
Fadil melajukan mobilnya menuju rumahnya dengan perasaan tak karuan. Sekali lagi ia telah membuat Mario marah dan kecewa karena sudah memilih Dewi.
Tetapi, Fadil akan berusaha sekuat hati untuk meluluhkan hati Mario kembali. Ia tentu tahu betul bila sang anak sangat dekat dengan nya dan yakin lambat laun Mario akan kembali memaafkan nya.
Setibanya mobil Fadil berhenti di rumah, ia keluar dengan tergesa-gesa langsung masuk ke dalam rumah, menuju kamar nya.
Dengan raut wajah yang masih khawatir, Fadil melihat Dewi menangis di atas ranjang. "Dewi, kamu kenapa menangis? apa ada yang sakit? ada yang terluka?" cerca Fadil duduk di tepi ranjang sisi Dewi berada.
Dewi melihat Fadil sudah datang, langsung memeluk suaminya dengan posesif. "Aku takut," sahut Dewi lirih.
"Takut? apa ada yang meneror kamu di rumah?"
Dewi menggeleng dalam dekapan Fadil. "Aku cuma takut, mas. Tadi aku kebangun gak ada kamu dirumah, jadi aku telepon kamu."
"Lalu kenapa ponsel mu gak aktif?" tanya Fadil lembut seraya menenangkan Dewi.
"Baterai ponselku habis, mas. Itu aku charger," tunjuk Dewi membuat Fadil tercengang.
Di urai pelukan itu, kedua tangan Fadil berada di lengan atas Dewi. Matanya menatap Dewi begitu dalam.
"Jadi kamu menelepon ku hanya karena aku belum pulang dan ponsel mu mati karena lowbat?" tanya Fadil memastikan dan Dewi mengangguk manja seperti biasa semenjak hamil.
Mata Fadil memerah. Diraup wajahnya menggunakan telapak tangan dengan kasar. "Apa yang kamu pikirkan saat aku gak ada tadi?"
__ADS_1
"Aku.."
Fadil kembali menatap Dewi. "Apa kamu selalu berpikir seperti yang lalu? Dimana kamu selalu merasa cemburu bila aku perhatian pada Nadia? Ada apa denganmu, Dewi? kenapa kamu kekanak-kanakan begini? Apa kamu lupa kalau aku punya juga punya Nadia dan Mario?"
"Harus kamu ingat. Hubungan ku bersama Nadia bukan hanya sekedar aku yang ditinggalkan selama empat belas tahun. Kami sudah berhubungan semenjak SMA, kuliah, dan kerja bersama. Kamu juga harus tahu, sebelum Nadia menikah dengan Carlos, dia lah orang yang selalu ada untukku saat semua orang mengolok ku sebagai anak pelakor."
"Kamu juga harus tahu ini, Dewi. Aku dan Nadia memang salah. Selama empat belas tahun Nadia menjadi istri Carlos, tapi dia tetap melayaniku. Dia tetap memberi perhatian pada Mario. Bahkan, Nadia tetap menurutku agar tak hamil anak Carlos. Dari itu saja aku tahu bahwa Nadia masih menghormati ku."
"Mas."
"Tolong, Wi. Kamu tahu sendiri kalau hubungan ku dengan Mario sedang enggak baik. Itu karena kesalahanku. Tapi, kenapa sikap mu begini? kenapa kamu gak ngerti posisi ku sebagai seorang ayah?"
Fadil menutup wajahnya. "Kamu tahu, Wi. Hanya karena aku khawatir terjadi sesuatu padamu, aku mengabaikan semua ancaman anakku. Tapi lihatlah kamu hanya menangis karena aku pergi ke rumah anakku. Apa kamu gak bisa sedikit saja kasih ruang untuk kami berdua? Selama Nadia pergi, aku hidup dalam penyesalan. Enggak bisakah kamu ngerti sedikit saja?"
"Aku gak pernah menyesali itu, Dewi. Tapi kamu harus mengerti, aku bukanlah pria lajang saat menikahimu. Aku sudah memiliki istri dan anak."
"Dan sekarang, istri pertamaku sudah tiada. Apa kamu gak bisa kasih waktu untukku dan Mario? Tapi sekarang percuma. Mario sudah tak mau menganggapku ada."
Fadil bangkit langsung meninggalkan Dewi yang masih terpaku. Hatinya hancur. Bisakah mengembalikan waktu beberapa saat lalu jika saja ia mengetahui Dewi menangis hanya karena tak ada dirinya saat terbangun?
...----------------...
Malvyn menepuk pundak Mario yang mengkilap karena keringat. "Sudah cukup. Sudah waktunya istirahat. Kamu sudah banyak menangis, marah, dan berpikir hari ini."
__ADS_1
"Aku belum capek," jawab Mario datar.
"Sesuai perjanjian. Kamu merasa rapuh hanya sampai batas jam dua belas malam. Dan sekarang sudah lewat dua menit," ujar Malvyn melihat jam dinding yang berada di ruang latihan rumah Carlos.
Setelah perdebatan antara Mario dan Fadil tadi, Malvyn segera membawa Mario ke rumah Carlos dan Calista. Karena hanya disana tempat ternyaman untuk melampiaskan amarah.
Carlos memberi izin adik ipar nya itu menggunakan semua alat latihan nya dengan bebas. Yang terpenting jangan mengganggu aktivitas nya bersama Calista.
Mario menuangkan amarah nyabpada samsak tinju sebagai pelampiasan. Kekecewaan yang semakin dalam karena Fadil lebih memilih Dewi daripada dirinya.
Bukan tanpa alasan Mario mengajukan pilihan dan ancaman terhadap Fadil. Itu karena hal seperti tadi sudah berulang kali terjadi ketika Fadil mencuri-curi waktu untuk mengunjungi Nadia.
Mario mengambil handuk kecil begitu juga Malvyn. Kedua pemuda itu seakan anak kembar yang sudah melakukan apapun bersama.
Setelah mengelap keringat, kedua pemuda tersebut duduk dan meminum air mineral. Setelahnya mengambil ponsel, memeriksa apa saja yang masuk ke dalam ponsel mereka.
"Amel titip salam," celetuk Mario pada Malvyn.
Malvyn berdecak tak suka. "Aku gak suka sama cewek berpakaian seksi," katanya.
"Tapi dia cantik dan sudah suka sama, Bos sejak kita SMP."
"Tapi aku gak suka. Untukmu saja."
__ADS_1
"Apalagi aku. Aku gak ingin menikah," ungkap Mario karena begitu trauma.