Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
89. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista berjalan cepat dengan sesekali mengusap air matanya dengan kasar. Ia tak memperdulikan sapaan para karyawan dan tatapan keheranan karena keadaan nya saat ini.


Ia tidak percaya bahwa Carlos akan melakukan hal menjijikkan di Kantor. Pikiran nya melayang dimana akan ada karma untuknya karena sudah merebut Carlos dari Nadia.


Apakah ia akan mengalami yang namanya di selingkuhi sama seperti Nadia dahulu?


Pak Agus kaget melihat Calista mendekati mobil dengan keadaan yang tidak baik-baik saja padahal ketika memasuki kantor, senyum manis Nyonya Martinez itu selalu terlukis indah diwajah cantiknya.


Dengan sigap, pak Agus membuka pintu mobil untuk Calista. Setelah masuk, ia juga masuk ke dalam mobil dan melajukannya.


"Kerumah cepat, Pak." Kata Calista apalagi melihat Carlos baru tiba di basement mengejar mobilnya.


"Nyonya, Tuan di belakang."


"Biarkan saja. Kita pulang sekarang," kata Calista mengusap air matanya lagi.


*


*


Carlos mengejar Calista setelah istrinya itu menamparnya. Ketika berada di depan lift, lift itu baru saja tertutup. Namun tak menyerah memilih turun melalui tangga darurat.


Ia terus menuruni tangga kecepat mungkin agar dapat mengejar dan sampai ke lantai dasar sebelum lift terbuka.


Tetapi nyatanya, Carlos terlambat dan kembali berlari mencari mobil Calista terparkir.


Sialnya lagi, mobil Calista terus melaju ketika ia mengejarnya.


Ia pun mencari dimana mobilnya terparkir. Tetapi, sekali lagi kesialan menghampiri karena kunci mobil dan ponsel tertinggal di ruang kerjanya.


Carlos menjambak rambutnya karena merutuki kebodohan nya. Ia kembali berlari sesegera mungkin menuju ruang kerja nya


Ia sama sekali tidak memperdulikan para karyawan menatap heran padanya.


Setelah mengambil ponsel dan kunci mobil, ia kembali ke basement menuju mobilnya terparkir disana.


Ia masuk dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, berharap dapat mengejar mobil Calista.


*


*


Calista menatap nanar ponselnya. Tidak berapa lama setelah mobilnya melaju, pesan masuk ke ponselnya.


Sebuah foto selfi Selly dengan gaya seksi melalui nomor WhatsApp Carlos.

__ADS_1


Baginya, ini sudah keterlaluan. Di usap kembali air matanya yang sedari tadi mengalir tanpa henti.


Wajahnya berubah datar dan tatapan nya begitu dingin. Bukan Calista namanya jika harus mengemis cinta.


Bukan Calista namanya jika menunjukkan bahwa ia sedang patah hati atas pengkhianatan.


Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi Calista telah sampai di rumah mereka. Ia langsung menuju kamar dan meminta salah satu asisten rumah tangga membantu menyusun barang-barang nya.


Walau timbul banyak pertanyaan, asisten rumah tangga tersebut tak berani bertanya dan dengan sigap membantu Calista menyusun barang.


Pakaian nya dan semua pakaian bayi telah di susun di koper yang berbeda. Dan Calista mengeluarkan kartu-kartu sakti yang diberi Carlos dan di taruh di atas nakas.


Nasya hanya membawa satu kartu ATM yang isinya tidak sebanyak kartu sakti lain nya. Dan ATM yang di bawah nya ini adalah sisa dari uang jajan bulanan dari Carlos.


"Nyonya mau kemana?" tanya asisten rumah tangga yang membantunya.


Calista memaksa tersenyum. "Pergi, bi. Aku titip Tuan, ya. Kalian baik-baik tanpa aku," ucapnya dengan suara bergetar. Sekuat tenaga ia tak ingin menangis lagi.


Asisten rumah tangga tersebut hanya mengangguk walau sadar jika majikan nya sedang bermasalah.


Calista di bantu asisten rumah tangga tersebut keluar rumah menggeret dua koper. Saat hendak masuk ke taksi online yang sudah di pesan Calista, pak Agus menghampiri.


"Biar saya antar, Nya."


Calista tersenyum. "Gak perlu, Pak. Saya titip, Tuan."


*


*


Lima belas menit setelah kepergian Calista, mobil Carlos memasuki gerbang rumah nya. Ia menghentikan mobil secara asal, keluar dari mobil secara terburu-buru.


Ia melangkah lebar memasuki rumah. Terlihat tidak ada tanda-tanda Calista di lantai dasar, ia pun menaiki tangga dengan tergesa-gesa pula menuju kamarnya.


Rasa takut ditinggalkan mulai menghantui nya. Dibuka pintu kamar nya dengan perasaan takut.


Sepi.


Seakan mencoba tetap berpikir positif, ia membuka pintu kamar mandi berharap Calista berada disana, namun tak ada orang disana. Ia keluar kemudian masuk ke walk in closet begitu juga tidak ada orang disana.


Carlos keluar kamar mencari Calista di teras belakang juga tidak mendapati istrinya disana.


Ketakutan benar-benar sudah menguasai dirinya.


"Bi... Bibi..," pekiknya.

__ADS_1


Bibi Minah berjalan tergopoh-gopoh mendengar pekikan Carlos di teras belakang.


"Ya, Tuan."


Terlihat jelas raut ketakutan dari wajah Carlos membuat Bibi Minah iba.


"Apa istriku tadi pulang?" tanya Carlos.


"I-iya, Tuan."


Ada rasa kelegaan mendengar jawaban Bibi Minah. "Lalu dimana sekarang istriku, Bi? Apa istriku berada di rumah kalian?" tanya Carlos berharap begitu karena Calista sering berada di rumah para asisten rumah tangga yang mereka bangun khusus yang tidak memiliki rumah.


"Ti-tidak, Tuan."


Mata Carlos melebar, ketakutan lebih mendominasi hatinya kembali.


"Lalu kemana, Bi?"


Bibi Minah menunduk. "Maaf, Tuan. Nyonya pergi membawa dua koper. Tadi, Hana membantu Nyonya menyusun pakaian di kamar."


Carlos tersentak mendengar penjelasan bibi Minah. Bahkan ketakutan nya semakin menjadi karena tak pernah terpikirkan jika Calista akan nekad pergi darinya.


Ia segera naik tangga kembali masuk ke kamar nya. Begitu masuk ke dalam kamar, ia langsung menuju walk in closet dan membuka lemari Calista.


Hanya sebagian yang dibawa Calista. Dan betapanl terkejutnya ketika membuka lemari keperluan calon anak mereka, pakaian bayi sudah tidak ada disana.


"Sayang, kamu dimana?" gumam Carlos sedih dan khawatir.


Di raup wajahnya dengan kasar kemudian ia memanggil para asisten rumah tangga sekaligus pak Agus berkumpul di ruang tamu.


Carlos diam menatap orang-orang yang bekerja di rumah nya itu satu persatu. "Katakan. Kenapa kalian tidak ada yang mencegah Nyonya kalian pergi dari rumah?" gertak Carlos sedari tadi.


Semua pekerja menunduk tidak berani menatap ataupun menjawab karena takut.


"Agus," ucap Carlos tegas.


"Maaf, Tuan. Tadi saya sudah menawarkan diri untuk mengantar, tetapi Nyonya menolak."


Tangan Carlos mengepal mendengar jawaban Pak Agus. "Apa kamu tidak bisa mengejar ataupun mengikuti Nyonya, kalian?" sentak Carlos.


Pak Agus tampak semakin menunduk karena merasa bersalah. Benar yang di tanyakan Carlos, mengapa tadi ia tak berpikir hingga kesana?


"Maaf, Tuan."


Carlos tak menjawab. Pikiran nya kalut, tetapi tangan nya terus mengotak-atik ponsel kemudian menaruh ponsel tersebut menempel ke telinga.

__ADS_1


"Bim. Tolong periksa CCTV sekitar rumahku sekitar setengah jam lalu, istriku menaiki taksi online dan kamu periksa juga CCTV kota agar menemukan istriku."


"Baik."


__ADS_2