Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
82. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Carlos melirik ke arah sisi ruangan yang terdapat Calista sedang asyik mengobrol bersama Anita dan William.


Ia merasa cemburu bila diacuhkan begini oleh Calista. Semakin kesal lagi ketika ia berdehem memberi isyarat pada Calista agar segera mengusir dua orang itu tetapi tak juga peka.


Satu jam berlalu barulah William dan Anita pamit pulang. Carlos cemberut menatap Calista yang tengah tersenyum dan berjalan ke arah nya.


"Kamu menyebalkan, sayang." Rajuk Carlos ketika Calista sudah berdiri di sampingnya.


Calista terkekeh kemudian mengecup pipi Carlos. Setelahnya, ia naik ke atas brankar di bantu Carlos.


"Maaf, ya. Ayo tidur, Om kan besok boleh pulang dan aku harus kuliah besok.


Carlos mengangguk lalu mengecup kening Calista dan mengelus perut buncit istrinya itu.


****


Anita tersenyum melihat Wildan tengah duduk di teras rumah William bersama Wilson. Sudah lebih satu Minggu semenjak kejadian di kamar mandi, pria matang itu tak menyambangi rumah majikan nya.


William melihat raut wajah Anita berubah cerah merasa cemburu. Ia langsung masuk ke dalam rumah mengajak Wilson juga.


"Sudah lama, Om?" tanya Anita lembut.


"Belum."


Anita mengangguk lalu mengajak Wildan masuk ke dalam.

__ADS_1


Wildan memeluk Anita dari belakang membuat gadis itu mematung. "Om."


"Sebentar saja, An. Aku sangat merindukanmu," kata Wildan mengecup pucuk kepala Wildan semakin membuat jantung nya bertalu-talu.


"Om."


Wildan membalikkan badan Anita kearahnya. Kemudian dipeluk sekali lagi. "Maaf Om cuekin kamu. Seminggu ini Om kenluar kota meninjau proyek disana, dan sedih nya gak ada sinyal."


Anita tertegun. "Benarkah?"


Wildan mengurai pelukan, menatap Anita penuh cinta seraya mengangguk.


"Om gak marah sama aku?"


"Jangan marah. Om hanya salah paham," kata Anita kemudian menceritakan kejadian ketika William mabuk dan memeluknya menjadi terpaksa tertidur diatas dada William.


Anita juga menceritakan mengapa bisa berada dalam kamar mandi secara bersamaan hingga pakaian mereka basah juga.


Wildan mendengar penjelasan dari Anita hanya bisa menghela nafas. "Aku cemburu, An."


Anita mendongak menatap Wildan. Entah mengapa merasa lebih nyaman bersama ayah sahabatnya ini.


Walaupun ia tahu, Wildan tak sekaya William tetapi hati nya lebih menerima Wildan yang lemah lembut dan sikap kebapakan membuat Anita semakin jatuh hati pada pria matang ini.


"Tapi aku gak ada hubungan apapun dengan Om William," tutur Anita.

__ADS_1


Wildan memeluk Anita lagi. "Jangan. Cukup denganku saja," gumamnya.


"Aku belum kasih jawaban, Om."


Wildan mengeratkan pelukan. "Jangan menolakku, An. Aku tahu kamu nyaman denganku, kan?"


"Ih, sok tahu."


Wildan terkekeh mendengar suara manja Anita. "Besok malam kita kencan, gimana?" tanyanya.


Anita terkekeh. "Apa masih pantas Om kencan?" tanya Anita meledek membuat Wildan menarik hidungnya karena gemas.


"Aku tunggu jam enam agar kita makan malam di luar," tutur Wildan dan Anita mengangguk senang.


***


William mendengar semua pembicaraan antara Wildan dan Anita. Hatinya sakit, setelah sekian lama menduda dan kembali merasakan cinta tetapi justru bertepuk sebelah tangan


Tetapi ia harus berbuat apa?


Tidak mungkin ia berbuat nekad merebut Anita dari Wildan.


Hati nya tak setega itu merebut Anita dan membuat Wildan merasakan sakit hati.


Walau ia adalah pria bejat, tetapi jika urusan keluarga tak sejahat itu.

__ADS_1


__ADS_2