
Tangan Nadia terkepal mendengar penuturan Carlos barusan. Kepalanya menggeleng tak terima jika harus menceraikan atau diceraikan Carlos.
"Aku gak mau keduanya. Aku harus melakukan sesuatu," gumam nya. Nadia keluar mencari dimana Carlos berada.
...***...
Carlos keluar dari kamar utama, menuruni anak tangga menuju kamar tamu dimana Calista berada.
Setelah pintu kamar terbuka, Carlos langsung memeluk Calista, sebelumnya sudah menutup pintu kamar. "Sayang," gumam Carlos seraya mengecup pucuk kepala Calista.
"Om, baik-baik saja?" tanya Calista setelah pelukan terurai.
Carlos mengangguk. "Ayo ke dapur. Aku buatin susu. Kamu bawa kan?"
"Bawa. Tapi gimana sama Tante, Om?"
"Jangan takut," Carlos mengecup kening dan melu mat bibir Calista singkat.
Keduanya keluar kamar berjalan beriringan tanpa pegangan atau rangkulan. Calista lah yang tak menginginkan itu.
Calista duduk di kursi meja makan sedang Carlos langsung membuat susu hamil untuknya.
"Di habiskan," titah Carlos.
Calista pun meminumnya hingga tandas. Ia membiarkan Carlos bersimpuh di hadapannya, mengelus perutnya.
"Aku gak sabar ingin ngerasain dia bergerak di dalam perutmu dan mendengar tangisan nya," ucap Carlos tulus mendongak menatap Calista.
Calista menggenggam tangan Carlos yang berada di perutnya. "Sama, Om. Aku sudah gak sabar untuk bergadang mengurus bayi kita."
Carlos bangkit, mendekatkan kursi pada Calista. "Jangan bergadang. Aku harap kamu baik-baik saja kedepan nya."
Carlos mengecup punggung tangan Calista. "Aku mencintaimu."
"Aku tahu, bahkan saat aku masih usia dua tahun kan? Ah, pesona Calista gak diragukan lagi!" ucap Calista penuh keyakinan seraya mengibas rambut pirang nya ke belakang membuat Carlos terkekeh.
Carlos mengangguk.
"Kalian sedang apa?" tanya Nadia tiba-tiba hadir diantara keduanya.
Beruntung keduanya tak ada berinteraksi yang membuat Nadia curiga.
"Aku baru saja minum susu dan Om Carlos temani aku, Tan."
Nadia hanya diam saja. Terbersit curiga tetapi tak mungkin.
"Ada apa, Nadia? apa yang kamu inginkan?" tanya Carlos muak.
"Honey, aku gak ingin berpisah darimu. Maafin aku," Nadia bersimpuh di kaki Carlos membuat sang empu dan Calista terkejut.
Calista merasa bukan ranahnya, memilih hendak meninggalkan keduanya tetapi tangan nya dicekal Carlos juga ada gelengan kepala dari suaminya itu.
__ADS_1
" Jangan akting lagi, Nad. Aku sudah muak dengan kelakuan mu. Empat belas tahun aku dibohongi dan aku yang terus mengerti kamu karena kebohongan mu yang gak bisa kasih anak. Apa kamu pantas mendapat maaf dariku?"
Mata Carlos memerah. Marah, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu. Bohong jika selama empat belas tahun itu tak memiliki perasaan pada Nadia.
Tetapi, karena tak ada yang namanya hubungan timbal balik, membuat Carlos berpaling.
"Aku terpaksa lakukan ini, Carl. Fadil gak izinin aku melahirkan anakmu. Aku sudah meminta dia untuk meninggalkan aku. Tapi dia tetap gak pernah lakukan itu," Nadia menangis. Ia pernah mencoba meminta Fadil untuk meninggalkan nya tetapi tak pernah terwujud.
Sedang Calista semakin merasa bersalah. Rencana jahatnya telah diurungkan semenjak menyadari bila ia telah jatuh cinta pada Carlos.
Melihat Nadia dan Carlos sama-sama merasa hancur justru membuat Calista berpikir dirinya benar-benar pelakor yang ingin menghancurkan rumah tangga mereka.
Aku benar-benar merasa bersalah.
"Aku bisa memberimu anak, Carl."
Tubuh Calista menegang. Tatapan nya tertuju pada Carlos yang hanya diam saja.
"Terlambat, Nad. Aku akan memiliki anak dari istri keduaku," sahut Carlos lirih.
"Bukan kah lebih asyik kalau punya dua anak sekaligus?"
Calista gundah gulana, terus memilih jemarinya. Akhirnya Calista memilih meninggalkan kedua orang itu.
Di dalam kamar. Calista menjadi takut, bagaimana bila Nadia hamil dan mengetahui dirinya adalah istri kedua Carlos.
...****...
"Aku gak ingin berdebat lagi, Nad. Pilihan ku tetap sama. Kita harus berpisah."
Nadia yang sudah duduk tak dapat menahan tangisan nya. "Apa aku sudah gak punya kesempatan? aku rela di madu."
Carlos menggeleng. "Tapi aku gak ingin memadukan istri kedua ku. Dia lah ratu sebenarnya di rumah ini."
Nadia kembali terisak. "Kamu tega."
"Ya. Maaf kalau selama ini aku gak bisa jadi suami baik untukmu. Kembalilah pada suamimu."
"Aku gak mau, aku gak mau pisah dari mu!" teriak Nadia langsung pergi meninggalkan Carlos di dapur.
Melihat reaksi Nadia membuat Carlos mendesah, di raup wajahnya dengan kasar. "Sampai kapan aku sembunyikan Calista?" gumamnya.
...****...
Di pinggiran Kota,
Malam itu Dewiasih berada di rumah anak-anak jalanan sedang mempersiapkan sesuatu.
Sesuatu kejutan untuk Fadil yang masih berkunjung ke asrama Mario sama seperti setiap bulan nya.
"Apa Ayah kalian akan senang?" tanya Dewi sedikit ragu dengan rencana nyabdan anak-anak.
__ADS_1
"Pasti, Tan. Sudah lama Ayah kesepian dan gak dapat kejutan," seru Putri.
Semua anak jalanan yang diasuh Fadil dan Dewi sudah berada di Rumah Fadil menunggu kehadiran sang empu rumah dengan memadamkan lampu.
Fadil pulang dengan wajah lelahnya. Seharian ini ia menghabiskan waktu bersama Mario, anak semata wayang nya.
Di buka sepatu lalu membuka pintu. Tanpa rasa curiga, ia meraba dinding mencari saklar lampu.
Setiba lampu menyala, ia terkejut dengan ulah anak asuh nya yang membunyikan terompet, bersorak sorai, dan memecahkan balon.
Senyum nya terukir dengan mata berkaca-kaca. Ia begitu terharu apalagi saat Dewi berjalan kearahnya dengan sebuah kue ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Mas."
Senyuman yang masih terukir itu akhirnya mengangguk dan meniup lilin setelah mengucapkan permintaan dalam hati.
"Terimakasih. Kalian membuat Ayah terkejut dan bahagia," ucap Fadil tulus menerima pelukan dari anak-anak asuhnya.
Tatapan nya beralih pada Dewi. Senyuman nya terukir. "Terimakasih, Wi. Maaf merepotkan mu."
Dewi menggeleng. "Gak repot, Mas. Aku juga senang melihat Mas senang."
Fadil tersentuh mendengarnya. Ia menunduk saat Mumu menarik kaos yang dikenakan nya.
"Ada apa, Mu?"
"Ayah cium Tante Dewi, dong. Kata Ayah, kalau dibantu orang lain ucapkan terimakasih dan beri ciuman."
Mata Fadil dan Dewi terbelalak mendengar penuturan itu. Keduanya menjadi saling pandang dan salah tingkah.
"Mumu. Itu kan hanya untuk kita yang bersaudara," jelas Fadil merasa tak enak hati.
"Tapi Ayah dan Tante teman. Teman kan saudara," celetuk Mumu lagi mengulang ucapan Fadil yang pernah diucapkan padanya.
Fadil menggaruk tengkuk leher merasa termakan ucapan nya sendiri. Ia dan Dewi semakin salah tingkah setelah anak-anak itu menyorakin "cium-cium."
"Mas."
"Wi."
"Kok gak dicium, Yah?"
Fadil menatap Dewi dengan tatapan pias. "Maafin anak-anak, Wi."
"Gak apa, Mas."
Wajah Fadil memerah saat mendekati wajah Dewi yang memang keduanya berdiri berhadapan.
CUP
Keduanya memalingkan wajah berlawanan setelah kecupan itu terjadi. Jantung keduanya berpacu begitu cepat belum tahu alasan nya.
__ADS_1