Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
39. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Hai, mas Fadil!" sapa seorang wanita masih mengenakan pakaian kantoran, namun memakai alas kaki rumahan.


Fadil yang masih memetik kangkung hasil tanaman di Kebun nya menoleh ke asal suara. "Loh, Dewi. Ada apa, Wi?"


Wanita yang bernama Dewi yang tak lain adalah sekretaris Carlos itu tersenyum. "Gak ada apa-apa, Mas. Hanya mampir, tadi dari rumah anak-anak."


Fadil merasa tidak enak langsung menghentikan kegiatan, membawa kangkung yang telah dipetik mendekati Dewi yang sedang duduk di bangku papan pinggir kebung nya.


Yang dimaksud rumah anak-anak adalah rumah sederhana yang dibangun Fadil untuk tempat tinggal anak-anak jalanan.


"Pasti anak-anak senang kamu datang," ucap Fadil seraya mengikat kangkung menjadi beberapa bagian.


Kangkung itu akan di jual ke setiap warung sekitar tempat tinggal Fadil. Dan hasilnya untuk biaya sekolah Mario dan untuk biaya makan anak-anak jalanan.


"Ya. Aku juga membawa beberapa buku untuk mereka."


"Terimakasih, Wi!" ucap Fadil tulus.


Dewi tersenyum dan mengangguk. Pertama kali keduanya bertemu tiga bulan lalu saat Dewi di copet dan anak-anak jalanan yang menolong bertepatan Fadil sedang bersama anak-anak jalanan tersebut.


"Kamu pulang kerja langsung kemari?" tanya Fadil mengajak Dewi menuju rumahnya.


Dewi terkekeh. "Iya mas, aku kalau sudah melihat anak-anak rasanya lelahku hilang. Apalagi aku kan sendiri disini," jelas Dewi kemudian duduk di sofa sederhana dalam rumah Fadil.


Fadil mengangguk lalu meninggalkan Dewi sendiri ke dapur membuat minum.


Sedang Dewi merasa terkejut melihat foto figuran yang ada di dinding.


"Jadi ngerepotin," ucap Dewi ketika Fadil meletakkan segelas teh di hadapan nya.


"Enggak kok, diminum ya."


Dewi menyeruput teh itu. "Mas ini mantan suaminya Nyonya Nadia, ya?"


DEG


Fadil mengikuti arah pandang Dewi dimana foto itu adalah fotonya, Nadia, dan Mario.


Fadil memaksakan tersenyum. "Apa kamu kenal, dia?"


Dewi ternyun dan mengangguk. "Istri atasan ku."


Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, beberapa anak perempuan masuk ke dalam rumah Fadil.


"Ayah. Mana sayuran yang akan dimasak untuk makan malam?" tanya salah satu anak perempuan yang lebih besar dari anak perempuan lain nya.


"Ayah taruh di dapur. Kalian petik dan buat bumbu tumis. Putri jaga adik-adik jangan dibolehin gunain pisau," tutur Fadil pada anak perempuan yang lebih besar bernama Putri.


"Kalian mau masak? boleh Tante bantu?" seru Dewi menatap Fadil berharap memberi izin.


"Apa kamu gak capek? aku gak mau ngerepotin, kamu."

__ADS_1


Dewi tersenyum. "Gak repot kok. Aku suka masak," ia bangkit mengikuti Putri dan anak-anak lain nya ke dapur.


"Ayah, Aku mau Tante Dewi jadi Bunda kita saja," celetuk Mumu, balita berumur tiga tahun.


Fadil terkekeh tanpa menjawab. Di usap rambut balita itu dengan sayang. Mumu adalah nama pemberian nya. Ia menemukan Mumu sedang menangis di teras rumahnya.


Fadil menggendong Mumu menuju dapur. Dilihat Dewi dengan telaten menjawab semua pertanyaan anak-anak jalanan yang kurang perhatian orang tua itu.


Canda dan tawa juga mereka layangkan bahkan membuat Fadil juga tertawa. Ia tersenyum ketika Dewi tersenyum padanya.


Sedetik kemudian tersadar, jika ada istri.


Ah, apa masih bisa Nadia disebut sebagai istrinya?


...****...


"Jadi, kamu benar-benar menikahi wanita yang gak sengaja kamu perkosa?" gelak tawa William menggelegar di ruang kerja Carlos.


Carlos melengos.


"Apa kamu menyesal?" tanya William lagi.


Carlos tersenyum dengan mata menatap kebarah pintu kamar pribadinya. "Sama sekali enggak. Justru aku sangat berterima kasih padamu."


William memicing menatap Carlos curiga. "Siapa wanita itu?"


"Daun muda," sahut Carlos sekenanya.


"Jadi ceritanya sugar Daddy?"


"Ya, dan aku akan jadi seorang ayah!" cicit Carlos semakin merasa bahagia.


"Selamat, bro."


"Om," panggil Calista masih dengan muka bantal, rambut kepang dua yang asal, dan memakai baju tidur satin.


Dua pria matang itu terbelalak melihat penampilan Calista yang tampak begitu sek si. Carlos langsung menjitak kepala William, bangkit mendekati Calista.


Dipeluk Calista dengan tubuh Carlos menutupi tubuh istrinya dari pandangan William. "Ada apa, hm?"


"Lapar," gumam Calista.


"Om sudah pesan makan. Sekarang ganti baju dulu. Ada teman Om disini."


Calista mengangguk lalu berjinjit mengecup pipi Carlos barulah masuk kembali ke dalam kamar buat ganti pakaian yang memang sudah di sediakan Carlos.


Carlos kembali duduk di hadapan William.


"Cantik, bro."


"Jangan coba-coba melirik apalagi menggoda milikku, Will!"

__ADS_1


Obrolan mereka terhenti saat Calista kembali keluar dari kamar. Ketiganya membuka kotak makanan yang telah Carlos pesan tadi.


Dengan telaten Carlos memisahkan isi kerang dari kulitnya. Calista siang tadi sempat meminta dibelikan seafood.


"Makasih, Om."


William mendengar panggilan Calista pada Carlos langsung tertawa. "Om," ucapnya meledek Carlos.


Carlos tak menggubris karena juga merasa keberatan bila Calista memanggilnya dengan sebutan Om. Padahal ia adalah suaminya.


Calista sendiri menjadi tak enak hati. "Maaf."


...****...


Nadia pulang dalam keadaan marah. Bagaimana bisa dipermalukan suami sendiri atas pengakuan Carlos telah melegalkan pernikahan keduanya.


Selama Carlos telah mengaku memiliki wanita lain, Nadia masih diam tak bertindak apapun karena berpikir itu hanya kepentingan keturunan.


Tetapi apa ini?


Dia seakan tak ada lagi artinya.


"Ini gak bisa dibiarkan," geram Nadia.


Nadia menoleh ke arah depan saat terdengar suara deru mesin mobil Carlos. Ia pun melangkahkan kaki menuju pintu utama.


Sedang di dalam mobil, Calista terus merengek untuk diantar ke Apartemen karena merasa takut bila Nadia tahu dirinyalah istri kedua Carlos.


"Ada aku," ucap Carlos menenangkan Calista dengan mengusap rambut istri kecilnya itu.


Setelah Calista merasa tenang, keduanya keluar mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Calista, kamu masuk kamar!" suara Nadia menggelegar ketika melihat Calista ikut kembali ke rumahnya bersama Carlos.


Calista terkejut hanya menuruti saja.


Carlos memerhatikan Calista berjalan menjauh dan hilang dibalik pintu barulah tatapan nya beralih pada istri pertamanya.


"Turunkan suaramu saat bicara dengan Calista," ucap Carlos dingin kemudian melangkahkan kaki menaiki anak tangga.


Nadia menggeram langsung mengikuti Carlos. "Apa maksud pengakuan mu ke publik, Carl? kenapa kamu gak hargai aku sebagai istrimu?"


Carlos yang hendak membuka jas langsung urung, berbalik menatap Nadia dengan tajam. "Maksudku jelas. Aku melegalkan pernikahan kami agar anakku memiliki identitas."


"Dan apa maksudmu dengan enggak hargai kamu sebagai istriku? benarkah kamu istriku sementara ada suami lain yang rela melihat istrinya menikah denganku?"


DEG


Nadia terpaku mendengar penuturan lCarlis barusan. Apakah itu artinya Carlos telah mengetahui rahasianya?


"Kamu pilih menceraikan aku atau aku yang ceraikan kamu?"

__ADS_1


__ADS_2