Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
51. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Baru ingat, datang ke rumah orang tua?" sindir Edzard menatap Carlos sinis.


Calista segera menghampiri Edzard dan merangkul papinya itu masuk ke dalam rumah daripada harus berselisih paham lagi dengan suaminya.


"Sayang. Kenapa aku yang di tinggal?" rajuk Carlos kemudian melangkah cepat mengimbangi langkah Calista dan Edzard.


Calista terkekeh tanpa menjawab. Ia berjalan menuju dapur meninggalkan dua pria dewasa yang sangat di cinta nya.


Calista mendatangi Ivy dan memeluknya dengan erat. "Aku merindukan, Mami."


Ivy tersenyum seraya mengusap kepala Calista dengan sayang. "Mami juga. Kamu sendiri?"


"Enggak, Mi. Ada Om Carlos di depan bersama Papi."


"Kenapa kamu tinggalkan mereka, Calista? kalau terjadi sesuatu gimana?" omel Ivy membuat Calista mencebik.


"Mereka butuh waktu berdua agar saling mengenal, Mi!" ucap Calista melepas pelukan, menatap hidangan makan malam yang sudah tersaji di meja makan.


Ivy mengangguk setuju.


Calista membantu Ivy menyajikan jus yang sudah di buat ke atas meja.


"Calista. Leon menanyakan kabarmu kemarin," ucap Ivy lirih membuat Calista membeku.


Calista menghela nafas. "Gimana kabar Kak Leon, Mi? apa Mami katakan kalau aku menikah dengan Om Carlos?"


Ivy juga ikut menghela nafas. "Mami hanya bilang kamu baik-baik saja. Kalau soal pernikahanmu, lebih baik kamu yang ngomong. Mami khawatir dengan perjodohan Leon dengan adikmu Malya."


"Mi. Apa harus ada perjodohan itu? aku takut Malya gak bahagia," cemas Calista.


Ivy menghela nafas lagi. "Andai bisa. Tapi kamu tahu kan Papi Ed dan Om Aaron gak akan mungkin batalkan pernikahan itu apalagi menyangkut permintaan Oma kalian. Awalnya Mami merasa tenang saat kalian menjalin kasih. Tapi takdir berkata lain," ungkap Ivy.


"Maafin Calista, Mi."


"Ini bukan salah kamu. Ayo kita panggil suami-suami kita."


...----------------...


"Gimana perceraian mu?" tanya Edzard.


"Lancar."


"Ku dengar Nadia hamil. Gimana bisa kalian bercerai?"


"Itu anak Fadil. Aku gak pernah bercinta lagi dengan Nadia setelah istri kecilku memberi izin untuk bercinta dengan nya," sahut Carlos santai sembari memakan kacang polong di toples yang tadinya di atas meja.

__ADS_1


"Istri kecil mu itu anakku, gila."


Carlos terkekeh. "Ya. Aku memang tergila-gila pada anak angkatmu itu," Carlos tersenyum membayangkan sikap manja dan fantasi liar Calista jika sedang bercinta.


Edzard memerhatikan Carlos yang tengah melamun sambil senyum-senyum. Di jitak kepala Carlos karena tahu menantunya sedang membayangkan anak angkatnya.


"Sakit, Ed."


Edzard melotot mendengar Carlos memanggilnya dengan nama tanpa embel-embel sebutan untuk mertua.


"Dasar menantu lak nat. Aku ini mertua mu dan awas saja kalau kamu gagahi anakku tanpa jeda. Dia sedang hamil," pekik Edzard merasa geram.


Carlos mengusap kepala bekas jitak Edzard tadi. "Apa kamu pikir aku terlalu gila sampai gak beri waktu untuk istirahat istriku. Aarrgh.. Kamu menyebalkan, Ed!" pekik Carlos mendekati Edzard.


Dirangkul leher Edzard kemudian menjitak kepala mertuanya itu seperti Edzard sering melakukan ini padanya.


"Dasar menantu sialan. Lepas gak?" pekik Edzard sembari memukuli Carlos.


"Gak akan. Aku sudah bersabar selama ini. Rasakan," ucap Carlos.


Pada akhirnya kedua pria dewasa itu saling menyerang dan membalas. Tetapi tidaklah sebuah kekerasan seperti para musuh di luar sana.


Calista dan Ivy masuk ke ruang keluarga dimana Carlos dan Edzard sedang adu skill. Kedua wanita beda usia tersebut terperangah melihat suami mereka tengah berseteru.


"Papi."


Kedua pria tersebut langsung menghentikan aksi dan menoleh ke sumber suara yang memanggil mereka.


"Ya ampun. Apa kalian lupa sama umur? sebentar lagi kalian sudah punya anak dan cucu," pekik Ivy mengacak pinggang.


Carlos dan Edzard hanya diam meringis mendengar omelan dari Ivy. Wanita itu masih saja bisa membungkam lawan bicaranya.


Calista mendekati Carlos. Merapikan rambut dan kaos yang sudah kusut dipakai Carlos, begitu juga Ivy.


"Ayo kita makan, Om. Habis itu temani aku di kamar."


Akhirnya mereka berempat makan malam bersama tanpa mengobrol sesuatu yang penting selain saling sindir.


...----------------...


Anita memandangi kartu nama milik William. Hingga kini belum juga menghubungi pria dewasa itu.


"Apa aku harus hubungi Om itu? aku butuh kerjaan."


Selama ini, jika Calista mengajaknya main ke rumah selalu beralasan hendak bekerja, padahal Anita harus mencari pekerjaan untuk membayar kos dan biaya makan nya.

__ADS_1


Anita mengambil ponsel lalu mendial nomor ponsel William. Matanya melotot panggilan baru saja tersambung sudah di terima di oleh William.


"Ha-hallo," ucap Anita gugup.


"Hallo. Dengan siapa?"


"Aku Anita, teman Calista, Om."


"Oh iya. Gimana? apa kamu butuh kerjaan? kalau butuh, besok setelah pulang kuliah datang ke Kantor Om. Di tunggu."


Anita tersenyum dengan menahan gugup dan degub jantung yang berlebih. "Baik, Om."


Cukup lama Anita menunggu sahutan suara William hingga ia melihat ponselnya kembali. Ia menganga tak menyadari bila sambungan telepon itu ternyata sudah terputus.


"Jadi Om William sudah matikan sambungan? tanpa permisi begitu? ya ampun. Saat di depan Calista sangat ramah, kenapa ini begitu sombong?"


Anita mendadak merasa kesal pada William. Tetapi harus di tahan karena ia sangat membutuhkan pekerjaan.


Esok harinya, seperti yang di katakan William. Anita pergi ke Perusahaan William sesuai alamat yang tertera di kartu nama.


Anita membayar ojek online lalu masuk ke Perusahaan tersebut. Di datangi Resepsionis dan mengatakan bila ia sudah memiliki janji dengan William.


Anita menuju ke ruangan William di antar seorang office boy. Hingga sampai di lantai tertinggi, ketika dirinya hendak mengetuk pintu ruang kerja William dicegah seorang sekretaris.


"Jangan di ketuk," cegah sekretaris tersebut.


"Kenapa mbak? aku sudah membuat janji," ucap Anita kemudian mengetuk pintu ruang kerja William.


Cukup lama Anita mengetuknya dan tak menggubris larangan sekretari itu. Pintu terbuka menampakkan William dengan wajah kesal, kemeja berantakan, dan rambut acak-acakan.


Anita mengintip di dalam ruangan tersebut. Matanya melotot melihat ada seorang wanita sedang memperbaiki pakaian dengan rambut acak-acakan.


Ia menelan saliva dengan kasar. Sepertinya ia datang di saat tidak tepat dan pada orang yang salah.


William menatap sekretaris nya dengan tajam. Padahal tadi sudah berpesan untuk melarang siapapun mengganggu waktu dengan wanitanya.


"Maaf mengganggu, Om." cicit Anita.


"Hem. Masuklah," sahut William dingin.


"Sekarang, Om?" tanya Anita mendadak khawatir.


"Masuk sekarang atau gak sama sekali," sahut William lagi membuat Anita masuk.


Anita melirik ke arah wanita itu yang menatapnya dengan tajam. Bagaimana tidak? permainan mereka belum tuntas tapi Anita mengganggu.

__ADS_1


Anita duduk di hadapan William yang duduk di kursi kebesarannya. Memerhatikan gadis muda yang tampar cantik natural.


"Jika ingin bekerja dengan ku, kamu harus tinggal bersama ku."


__ADS_2