Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
64. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista sedari tadi hanya bisa mendesah pasrah melihat kelakuan empat pria dewasa yang sedari tadi berdebat hanya karena memilih model dan warna baju bayi.


Ya. Hari ini, Carlos sengaja tidak masuk kerja karena jadwal periksa kandungan dan sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka.


Jenis kelamin anak Carlos dan Calista adalah laki-laki. Saat itu juga Carlos meneteskan air mata. Berulang kali mengucapkan terimakasih pada Calista yang sudah mau mengandung anaknya.


"Andai kamu gak datang padaku dan meminta tanggung jawab dariku, aku gak pernah tahu bila aku akan memiliki anak," itulah ucapan Carlos pada Calista.


Dan disinilah mereka, di dalam Pusat Perbelanjaan Mom and Kids. Dimana toko tersebut menjual kebutuhan Ibu dan Anak.


Edzard, Wildan, dan William tak mau kalah antusias dengan Carlos untuk mempersiapkan kebutuhan anak dan melahirkan Calista.


Calista berjalan ditemani oleh Ivy memilih kebutuhan apa saja buat melahirkan.


"Mami, aku lahiran masih tiga bulan lagi. Kenapa harus sekarang membeli perlengkapan melahirkan?" tanya Calista.


Ivy tampak menghela nafas panjang. "Apa kamu mau belanja lagi bersama empat pria dewasa itu? Mami saja pusing," jawab Ivy kemudian tertawa bersama Calista.


...----------------...


Carlos memilih baju bayi laki-laki sesuai seleranya. Ia tak ingin ada warna lain selain warna biru, tetapi tiga pria teman sekaligus pemilik status kekeluargaan lebih tinggi darinya selalu mengganggu.


"Warna merah juga."


"Hitam dan abu-abu."


"Putih juga keren."


Carlos memutar bola mata jengah melihat kelakuan mereka. "Tolong bungkusan semua model pakaian bayi dengan warna yang berbeda di toko ini," cetus Carlos membuat Calista kaget.


Calista mendatangi Carlos untuk menegur. "Om. Nanti gak ke pakai. Bayi itu cepat gede nya."


Carlos mendengus sebal. "Mereka selalu buat rusuh, sayang. Nanti kalau gak terpakai, kita kasih ke Panti Asuhan saja."


Akhirnya Calista mengangguk setuju. "Baiklah. Yang sabar. Bukankah anak kita pemilik tahta tertinggi? anak kita cucu pertama," hibur Calista agar Carlos tak lagi kesal kepada yang lain.


"Ya," senyum Carlos terbit setelah muncul ide dikepalanya.


Carlos pun kembali semangat memilih perlengkapan bayi. Bahkan membiarkan empat pria dewasa lain nya ikut memilih.

__ADS_1


Seusai puas memilih apa saja yang disukai, Carlos langsung memanggil penjaga toko. "Mbak, semua belanjaan ini yang bayar mereka!" tunjuk Carlos pada tiga pria dewasa yang notabenenya teman sekaligus memiliki tahta lebih tinggi di kekeluargaan.


"Kau. Menantu gila," umpat Edzard seraya mengeluarkan dompet mengambil salah satu kartu sakti nya.


"Biar aku saja, Ed." ucap Wildan dan Edzard pun mengalah.


Carlos tertawa girang melihat wajah mereka memerah melihat total harga belanjaan mereka.


"Om usil banget," tegur Calista.


"Sekali doang, sayang. Jangan hanya aku yang mereka siksa."


Selesai belanja, mereka makan siang bersama di warung nasi Padang. Memilih tempat itu karena Calista yang meminta.


"Kalau bukan karena permintaan cucu, aku gak mau makan berlemak begini, Sumo." gerutu Edzard membuat Ivy terkekeh.


"Hanya sesekali, Pi."


Edzard menggeleng. "Aku gak mau buncit, Sumo."


Carlos juga menatap Calista yang makan dengan lahap. "Kayaknya aku harus nge-gym lagi, sayang. Aku takut gak tampan lagi," celetuk Carlos membuat Calista tersedak.


Calista menerima gelas yang diberikan Carlos lalu meminum nya sampai tandas. Belum juga Carlos duduk kembali dengan sempurna, kepalanya sudah mendapat tiga timpukan dari Edzard, Wildan, dan William.


"Sok tampan," ejek Edzard.


"Punya menantu kok narsis," umpat Wildan.


"Sumpah. Kau bukan seperti Carlos yang ku kenal," ungkap William.


Carlos mengelus kepala bekas timpukan mereka seraya menghela nafas panjang. Rasanya ingin sekali ia membalas perbuatan tiga pria itu tetapi selalu kalah bila sudah dikaitkan dengan posisi nya sebagai menantu.


"Kalian menyebalkan," umpat Carlos.


...----------------...


Pada kehamilan bulan keempat, Dewi sudah tidak mengalami namanya morning sickness lagi. Dewi juga sudah makan dan minum dengan normal.


Dewi juga mengetahui perubahan Fadil setelah kepergian Nadia. Sedih sudah pasti, beruntung anak asuh mereka selalu menghiburnya.

__ADS_1


"Gimana, mas? apa Mario sudah mau bicara dengan, mas?" tanya Dewi melihat Fadil baru saja masuk rumah, sebelumnya mengunjungi rumah Nadia dimana Mario tengah berada disana.


"Masih belum. Mas ke kebun dulu, ya." ucap Fadil memeluk Dewi sejenak lalu keluar rumah lagi.


Dewi menghela nafas lalu masuk ke dalam kamar mengambil tas jinjing, memasukkan dompet dan ponsel nya.


Dewi keluar rumah langsung menaiki sepeda motornya menuju rumah Nadia. Rasanya ingin sekali melihat ayah dan anak sambungnya akur seperti yang pernah dilihatnya sebelum dinikahi Fadil.


Beberapa saat sepeda motor Dewi sudah terparkir di depan rumah bercat putih lantai dua tersebut. Di buka helm yang dikenakan nya barulah turun dari sepeda motor.


"Bi Nur, apa ada Mario di dalam?" tanya Dewi lembut.


"Ada, Bu. Den Mario dibelakang."


Dewi mengangguk paham langsung ke belakang. Yang diketahuinya, di belakang rumah ada gazebo dan Nadia sering disana.


"Mario," panggil Dewi membuat Mario berbalik kearahnya, yang sebelumnya tengah berdiri membelakangi nya.


Mario tak menjawab. Menatap Dewi dengan tatapan nya dingin dengan wajah yang datar. Pemuda yang beranjak dewasa itu hanya diam tanpa berkata apapun, bahkan tak mempersilahkan Dewi agar duduk.


"Bunda ingin bicara padamu," ucap Dewi lembut.


"Anda hanya istri baru ayahku, tapi bukan berarti anda bisa menggantikan posisi ibuku!" Tangan Mario terkepal erat, matanya menatap nyalang pada Dewi.


Dewi terdiam menahan sesak di dada. Dari kalimat yang baru saja terucap dari mulut Mario sudah menandakan bahwa anak sambungnya tersebut tidak menerima kehadirannya.


"Sebagai seorang wanita seharusnya anda mengerti bagaimana perasaan wanita lain yang sedang hamil melihat suaminya menikah lagi."


Mario tersenyum miring seraya menyilangkan kedua tangan di dada. "Ah aku lupa. Tentu anda gak akan mengerti. Buktinya, anda merasa baik-baik saja melihat ibuku menderita dan membiarkan ayahku menghabiskan waktu bersama anda tanpa mengingat ada aku dikehidupan suami tercinta anda."


Dewi mengerjap mata seraya tetesan air mata membasahi pipinya. Tetapi tidak ada sedikitpun rasa iba dari Mario. Hatinya sudah terlanjur sakit atas apa yang terjadi pada ibunya.


"Silahkan pergi dari rumah saya. Anda datang kesini tanpa saya undang dan saya terima sedikitpun," ucap Mario lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah meninggalkan Dewi.


Dewi pergi dari rumah Nadia dengan perasaan luka dan masih mencerna setiap kalimat yang terlontar dari Mario tadi.


"Benarkah aku sejahat itu?" gumam Dewi.


Bayangan dimana saat ia terus saja merasa cemburu atas perhatian Fadil pada Nadia setiap jadwal kunjungan hingga melakukan segala cara agar Fadil lebih memperhatikan dirinya walau masih berada di rumah Nadia.

__ADS_1


"Aku jahat."


__ADS_2