengubah posisi tidur menjadi memunggungi Calista.


Calista menepuk-nepuk pundak Carlos dan sang empu langsung menjauhkan pundaknya.


Carlos yang merasa terganggu langsung mengubah tidurnya kembali ke semula, menghadap kearah Calista.


Carlos membuka mata dan melihat Calista yang duduk di tepi ranjang dekat dengan nya sedang tersenyum menatapnya.


Carlos berdecak lalu memejamkan mata kembali. "Ternyata mabuk ku belum hilang. Bayang istriku ada dimana-mana," gumam Carlos sedih.

__ADS_1


Calista yang mendengar gumaman Carlos merasa bersalah. Ia membungkuk kemudian mengecup kening Carlos.


Spontan Carlos membuka mata dan melihat Calista sedang tersenyum. "Bahkan bayangan pun sekarang bisa menciumku. Apa aku benar-benar gila sekarang?"


Calista tersenyum mendengar ucapan Carlos, tetapi matanya nampak berkaca-kaca mendengarnya.


"Pergilah bayangan. Aku gak mau ke psikiater lagi," gumam nya merasa kesal karena bayangan Calista masih tersenyum menatapnya. Carlos memijat pelipisnya karena merasa pusing.


Calista menatap Carlos sendu. Hatinya meringis melihat penampilan suaminya sekarang. Rambut nya benar-benar memanjang dengan uban yang mulai menampak. Pipi nya yang tampak tiru.


Benar-benar tua.


Calista meraih tangan Carlos lalu di tempelkan ke perutnya yang membuncit.


Carlos terkejut, apalagi tangan nya yang berada di perut Calista merasakan tendangan-tendangan dari dalam perut.


Matanya terbelalak menyadari jika ia sedang tidak berhalusinasi. "Sayang," katanya langsung duduk dan menatap Calista dengan seksama.


Air mata Calista tak dapat dibendung lagi. Ia mengangguk seraya jatuhnya air mata ke pipi mulusnya.


"Maaf."


"Maaf."


Keduanya mengucapkan kata maaf bersamaan. Tidak ada yang ingin dilewatkan lagi. Carlos dan Calista saling berpelukan melepaskan rasa rindu yang menyeruak di hati.


"Apa kalian baik-baik saja? kalian kemana saja? susu dan periksa kehamilan masih teraturkan?" cerca Carlos melonggarkan pelukan menatap Calista.


Sekali lagi Calista mengangguk lalu mengusap air matanya. "Maafin aku, Om. Aku liburan ke Manchester," sahut Calista menunduk.


"Jangan pergi lagi," pinta Carlos lirih dengan suara bergetar dan menunduk.


Calista menghela nafas panjang. Diraih dagu Carlos dan di usap bibir suaminya itu dengan ibu jari.


"Apa ini masih milikku?" tanya Calista dengan suara manja.


Carlos meraih tangan Calista lalu mengecup telapak tangan nya. "Hanya kamu yang memilikiku, sayang. Kamu salah paham,"


"Aku tahu," jawab Calista singkat.


"Maaf, Om."


Carlos tak menjawab. Ia memajukan wajah mendekati wajah Calista dan mencium, melu mat bibir Calista dengan lembut.


Ciuman yang lembut berubah menjadi menuntut. "Aku merindukanmu, sayang." Ungkap Carlos.


"Aku juga," kata Calista menunduk malu.


"Boleh?"


Calista mengangguk kemudian ia naik ke atas ranjang duduk berhadapan dengan Carlos.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun, keduanya kembali saling berpanggut. Menyalurkan rasa rindu dan cinta yang membuncah.


Hampir satu bulan menahan rindu dan hasrat karena berpisah jarak. Jejak-jejak kepemilikan terlukis di kulit putih mulus bagian leher, punggung, dan dua buah gundukan yang semakin membesar akibat kehabisan Calista.


Bagai bayi yang sedang kehausan, Carlos meraup, menyesap, dan menjilat dua gundukan yang seakan menantang kepadanya.


Kecupan-kecupan sensual turun ke perut, bagian bawah perut, hingga sampai ke inti Calista.


Calista menggelinjang hebat ketika merasakan kecupan dan jilatan dari lidah Carlos di inti tubuhnya.


Lenguhan terdengar keluar dari bibir Calista semakin membuat Carlos menggila.


"Ahh.."


Carlos membuka seluruh pakaian nya sendiri. Kemudian membungkuk kembali menikmati inti tubuh Calista.


Carlos memasukkan jemari tengah ke dalam lubang kenikmatan inti tubuh Calista dan itu berhasil membuat sang empu melengkungkan tubuh nya secara sensual.


"Om. Aku sudah gak tahan, masukin!" rengek Calista merasakan jemari Carlos yang keluar masuk ke dalam intinya.


Carlos tersenyum lalu mengukung Calista kembali. Di sambar kembali bibir sang istri dengan rakus seraya mengarahkan Juniar masuk ke dalam rumah nya.


Terdengar lenguhan dari keduanya saat junior baru pertama kali memasuki inti Calista.


"Aku mencintaimu," bisik Carlos seraya menghentakkan pinggulnya.


"Aku lebih mencintaimu," ucap Calista di tengah desa han yang begitu nikmat.


Carlos tak membiarkan Calista terlepas kembali. Tubuh nya seakan memiliki energi baru karena Calista telah kembali.


Dan Carlos berjanji tidak akan membiarkan Calista jauh dari nya lagi walau hanya sesaat.


Carlos mengubah posisi Calista menjadi menungging. Ia masukkan kembali junior ke inti tubuh Calista dan memulai menghentak nya kembali.


Desa han dan erangan memenuhi seisi kamar bahkan terdengar dari luar kamar karena Calista tidak rapat menutup pintu tadi.


"Aku di atas," kata Calista saat Carlos ingin merebahkan Calista kembali.


Carlos tersenyum dan mengangguk. Ia pun duduk bersandar pada headboard dan membiarkan Calista naik keatas tubuhnya.


"Ahh.. Kamu selalu membuatku gila, sayang."


Carlos mengerang ketika milik nya di hujam oleh inti tubuh Calista. Hangat dan sangat sempit yang dirasa Carlos saat ini.


Ketika merasakan akan mencapai puncak, Carlos mengubah posisi kembali menjadi Calista berada di bawah kukungan nya.


Ia kembali menghentakkan pinggul lebih keras dari hentakan yang lalu. Calista terus saja mende sah dan meracau saking nikmatnya.


"Aku hampir sampai, Om." Kata Calista terbata-bata karena hentakan nya masih secepat tadi.


"Bersama, sayang."

__ADS_1


Carlos mengecup seluruh wajah Calista barulah merguling ke samping Calista. Ia memeluk Calista sedang mengatur nafas yang tersengal.


"Aku gak akan biarin kamu pergi lagi," gumam Carlos mengeratkan pelukan dengan posesif.


__ADS_2