Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
26. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Nadia berjalan mendekati lemari. Di buka lemari khusus pakaian nya. Tentu saja tidak ada yang berubah. Di tatap pintu lemari pakaian Carlos. Entah mengapa hatinya tertarik untuk membuka pintu itu.


Di acak-acak pakaian Carlos hingga menekmukan celana da lam wanita sangat tipis seperti saringan teh.


Nadia tahu betul benda itu bukan miliknya apalagi ukuran nya lebih kecil dari miliknya.


Di remas benda itu. "Aku gak akan biarkan siapapun wanita lain merebutmu, Carlos. Gak akan."


"Aaarrgghh..."


Nadia menghentakkan kaki lalu keluar dari ruang kerja Carlos menuju ruang kerja Bimo.


Dibuka pintu dengan kasar hingga membuat Bimo terlonjat kaget. Seketika emosi Bimo tersulut.


"Apa maksudmu, Nadia!" sentak Bimo.


Nadia yang sudah emosi melempar celana da lam ke wajah Bimo. Awal nya Bimo terkejut lalu merubah wajah kembali dingin.


Bimo bangkit seraya meletakkan benda merah cerah itu ke atas meja.


"Siapa wanita yang berani merayu Carlos, Bim!" sentak Nadia menatap nyalang pada Bimo.


Bimo menyeringai lalu kedua siku tangan berada di sandaran tangan kursi yang didudukinya.


"Ayolah, Nadia. Itu lebih baik dari pada harus hidup bersamamu tanpa anak. Padahal kamu sendiri sudah punya anak,"


Nadia mengepal tangan erat. Inilah mengapa tak ingin membuat masalah pada Bimo. Pria di depan nya tahu semua rahasianya.


"Kamu bahkan sampai sekarang terus mempermainkan adikku dan juga anak kalian. Kamu ingin menguasai kedua pria baik hati. Lepaskan Carlos dan hiduplah bersama adikku dan anak kalian," terang Bimo dingin.


Belasan tahun lalu Adik Bimo bernama Fadil adalah kekasih Nadia, lebih tepat sepasang suami istri yang telah menikah siri.


Mereka menikah karena ada anak diantara keduanya. Hingga saat Nadia bekerja di Perusahaan Carlos dan mengetahui jika pemilik Perusahaan adalah mantan kekasih saat sekolah dahulu.


Sejak saat itulah Nadia mulai menampakkan diri jika ingin menguasai kedua pria itu. Fadil yang lemah lembut dan sangat mencintai Nadia juga demi sang anak merelakan istrinya menikah dengan Carlos secara agama dan hukum negara.


"Jangan coba-coba kamu mencelakai wanita yang saat ini bersama Carlos. Jika sekali saja kamu berniat mencelakai wanita itu maka aku gak akan segan-segan menghancurkan hidupmu," ancam Bimo membuat Nadia bungkam.


Nadia meninggalkan ruang kerja Bimo dengan perasaan kesal. Selain menghabiskan waktu bersama teman sosialitanya, Nadia selalu pergi ke rumah Fadil di pinggiran kota Jakarta.


Rumah sederhana yang hanya di huni Fadil dan Mario, anak semata wayang nya yang sudah menginjak usia remaja.


Hasil medis yang menyatakan Nadia tidak bisa hamil hanyalah rekayasanya. Hal itu dilakukan karena persyaratan dari Fadil agar dirinya dapat menikah dengan Carlos.


Fadil tidak ingin Nadia hamil lagi. Harta dan tahta membuat Nadia buta akan cintanya pada Fadil sehingga menerima persyaratan dari Fadil.

__ADS_1


Nadia pergi dari Perusahaan itu dengan perasaan marah. Dilajukan mobilnya menuju rumah Fadil.


Beberapa saat kemudian mobil Nadia sudah sampai di rumah sederhana. Masuk ke rumah itu dengan wajah kusut.


"Tumben datang," sindir Fadil dengan senyum mengejek.


Nadia hanya diam saja. "Gimana kabar Mario" tanya Nadia.


"Dia baik. Hingga sekarang," sahut Fadil lembut menghampiri Nadia.


"Ada apa?" tanya Fadil kemudian dengan suara melembut.


"Carlos menduakan aku."


...****...


Di lorong Rumah Sakit tampak sepasang suami istri tengah terburu-buru menuju salah satu Kamar rawat inap.


Papi Edzard dan Mami Ivy begitu khawatir dengan keadaan anak sulung mereka. Sebenarnya Mami Ivy sudah tahu jika Calista masuk Rumah Sakit dari hari lalu, tetapi ia memberi waktu untuk Carlos dan Calista menghabiskan waktu.


"Calista," panggil Papi Edzard membuat dua orang yang tengah berseteru tersentak.


"Papi," sebut Calista lirih.


Calista meringis mendengar pertanyaan Papi Edzard. "Aku hanya kecapekan, Pi. Gak perlu khawatir."


Papi Edzard menoleh ke arah Carlos. "Kenapa ada kamu disini?" tanya Papi Edzard dingin.


Carlos menelan saliva dengan kasar. Lidahnya kelu untuk menjawab.


"Om Carlos yang nolongin aku, Pi. Jangan marah sama Om Carl," tutur Calista menyelamatkan Carlos.


"Oh," jawab Papi Edzard membuat tiga orang lain nya melongo.


Apalagi Carlos semakin ingin memberi sekali bogan untuk mertuanya itu. Matanya melirik ke arah Calista yang menatapnya dengan tatapan datar.


"Sudah ada Papi dan Mami ku. Pergilah, Om. Nanti istri Om khawatir. Makasih sudah rawat aku," ucap Calista secara gak langsung mengusir Carlos.


Mami Ivy melihat itu hanya pun menggeleng kepala. "Calista. Gak boleh seperti itu, Nak."


Calista hanya diam saja.


"Papi mau kamu tinggal di rumah utama lagi," tutur Papi Edzard.


Calista mengangguk seraya menatap Carlos yang menggeleng.

__ADS_1


Akhirnya Carlos pamit pulang, diikuti Mami Ivy.


...****...


"Kak. Apa yang terjadi?" tanya Ivy pada Carlos. Keduanya sedang berada di Kantin Rumah Sakit.


Carlos menyesap kopi lalu menghela nafas panjang. Pandangannya mengarah ke depan namun kosong.


"Calista memberiku pilihan," sahut Carlos lirih.


"Kenapa bisa Calista memberi pilihan?"


Carlos menoleh kearah Ivy lalu menghela nafas lagi. Ia pun mulai menceritakan apa yang terjadi hingga Calista berakhir di Rumah Sakit.


"Istri kalau hamil memang suka sensitif dan ingin selalu dekat dengan suami. Kakak harus mengerti itu. Apalagi Calista masih sangat muda dan kalian menikah karena kecelakaan itu bukan karena cinta," terang Ivy selalu membuat lawan bicaranya tenang.


"Aku bingung. Untuk saat ini posisi Calista dan Nadia sama pentingnya."


Ivy menghela nafas. "Lebih bersabarlah hadapi Calista. Untuk beberapa hari biar Calista nginap di rumah utama. Setelah membaik, aku yang akan antar Calista kembali pada kakak!"


"Makasih, Vy. Aku titip Calista untuk sementara waktu. Tolong jaga dia, nanti saat suamimu gak ada aku akan mengunjungi Calista."


Ivy mengangguk lalu kembali ke kamar rawat inap Calista sedang Carlos kembali pulang.


...****...


Sesampainya dirumah, Carlos menghela nafas barulah masuk ke rumah. Dilihat Nadia sedang duduk di depan televisi.


Ia tak langsung menghampiri Nadia. Memilih naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Sebelum masuk ke kamar mandi, Carlos mengambil baju ganti karena tak berniat memakai di dalam kamar.


Niatnya memakai pakaian di kamar mandi agar menghindar dari godaan Nadia bila sewaktu-waktu masuk ke kamar ketika berganti pakaian.


Benar saja! usai membersihkan diri dan berpakaian di dalam kamar mandi, tampak Nadia sudah berada di dalam kamar sedang menangis.


Ia pun mendekati Nadia. "Jangan menangis," ucap Carlos lirih. Percayalah, ia masih kecewa atas kelakuan Nadia namun rasa lelah yang mendera membuat tak ingin berdebat.


"Kamu khianati aku," kata Nadia.


Carlos menghela nafas. "Cobalah untuk menerima kalau posisi kalian sama dalam hidupku."


"Siapa yang rela kalau wanita diduakan, Carl. Siapa wanita ja lang yang sudah menggoda mu, itu?"


Mendengar Nadia mengatakan wanita ja lang membuat darah Carlos mendidih. Matanya nyalang menatap Nadia bahkan kini satu tangan nya mencengkram rahang Nadia hingga tatapan mereka bertemu.


"Kau tahu Nadia. Wanita ja lang yang kau sebut itu adalah istriku. Jika boleh jujur, posisi mu tak ada apa-apanya dari dia. Diam dan menurut lah selagi aku masih mau punya istri mandul sepertimu," Carlos menghempas wajah Nadia dengan kasar lalu keluar kamar meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2