Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
47. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Sepulang Kuliah, Calista mampir di salah satu Pusat Perbelanjaan bersama Carlos. Keduanya hendak menghabiskan waktu bersama kala itu.


"Om, jangan terlalu banyak beli baju hamil untukku."


Carlos yang sedang memilih baju hamil langsung menoleh ke arah Calista. "Sayang, baju ini cantik-cantik. Pasti sangat cantik kalau di pakai sama kamu," tuturnya mendekati Calista membawa satu buah dress khusus hamil.


Dilekatkan dress tersebut ke tubuh Calista. Senyuman nya yang tak pernah surut memancarkan kebahagiaan membuat Calista tertular dengan kebahagiaan itu.


"Aku suka yang biru, Om."


"Ini?" tanya Carlos dan di angguki Calista.


Usai berbelanja, Carlos dan Calista berjalan beriringan dengan kedua tangan saling bertaut dan satu tangan Calista yang lain merangkul Carlos.


Banyak pasang mata yang menatap aneh keduanya karena sepasang manusia berbeda usia bergandengan tangan dengan mesra.


Calista menatap Carlos tampak murung ketika ada pemuda memandang kagum padanya.


Bahkan ketika sudah berada di Restoran, Carlos masih saja tampak murung. Calista masih memerhatikan Carlos yang tak ingin menatap kearahnya.


"Tunjukin saja kalau Om sedang cemburu," ucap Calista karena Carlos mencoba menahan rasa cemburu itu.


"Aku cemburu, tapi aku malu sama umur ku yang sudah gak pantas dilihat buat cemburu!" gumam Carlos yang masih didengar jelas oleh panca indera pendengar Calista.


Calista yang duduk berhadapan dengan Carlos langsung meraih tangan suaminya yang berada di atas meja. Di kecup berulang kali agar Carlos tenang hatinya.


"Kalau marah, sedih, cemburu atau apapun yang Om rasa ke aku, langsung ungkapin!" terang Calista.


"Aku malu. Aku malu sama umur, Calt!" ucap Carlos lirih.


"Om. Aku gak perduli dengan umur Om sama sekali. Aku suka kalau Om cemburu," ucap Calista mengaduk-aduk spaghetti lalu menyuapi Carlos.


...----------------...


Keesokan hari, Calista baru saja menyelesaikan mata kuliah yang terakhir. Anita senantiasa selalu berada di sampingnya.


Keduanya menuju Kantin sebelum pulang ke alamat masing-masing. Tapi, hari ini ada yang berbeda. Semua mata seakan memandang nya dengan tatapan mengintimidasi.


"Nit. Kenapa aku ngerasa semua natap kearah kita, ya?" tanya Calista melihat sekeliling Kantin begitu juga Anita.


"Iya sih. Tapi sudahlah, jangan dipikirin. Sekarang ayo makan sebelum jemputan kamu datang."


Calista mengangguk. Anita memesankan makanan untuk mereka berdua. Sedang dirinya menunggu di bangku pojokan.


Calista spontan terkejut karena seseorang menyiram minuman ke atas kepala dengan sengaja.

__ADS_1


"Uups... Maaf," ucap mahasiswi tersebut yang tak lain adalah Meta yang sedari awal masuk kuliah tak menyukai Calista.


Calista tak menjawab. Lebih memilih membersihkan tubuhnya yang basah apalagi rambut nya yang selalu di sayang nya.


"Oh lihatlah. Dia seolah tak terjadi apa-apa," ejek Meta lagi membuat teman-teman nya ikut menertawakan Calista.


"Berhentilah menertawakan ku, Meta. Atau kamu akan menyesal," gumam Calista tak ingin membalas perbuatan Meta karena mengingat jika sedang hamil.


"Uuhh.. Sangat takut. Ck. Ternyata harta dari orang tua angkat gak cukup sampai menjadi sugar baby," cibir Meta.


Calista membeku. Matanya menatap Meta seakan meminta penjelasan. Tentu saja tanpa di jelaskan, ia tahu maksud dari ucapan Meta.


"Berhentilah mengganggu ku, Meta."


"Gimana? enak jadi sugar baby? ajarin dong? apa ada jurus lain selain membuka selang kangan lebar-lebar?" cerca Meta semakin mencibir Calista.


Kemarin, saat Meta juga berada di Pusat Perbelanjaan yang sama. Tak sengaja melihat Calista jalan berdua bersama seorang pria dewasa. Sayangnya, Meta tak begitu jelas siapa pria tersebut.


Calista merangkul mesra pria dewasa itu dan banyak paperbag yang di tenteng pria yang bersama Calista.


"Ck..Ck..Ck. Dasar murah an," desis Meta kemudian berlalu meninggalkan Calista dan diikuti dua orang teman nya.


Calista hanya diam menatap datar kepergian Meta. Wajah memang datar tetapi air mata itu sesekali menetes.


"Aku mau pulang," ucap Calista dengan suara parau.


Anita masih panik dan khawatir. "Kita cuci rambutmu, dulu ya. Aku takut suamimu marah," gumam Anita tetapi Calista menggeleng.


"Aku mau pulang," ucap Calista lagi dengan suara parau.


Akhirnya Anita setuju langsung mengantar Calista ke parkiran karena Agus sudah menunggu disana.


Anita tak ikut karena harus bekerja part time setelah pulang kuliah. Di dalam mobil, Calista hanya diam sesekali mengusap pipi karena air matanya mengalir tanpa di perintah.


"Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Agus khawatir.


Bukan tanpa alasan, selain Calista adalah Nyonya kesayangan Carlos, gadis muda tersebut tengah mengandung pewaris Martinez Group yang harus di jaga dengan benar.


Calista melirik ke arah Agus. "Aku baik-baik saja, Pak."


"Apa Nyonya ingin sesuatu? es krim? buah? atau mau bertemu Tuan?"


Calista mengangguk lemah. "Aku mau pulang," gumam nya.


Suasana hati Calista mendadak buruk setelah mendengar ucapan Meta tadi. Apa sebegitu rendah dirinya?

__ADS_1


Sesampainya di rumah, semua pelayan merasa khawatir dengan keadaan Calista yang berantakan.


"Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbok Iyem.


"Aku mau mandi air hangat, Mbok. Kepala ku sedikit pusing," ucap Calista menaiki tangga dengan perlahan diikuti Mbok Iyem.


"Akan saya siapkan, Nya."


Calista hanya mengangguk lalu membuka pintu kamar dan langsung duduk di tepi ranjang menunggu Mbok Iyem menyiapkan air hangat.


Setelah selesai, Calista langsung berendam air hangat untuk beberapa saat. Menenangkan hati dan pikiran walau tetap saja setiap ucapan Meta sudah meracuni pikiran nya saat ini.


Puas berendam, Calista memakai pakaian rumahan lalu merebahkan tubuh ke atas ranjang lalu masuk ke dalam selimut.


...----------------...


Carlos pulang sedikit terlambat hari ini. Banyaknya pekerjaan membuat waktu bersama Calista berkurang.


Andai saja masih seperti yang lalu sebelum Calista disibukkan dengan mata kuliah, pasti Carlos sudah membawa istrinya itu ke Kantor seperti waktu lalu.


Carlos masuk ke dalam dapur mengambil air dingin. "Mbok. Apa yang dikerjakan istriku setelah pulang kuliah? apa dia sudah minum susu?"


"Maaf, Tuan. Nyonya sepulang kuliah hanya ngurung diri di kamar," lapor Mbok Iyem membuat Carlos tersedak minuman dinginnya.


"Gimana bisa istriku di kamar saja? Apa Agus mengatakan sesuatu?" cerca Carlos.


"Kata Agus, saat Nyonya masuk mobil dalam keadaan murung dan menangis, Tuan."


Tanpa menjawab ucapan Mbok Iyem lagi, Carlos segera naik tangga menuju kamar mereka. Di buka perlahan pintu kamar dan terlihatlah Calista sedang meringkuk di balik selimut.


Di dekati ranjang lalu duduk di tepinya pada sisi Calista berbaring. Di usap rambutnya dengan sayang.


Carlos tahu jika sang istri sedang bersedih sekarang.


"Sayang," panggilnya membuat Calista mengerjap dan membuka mata.


"Om," ucap Calista bangkit kemudian memeluk Carlos.


Carlos membalas pelukan itu seraya membelai rambut Calista dan sesekali mengecup pucuk kepala istrinya.


"Kamu kenapa?" tanya Carlos.


Sedang Calista menggeleng dengan mata terpejam. Berada dalam pelukan Carlos adalah tempat yang begitu menenangkan. Seakan penawar dari segala yang tengah dihadapinya.


"Aku kangen. Om sibuk kerja dan aku sibuk kuliah. Waktu kita tersita," gumam Calista enggan mengungkapkan apa yang tengah dialami. Tetapi ungkapan rindu itu benar adanya.

__ADS_1


__ADS_2