Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
36. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista menghela nafas panjang melihat Carlos yang masih diam saja. Tetapi ada rasa bahagia di sudut hatinya melihat reaksi Carlos ketika dirinya dan Anita menghabiskan waktu bersama di salah satu Mall Jakarta.


Bukan tanpa alasan, ia dan Anita menghabiskan waktu disana tak luput dari para pemuda yang mengajak kenalan.


Apalagi saat Carlos ikut menonton, dengan tidak tahu malu nya seorang pemuda menyodorkan popcorn pada Calista padahal ada Carlos duduk diantaranya dan pemuda itu.


"Om cemburu, ya?"


Carlos menoleh kemudian melengos mendengar pertanyaan Calista yang semakin membuatnya kesal.


Bagaimana bisa Calista bertanya seperti itu pula?


Apa istri kecilnya tidak peka sama sekali?


"Pakek nanyak," gerutu Carlos membuat Calista terkekeh.


"Aku sebal sama kamu. Kenapa masih saja panggil aku, Om. Kamu lihat tarikan? pemuda-pemuda itu cari perhatian kamu. Padahal ada aku. Pasti mereka anggap aku ini bukan suami kamu," keluh Carlos.


Ia menghela nafas panjang. Selama berhubungan dengan wanita, baru kali ini Carlos merasa cemburu. Karena selama ini tak pernah merasakan hal itu. Bahkan pada Nadia sekalipun.


Mungkin karena sudah sama-sama dewasa dan juga menjalani kehidupan bebas sebelum menikah.


Tetapi, entah mengapa bersama Calista justru banyak perbedaan. Carlos mengalami yang namanya cemburu, khawatir, dan posesif dalam satu waktu.


Cemburu karena banyak pemuda mendekati Calista yang cantik dan masih muda.

__ADS_1


Khawatir jika Calista menemukan pria lebih tampan dan lebih muda darinya.


Posesif sering sekali ingin rasanya mengurung Calista agar hanya dia yang menikmati kecantikan dan perhatian istri kecil nya itu.


"Kenapa masih panggil aku, Om?"


"Kan sudah aku bilang, aku lebih nyaman manggil, Om."


"Tapi aku berasa tua banget kalau kamu panggil, Om!" cicit Carlos lirih yang masih dapat didengar Calista.


"Apa Om merasa insecure saat tadi ada yang kasih aku popcorn?"


Bukan menjawab, justru kembali bertanya atas penyebab yang dirasa Carlos. Ia merebahkan diri lalu memunggungi Calista.


"Baiklah, suamiku. Maafin istri kecil mu ini, ya."


"Sayang," bisik Calista.


"Enggak dengar," gumam Carlos merasa senang karena dipanggil sayang oleh Calista.


"Sayang, sayang, sayang nya aku!" goda Calista tepat di telinga Carlos.


"Baiklah. Aku sudah gak marah lagi," dikecup sekilas bibir Calista barulah mengajak tidur bersama.


...****...

__ADS_1


Hari ini adalah hari dimana Calista ikut bersama dengan Carlos. Kedua orang tua angkatnya begitu berat melepas kepergian Calista karena tak mudah menjalani hubungan yang rumit itu.


Edzard dan Ivy telah selesai bersiap begitu juga Carlos dan Calista.


"Apa istri pertamamu di rumah?" tanya Edzard datar setelah berada di dalam mobil.


Carlos mengangkat lengan melihat arloji di pergelangan tangan. "Biasa jam segini masih diluar," sahut Carlos melihat waktu masih pukul tujuh malam.


Sesampainya di kediaman Carlos. Mereka keluar mobil, dan masuk ke dalam rumah.


Carlos menempatkan Calista disalah satu kamar tamu lantai dasar. Bukan tanpa sebab, itu karena Calista sedang hamil.


"Kamu istirahat, dulu."


Calista yang duduk di tepi ranjang, menahan tangan Carlos hendak keluar kamar menemui orang tua angkatnya.


"Aku takut," ucap Calista lirih.


Akhirnya Carlos mendekap tubuh Calista agar istri kecilnya tenang lebih dahulu. "Aku akan menjagamu. Sekarang tidurlah," kata Carlos.


Ia menemani Calista hingga terlelap barulah keluar kamar. Mereka bertiga sudah membicarakan rencana selanjutnya.


"Aku bersumpah akan melenyapkan mu jika terjadi sesuatu pada anakku, Carl!" desis Edzard.


"Iya. Aku benar-benar mencintai anak angkatmu itu," ucap Carlos tak mau kalah.

__ADS_1


"Loh, kalian disini?"


__ADS_2