Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
37. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Ivy terus menggenggam tangan Edzard karena sedari tadi sudah emosi melihat perlakuan Nadia terhadap Carlos.


"Kami kesini mau menitipkan Calista pada Carlos," ucap Ivy penuh makna.


Nadia menoleh ke arah Carlos merasa bingung. "Memangnya kalian mau kemana?"


Ivy memaksa tersenyum. "Kami ingin bulan madu kembali," sahut Ivy bohong.


"Jadi sekarang Ivy dimana?"


"Ada di kamar tamu."


Edzard dan Ivy pamit kembali pulang. Tentunya dengan ancaman Edzard yang akan membunuh Carlos bila terjadi sesuatu pada Calista karena telah memasukkan ke rumah nya dan Nadia.


Wajah Carlos berubah datar ketika menyisakan dirinya dan Nadia. Ia pun beranjak hendak ke kamar Calista.


"Kamu mau kemana, Carl?" tanya Nadia melihat Carlos beranjak.


"Ke kamar Calista," sahutnya Carlos terus melangkahkan kaki menuju kamar istri kecilnya.


Nadia mengerutkan dahi merasa janggal tetapi ia tepis kan perasaan negatif itu. Lebih baik ke kamar, membersihkan diri dan bersiap menggoda Carlos yang memang sudah sangat lama sekali tidak menggauli nya. Apalagi ketika mengetahui jika suaminya telahenikah lagi, malam ini berniat untuk merayu Carlos lagi.


...****...


Di kamar tamu yang ditempati Calista. Carlos masuk langsung mendekati dan naik ke atas ranjang membuat Calista terbangun.


Masih dengan rasa kantuk, Calista berbicara dengan suara serak khas bangun tidur. "Papi dan Mami sudah pulang?"


"Sudah sayang," sahut Carlos masuk ke dalam selimut yang sama dan memeluk istri kecilnya itu.


"Ya terus Om ngapain kesini? sana sama Tante Nadia," seru Calista walau ada rasa nyeri dihati ketika mengatakan kalimat itu pada Carlos.


Carlos yang sedang memeluk Calista langsung memundurkan wajahnya menatap sang istri. "Aku ingin tidur dengan, mu. Kenapa diusir?"


"Om.. Aku gak mau buat Tante Nadia curiga," ucap Calista lirih.


Carlos menghela nafas sejenak tak menghiraukan ucapan Calista. Lebih memilih mengukung tubuh istri kecilnya.


"Jangan menolakku, Calt!" ujar Carlos ketika melihat Calista hendak melayangkan penolakan.


Akhirnya Calista pasrah dan sekuat tenaga menahan suara desa han nikmat itu tidak keluar dari bibirnya.


Carlos yang mengerti langsung membungkam mulut Calista dengan bibirnya. Tubuh istri kecilnya sudah menjadi candu baginya. Setiap saat selalu merasa rindu bila berjauhan atau berdekatan, jika boleh jujur Carlos akan mengakui dengan lantang selama masa lajang dan menikah, baru tubuh Calista lah yang begitu di puja nya.

__ADS_1


Ia tidak tahu mengapa, padahal jika melihat postur tubuh justru Nadia lebih mon tok tetapi melihat tubuh Calista yang ramping dengan dua gunung kembar yang sesuai dengan tinggi tubuh serta bokong yang juga besar normal, membuat Carlos seakan ketagihan.


"Ssstthh.. Kamu selalu buat aku nagih," Carlos terus memacu gerakan nya karena tak lama lagi mencapai pelepasan.


"Aku hampir sampai Om. Aahh,"


Saat Carlos juga akan sampai pada puncak nirwana, dengan cepat menyambar bibir Calista agar keduanya tak mengeluarkan suara yang akan mengundang curiga.


"Aku mencintaimu, Calt!" ucap Carlos kemudian mengecup kening dan bibir Calista lalu berguling ke samping.


"Om. Aku mau tidur," gumam Calista masih kelelahan akibat pergulatan mereka.


Carlos bangkit mengecup perut Calista berulang kali barulah menyelimuti istri kecilnya. Ia beranjak, melangkah menuju kamar mandi.


Sedang di kamar utama rumah Carlos, Nadia sedari tadi berjalan mondar-mandir di balik pintu menunggu kedatang suaminya.


"Apa yang sedang mereka bicarakan sehingga lama begini?" gumam Nadia masih mondar-mandir sembari meremas jemarinya.


...****...


Usai membersihkan diri, Carlos keluar kamar menuju kamarnya dengan Nadia. Betapa terkejutnya melihat penampilan Nadia ketika membuka kamarnya.


"Honey," panggil Nadia girang.


Ada rasa bersalah, tetapi saat kejadian dimana Calista memancingnya untuk melihat Nadia di pinggiran kota tak mungkin diabaikan.


Ia harus segera mencari tahu apa maksud dari Calista menunjukkan itu dan apa yang disembunyikan Nadia darinya.


"Kenapa kamu memakai baju tidur kayak gitu?" tanya Carlos.


Nadia tersenyum lalu mendekati Carlos dan mengalungkan kedua tangan dileher sang suami.


"Apa kamu lupa, kalau aku memang selalu memakai pakaian begini saat mau tidur? aku merindukan sentuhan mu, Carl!"


Respon Carlos hanya datar. "Tidurlah, ini sudah sangat larut!" Carlos melepaskan kedua tangan Nadia dari lehernya.


"Kenapa kamu menolakku, Carlos? apa kamu lupa kalau aku juga istrimu?" sentak Nadia kesal.


Carlos balik badan. "Maaf. Aku akan membicarakan masalah kita besok. Aku sangat lelah," ia tak ingin berdebat karena juga diserang rasa kantuk.


Nadia mengeluarkan jurus andalan yaitu menangis. Tetapi tak ditanggapi Carlos karena pria itu benar-benar merasa lelah dan kantuk secara bersamaan.


...****...

__ADS_1


Sedang di dalam kamar tamu, Calista terisak meratapi nasib yang tak baik. Bagaimana pun perasaan nya dan Carlos yang sudah saling mencintai, tetapi statusnya tidaklah dibenarkan.


Calista berada di pihak yang bersalah.


"Kenapa aku menjadi lebih cengeng saat hamil?"


...****...


Paginya, Calista sudah bersiap untuk pergi kuliah. Tadi, sempat mengharuskan memakai make-up agar mata sembabnya tersamarkan.


Ia menggeleng merasa tak sanggup bila harus berada satu rumah bersama istri pertama Carlos.


Bagaimana harus sanggup bila pemandangan kemesraan Carlos dan Nadia yang tersaji pertama kali ketika mendatangi ruang makan di rumah itu.


Bukan. Lebih tepatnya Nadia yang melakukan adegan mesra itu.


"Wah.. Maaf aku mengganggu kemesraan kalian," pekik Calista berpura-pura terkejut dan itu berhasil membuat Carlos langsung menjauhkan Nadia dari jangkauan.


"Say,-"


"Pagi Om, Tan!" potong Calista saat mendengar Carlos hendak memanggilnya sayang.


"Pagi," ucap Carlos lirih menatap Calista dengan perasaan bersalah.


"Pagi, cantik. Gimana tidurnya? nyenyak?"


"Lumayan, Tante."


Ketiganya sarapan dalam diam. Carlos makan dengan mimik wajah datar sesekali mencuri pandang ke arah Calista, Nadia dengan perhatian nya, dan Calista yang cuek tak ingin melihat pasangan suami istri dihadapan nya.


"Jangan seperti ini, Nad. Ada Calista," ucap Carlos semakin tak enak hati pada Calista karena Nadia kembali mengecup pipinya.


"Aku gak apa kok, Om. Papi dan Mami juga begitu kalau sedang berdua," kilah Calista kemudian memalingkan wajah tak ingin menatap Carlos.


"Nah. Calista saja mengerti," tutur Nadia senang.


Carlos dan Calista masuk ke dalam mobil yang sama. Tidak ada yang mengeluarkan suara karena Calista memilih memejamkan mata demi bisa menahan air mata yang sudah mulai ingin keluar lagi.


"Sayang," ucap Carlos lirih.


"Jangan berbicara padaku dulu, Om."


Carlos mengalah karena tak ingin membuat Calista lebih marah lagi padanya dan itu akan berpengaruh pada kehamilan.

__ADS_1


Setelah tiba di depan gerbang kampus, Calista turun tanpa sepatah kata bahkan ketika menutup pintu mobil dengan kasar hingga Carlos terlonjat.


__ADS_2