Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
23. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista merasakan di sekujur tubuh remuk akibat pergulatan panas bersama Carlos siang tadi hingga membuatnya enggan membuka mata. Ia begitu lelah dan mengantuk.


Carlos memerhatikan Calista yang tertidur dengan damai bersembunyi di dada. Kepalanya di topang tangan nya dan satu tangan lain nya merapikan anak rambut menutupi wajah Calista.


Kepalanya menggeleng mengingat pergulatan panas siang tadi di kolam renang hingga melanjutkan di kamar hotel tempat mereka menginap sekarang.


Sungguh. Bercinta di alam terbuka seperti tadi adalah pengalaman pertama dan itu sangat menantang adrenalin. Sempat tadi ada petugas yang hendak masuk membuat mereka harus memelankan suara dan gerakan.


"Sayang. Jangan nakal, kamu bisa membangunkan Junior!" terang Carlos menahan tangan Calista di balik selimut yang tengah mengelus Junior padahal mata istri kecilnya itu sedang terpejam.


Calista terkekeh lalu mengeratkan pelukan. Ia sengaja terus merayu Carlos hingga membuat suaminya itu terus menagih kenikmatan yang ia berikan.


Biarlah untuk saat ini menikmati semua perhatian yang diberikan Carlos untuknya. Calista mendongak menatap Carlos dengan senyum penuh arti.


Calista merosot masuk ke dalam selimut lalu mengulum Junior membuat Carlos mengerang nikmat.


Di tengah kegiatan saling memberi nikmat, ponsel Calista berdering. Tetapi Carlos pikir itu adalah ponselnya karena suara dering keduanya ternyata sama.


"Sayang. Kenapa gelap? mana wajahmu?"


Suara dari sebrang telepon membuat Carlos terbelalak. Di arahkan ponsel ke depan wajah nya. Terlihat Mami Ivy khawatir namun berubah menjadi kaget.


"Ivy. Eh Ma-mi."


Bukan hanya gugup berhadapan dengan Mami Ivy. Tetapi, di bawah sana Calista semakin lihai membuatnya terus mnahan suara erangan.


"Dimana, Calista?"


Carlos tidak menjawab lantas matanya melirik Calista yang tengah di bawah lalu kembali melihat Mamy Ivy.


"Sebentar lagi."


"Baiklah, cepat tuntaskan. Papi nya sudah pulang."


Carlos bernafas lega langsung meletakkan ponsel di atas nakas kembali. "Sayang, jangan banyak gerak. Kamu nanti kelelahan," ucap Carlos langsung mengajak Calista baring.


"Aku mau melayani Om,' jawab Calista.

__ADS_1


Carlos tersenyum berada di atas tubuh Calista. "Mende sahlah. Biar aku yang bekerja."


Sekali lagi mereka melakukan nya dan Carlos melupakan ada istri pertama yang tengah marah di rumah akibat Carlos pergi dan tak memberi kabar.


Nadia mulai curiga. "Apa saat aku pergi dan marah kemarin, ada sesuatu hal besar terjadi? aku bahkan masih ingat betul kalau aku sedang datang bulan dan Carlos sedang on maka aku disuruh membantu menuntaskan hasratnya."


Nadia meremas jemari sembari berjalan mondar-mandir. Sangat jelas dari raut wajah terpancar kecemasan dan ketakutan bila Carlos mendua di luar sana.


"Enggak. Carlos gak boleh selingkuh."


...****...


"Sayang. Kamu jangan turun dari ranjang. Semua kebutuhan kamu sudah aku siapkan di atas meja," larang Carlos setelah selesai memandikan dan memakaikan pakaian Calista.


Beberapa saat lalu, ia juga telah memesan makanan dan membuatkan susu hamil serta menyediakan vitamin untuk Calista.


"Iya, Om."


"Maaf kalau aku harus pulang," ucap Carlos lirih. Sebenarnya begitu berat meninggalkan Calista sendiri apalagi tengah hamil dan kelelahan akibat ulahnya."


Calista menggenggam tangan Carlos yang sedang duduk di sebelahnya. Tatapan keduanya bertemu, Calista tersenyum.


Namun, Carlos masih enggan meninggalkan Calista sebelum istri kecilnya menghabiskan makan malam, susu hamil, dan vitamin yang disediakan.


Carlos mengecup kening dan bibir Calista dan terakhir memeluk Calista begitu erat barulah ia kembali pulang.


Setelah kepergian Carlos, seringai diwajah Calista tercetak jelas. Siapa yang tak merasa sedih bila sang suami meninggalkan kita setelah bercinta penuh kenikmatan?


...***...


Carlos baru saja tiba di rumah dan disambut oleh Nadia. "Kamu belum tidur?" tanya Carlos.


"Belum. Kamu dari mana saja? kenapa pergi gak pamit atau ngajak aku?" cerca Nadia dengan suara manja.


Nampak jelas kegugupan dari sikap Carlos namun segera berdehem menetralkan rasa gugup itu. "Ada proyek yang harus aku jalani. Aku mau kamu hanya di rumah menunggu aku pulang."


"Aku bosan kalau di rumah."

__ADS_1


Inilah yang tidak disukai Carlos. Sebelum dekat dengan Calista pun, Carlos menginginkan Nadia tetap berada di rumah menunggu dan menyambutnya pulang.


Tanpa lagi ingin berdebat dengan permasalahan yang sama, ia masuk ke dalam kamar langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Keluar kamar, Carlos melengos melihat Nadia sibuk dengan ponsel tanpa menyadiakan baju tidur untuknya. Ia tersenyum miring menyadari bahwa dirinya yang selalu menjaga hati Nadia karena tak dapat memberi nya anak tanpa memikirkan keinginan dan keharusan memiliki anak untuk kelangsungan kerajaan bisnis nya.


Carlos berjalan melewati Nadia begitu saja setelah memakai piyama keluar kamar menuju ruang kerja nya.


Hari ini waktu kerja nya terbengkalai mengurus kedua istri yang berbeda umur dan karakter.


Mengingat siang dan malam pertama bersama Calista membuat senyumnya mengembang sepanjang mengerjakan pekerjaan yang telah dikirim Bimo melalui email.


Hingga pukul tiga dini hari barulah Carlos menyelesaikan pekerjaan. Sebelum keluar dari ruang kerja, Carlos mengecek CCTV Apartemen dimana Calista berada.


Senyuman nya kembali terukir melihat istri kecilnya tengah tidur nyenyak. "Baru berapa jam aku meninggalkan mu, Calt. Tapi aku sudah merindukan mu dan juga anak kita. Kamu benar-benar sudah membuatku gila dan kembali muda," kekeh Carlos lalu menyimpan ponsel itu di tempat yang aman barulah kembali ke kamar melihat Nadia sudah tertidur.


...****...


Kegiatan Carlos setelah memiliki dua istri ialah, sarapan di rumah istri pertama lalu berangkat kerja mampir lebih dahulu ke Apartemen istri kedua barulah ke Kantor.


Tapi, hari ini istri kecil nya itu tidak dapat menyambangi Kantor saat makan siang seperti biasa karena sudah mulai sibuk mengurus keperguruan tinggi.


Tetapi, siang ini Carlos di kejutkan dengan kedatangan Nadia. "Ada apa, Nad?"


Nadia tersenyum lalu mendekati Carlos. "Makan siang diluar, yuk."


Carlos menghela nafas lalu mengangguk. Diakuinya, semenjak memperistri Calista, ia sudah jarang makan diluar bersama Nadia karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama Calista.


Nadia mengajak Carlos makan siang di restoran dekat Kantor. Dahinya berkerut ketika Nadia mengajak duduk di meja yang sudah ada seorang wanita duduk disana.


"Carl. Kenalin, ini namanya Dita!" Nadia memperkenalkan wanita yang duduk di hadapannya pada Carlos.


Carlos hanya mengangguk lalu menerima uluran tangan Dita. Ia tak curiga karena sudah biasa diperkenalkan pada teman-teman Nadia.


Mereka makan dalam diam. Nadia sendiri belum menjelaskan maksud dari memperkenalkan Dita pada Carlos.


Usai makan, Nadia berdehem lalu menggenggam tangan Carlos. "Dita adalah wanita yang akan menjadi rahim pengganti untuk kita, Carl."

__ADS_1


Hening.


Carlos masih diam menatap wajah Dita, lalu matanya tak sengaja menangkap sosok istri kecilnya tengah dudukenghadap padanya, jarak mereka hanya dua meja.


__ADS_2