
"Om. Kenapa harus di tutup sih mata aku?" tanya Calista.
Mata Calista sudah ditutup menggunakan seuntai kain yang diikat pada belakang kepalanya oleh Carlos.
"Aku mau kasih kamu kejutan. Sabar ya, sebentar lagi sampai."
Senyum manis dari keduanya tak luntur sepanjang perjalanan. Sebuah kebahagian tak terhingga bagi Carlos dapat mengabulkan salah satu impian Calista.
Mobil berhenti tepat di pekarangan sebuah rumah sederhana yang dikelilingi kebun. Kebun itu berupa sayuran, buah-buahan, dan obat-obatan.
Sebelum sampai di perkebunan, pekarangan rumah sederhana itu dikelilingi rerumputan hijau yang di tata rapi. Tapak menuju pintu masuk dihiasi batu kerikil dan tanaman hijau sebagai pagar pembatas.
Carlos membuka penutup mata Calista. "Aku hitung sampai tiga baru buka mata, ya." seru Carlos dan dituruti Calista.
"Satu."
"Dua."
"Tiga," ucap Carlos dan Calista membuka mata.
Calista terpukau melihat rumah dan pemandangan yang ada. Baginya ini sangat indah.
"Om," kata Calista menoleh ke arah Carlos dengan mata berbinar.
"Apa ini rumah kita?" tanya Calista memastikan dan Carlos mengangguk tak kalah bahagia melihat Calista tampak bahagia.
Calista memeluk Carlos. "Makasih, sayang. Kamu selalu membuatku bahagia. Makasih telah mewujudkan salah satu mimpiku," ungkap Calista dan Carlos membalas pelukan Calista.
"Mimpimu adalah mimpiku, sayang. Oleh karena itu, tetaplah sehat dan bahagia agar anak kita terlahir dengan sehat dan bahagia pula."
Calista mengangguk dalam dekapan Carlos. "Om adalah kebahagiaan ku."
Carlos mengecup dan tersenyum dengan mata terpejam. Ingin rasanya Carlos hidup seribu tahun lagi agar terus bersama Calista.
"Ayo lihat rumah kita," kata Carlos membuat Calista mengurai pelukan.
Keduanya masuk ke dalam rumah sederhana yang menjadi impian itu dengan senyuman yang terus terpatri.
Pertama kali dilihat ketika masuk rumah tersebut adalah ruang tamu, ada kursi terbuat dari rotan, meja rotan. Terdapat bunga anyelir bahan plastik dengan pot kecil di tengah meja tersebut.
Senyuman Calista terus saja mengembang melihat beberapa bingkai sedang potret mereka berdua. Beberapa bingkai terdapat potret Carlos bersama Edzard, Wildan, dan William yang diambil beberapa hari lalu.
Calista berjalan masuk ke kamar pertama. Ternyata sudah ada lemari dan kasur anak motif Spiderman.
__ADS_1
Calista tersenyum merasakan pelukan Carlos dari belakang. Lantas membuatnya mengecup pipi sang suami. "Makasih, Om."
"Berterimakasih lah dengan benar, sayang. Kamar kita ada disebelah," kata Carlos.
Calista mengerti maksud dari Carlos. Ia pun berbalik ke arah sang suami dan mengalungkan kedua tangan ke leher Carlos.
Carlos menunduk mencium bibir Calista begitu lembut hingga berubah menjadi ciuman yang panas dan menuntut. Akhirnya Carlos menggendong Calista tanpa melepas ciuman menuju kamar sebelah dan membawa Calista ke atas tempat tidur.
Semenjak kehamilan Calista sudah menginjak usia enam bulan, Carlos semakin melakukan itu dengan sangat lembut.
Carlos semakin tak bisa menahan hasrat bila berada didekat Calista. Baginya, Calista dengan perut buncit justru semakin terlihat menarik dan seksi.
Bukan hanya suara desah dan erangan.
Bukan hanya suara cecapan bibir saling beradu.
Bukan hanya suara tepukan milik Carlos dan Calista saling bertemu.
Tetapi, suara decitan ranjang juga memekik ketika dua insan saling bergumul bermandi peluh.
Ia memejam kan mata diakhir puncak kenikmatan nya. Suara erangan memekik dalam kamar 3x4 meter tanpa adanya alat kedap suara.
"Makasih, sayang." ungkap Carlos mengecup kening dan bibir Calista. Suatu kebiasaan yang dilakukan setelah selesai berhubungan.
"Om," gumam Calista dalam dekapan Carlos.
"Hem. Kamu menginginkan sesuatu?" tanya Carlos memejamkan mata.
Calista yang berada di dada Carlos menggeleng. "Om ngerasa aneh enggak tadi?"
Carlos membuka mata dan melonggarkan dekapan, ia menunduk menatap sang istri. "Terlalu ribut?"
Calista mengangguk dan keduanya tertawa. Ternyata merasakan hal sama. "Mungkin begitu kalau tinggal dirumah begini, sayang."
Calista mengangguk setuju. "Kapan kita akan tinggal disini, Om?"
Carlos membelai pipi Calista lalu mengecup kening. "Nanti setelah lahiran, ya."
"Aku ikut Om saja. Jangan tinggalin aku," ucap Calista kembali mendekap tubuh Carlos dengan erat.
Carlos membalas pelukan Calista dan akhirnya mereka tertidur pulas dan bangun setelah Matahari sudah terbenam.
Setelah bangun, keduanya mandi bersama tanpa ada pergumulan panas karena Carlos tak ingin melihat sang istri sangat kelelahan akibat naf su nya yang susah dikendalikan ketika berdekatan dengan Calista.
Carlos dan Calista berjalan di kampung itu mencari warung sembako karena tidak ada bahan makanan di rumah mereka.
__ADS_1
"Orang baru ya, neng."
Calista tersenyum dan mengangguk.
"Anaknya hamil ya, pak?" tanya ibu itu pada Carlos.
Carlos hanya diam karena sudah merasa tersinggung. Wajahnya berubah muram durja atas pertanyaan itu.
Calista menyadari itu langsung menggenggam tangan Carlos dengan erat. Berharap suaminya tak sedih ataupun emosi.
"Ini suami saya, buk. Kalau begitu permisi, ya."
Dengan cepat Calista memberikan uang buat membayar belanjaan mereka. Keduanya kembali berjalan menuju rumah mereka.
"Apa aku terlihat tua?" tanya Carlos mulai insecure kembali.
Calista tak lantas menjawab. Hingga sampai di rumah juga belum menjawab. Ia memilih ke dapur dan memasak omelet sayur yang sudah sangat diinginkan sejak tadi dan memasak beras yang baru saja dibeli juga.
Carlos mengikuti Calista sampai di dapur. Bahkan masih setia menunggu sampai Calista selesai memasak.
Calista menyodorkan omelet dan sepiring nasi. Ia mempersilahkan Carlos memilih memakan omelet ditemani nasi atau tidak.
Carlos menggeleng. Ia semakin takut terlihat begitu tua bila bersanding dengan Calista.
Calista masih tak mengeluarkan suara. Tangan nya bergerak memotong omelet sayur itu lalu menyodorkan ke mulut Carlos.
Carlos menggeleng.
Calista mengangguk dan tersenyum dengan matanya melirik kearah omelet yang berada di depan mulut Carlos. Seakan memberi isyarat agar Carlos memakan nya.
Akhirnya Carlos membuka mulut dan menerima suapan dari Calista.
"Aku sudah pernah bilang, jangan pikirkan apa kata mereka. Yang terpenting, kita menjalani nya dengan ketulusan hati saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita, Om. Aku gak ngerasa om terlihat tua walau usia memang sudah banyak. Tapi aku bahagia menikah dengan, Om."
Carlos menatap mata Calista begitu dalam seraya menerima omelet yang disodorkan padanya. "Aku mencintaimu," ungkap Carlos.
"Aku tahu dan aku juga begitu."
Calista meletakkan piring ke atas meja kemudian menyodorkan segelas air minum pada Carlos.
Carlos menerima dan meminum setengahnya kemudia menyodorkan air minum di gelas yang sama pada Calista.
Keduanya saling berpandangan dengan tatapan penuh cinta. "Tahukah kamu apa arti kebahagiaan bagiku? Kebahagiaanku adalah menunggu kamu setelah seharian bekerja keras, memasak makan malam yang lezat, merawat kamu ketika sakit dan mendukungmu di saat-saat kemenangan. Mulai sekarang, kita memiliki takdir yang sama dan satu hati untuk dua orang," ungkap Calista membuat Carlos memeluk Calista kemudian menunduk mengecup perut buncit Calista.
"Betapa bahagianya aku memiliki kalian,"
__ADS_1