Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
54. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista pulang dengan jiwa yang tak semangat. Apalagi setelah melihat Carlos menyibukkan diri dengan pekerjaan. Bahkan dengan ringan nya Carlos menyuruhnya pulang dan jangan menunggu kepulangan nya.


Hingga malam menjelang, saat makan malam hingga pukul sebelas Calista menunggu Carlos pulang. Hatinya mulai tak tenang menjadikan ia menunggu suaminya.


Tengah malam Carlos baru tiba. Terdengar suara pintu terbuka, membuat Calista menoleh dan beranjak mendekati Carlos yang sedang melonggarkan dasi.


"Om. Aku siapin air hangat, ya."


Carlos menatap mata Calista sekilas langsung menuju kamar mandi tanpa menjawab tawaran dari Calista.


Calista hanya diam saja tetapi kakinya melangkah ke walk in closet, mengambilkan celana pendeng dan dalaman untuk Carlos karena terbiasa tidur bertelanjang dada.


Calista menjadi kesal karena merasa Carlos sengaja mandi terlalu lama. "Kenapa jadi anak-anak begini, sih?"


Calista menyeringai kemudian bangkit untuk ganti kimono seksi kesukaan Carlos. Tetapi, agaknya suaminya itu memang sedang menghindarinya, sampai membuatnya mengantuk dan memilih tidur.


Di dalam kamar mandi, Carlos mondar mandir sedari tadi berharap Calista segera tidur. Ia tahu bila sudah kelewatan telah acuh pada istri kecilnya. Bahkan sedari di Kantor, begitu keras menahan diri agar tak merengkuh Calista.


"Sudah tidur belum, ya?" gumam Carlos seraya menggosok-gosok lengan karena merasa kedinginan.


Carlos memutuskan keluar dari kamar mandi dengan membuka pintu di hadapannya secara perlahan. Kepalanya lebih dulu keluar, celingukan melihat keadaan kamar sunyi senyap.


Ia pun melangkahkan kaki, berjinjit agar tak di dengar Calista. Tetapi langkahnya melamban saat melihat Calista tidur meringkuk memeluk perut buncit nya.


Betapa rindunya Carlos tertidur di belahan dada atau tertidur tepat dihadapan perut Calista.


Di pakai dalaman dan celana boxer yang sudah disediakan oleh Calista. Setelah itu, Carlos menyelimuti Calista, barulah keluar dari kamar menuju ruang kerja nya.


...----------------...


Pagi hari, Calista terbangun. Melihat kamarnya sepi seperti hari-hari sebelumnya hanya dapat menghela nafas kasar. Sudah seminggu Carlos bersikap acuh tak acuh padanya.


Hari ini, Calista libur kuliah dan berniat untuk pergi jalan-jalan sendiri. Ia pun segera bersiap, sarapan, dan berangkat bersama Mbok Iyem.


"Nyonya yang sabar. Terkadang, suami ingin dimengerti."


Calista mengangguk. "Iya Mbok. Aku nggak kenapa-kenapa kok," Calista mencoba tersenyum.


Keduanya berbelanja apa saja yang mereka inginkan. Calista tak membedakan antara majikan dan pelayan di rumahnya. Bahkan kini Calista lebih banyak membelikan pakaian untuk Mbok Iyem dan pelayan lain nya.


Pengeluaran yang baru saja terjadi pastilah dilimpahkan pada kartu kredit yang memang diberi buat Calista.

__ADS_1


...----------------...


Carlos pulang lebih awal hari ini. Itu karena ia sudah terlalu rindu pada sang istri. Rasanya benar-benar membuatnya gila tak terpedaya tak berbicara, tak memeluk, ataupun bercanda pada istri kecilnya itu.


Memasuki rumah, menyiapkan diri untuk meminta maaf pada Calista. Bahkan dirinya membeli sebuket bunga dan cokelat untuk menyempurnakan niat baiknya.


Tetapi, sesampainya di rumah tidak ada istrinya. Awalnya hendak marah, namun saat mengetahui pergi bersama dengan Mbok Iyem membuatnya tenang apalagi setelah mendapat notifikasi dari salah satu Bank, pengeluaran dari tempat Pusat Perbelanjaan.


Senyuman nya mengembang setelah tahu pintu utama di buka melihat orang yang ditunggu akan segera mendekat ke arahnya. Namun, senyuman itu perlahan surut ketika hanya memperlihatkan Mbok Iyem dan tiga orang penjaga rumahnya membawa banyak paperbag ditangan mereka.


"Istriku kemana, Mbok?" tanya Carlos.


"Nyonya bilang hendak kerumah teman nya yang pernah datang kesini dulu, Tuan." Mbok Iyem mengatakan sejujurnya karena Calista tadi mengatakan hendak kerumah Anita lebih dahulu.


Carlos yang kenal dengan Anita hanya bisa pasrah menunggu Calista di rumah.


Ia mulai gelisah ketika waktu sudah beranjak sore hari, Calista belum juga pulang. Apalagi istri kecilnya tidak diantar oleh Agus sang sopir pribadi.


"Mbok. Kok istriku lama, ya?" tanya Carlos mendatangi Mbok Iyem sedang masak untuk makan malam.


"Saya enggak tahu, Tuan. Nyonya hanya bilang begitu tadi," sahut Mbok Iyem.


"Kemana kamu, sayang?"


...----------------...


"Jadi kamu kerja sebagai pengasuh?" tanya Calista berada di taman belakang rumah William.


Keduanya tengah memerhatikan anak laki-laki berusia tujuh tahun sedang bermain pop it. Ternyata anak tersebut adalah jenis anak introvert.


Anita mengangguk. "Ya. Aku kira dia sudah beristri atau lajang. Ternyata duda anak satu. Dia ngeselin banget, Calt."


Calista terkekeh setiap kali Anita bercerita bagaimana William yang sangat menyebalkan bagi sahabatnya itu.


"Hot Daddy, beb." celetuk Calista menggoda.


Anita memutar bola jengah. "Ogah."


Merasa sudah hendak gelap, Calista pamit akan pulang. Sebenarnya ingin sampai malam karena sudah seminggu ini tak pernah menyambut kepulangan Carlos.


"Hati-hati. Maaf aku gak bisa antar kamu sampai depan. Aku harus menjaga Wilson," balas Anita dan di iyakan oleh Calista.

__ADS_1


Ternyata, ketika Calista sudah berada di depan gerbang, mobil William masuk ke pekarangan rumah.


"Calt. Kamu disini?" tanya William.


Calista tersenyum dan mengangguk. "Iya, Om."


William tampak menoleh ke samping kiri, melihat kakak nya yang diam terpaku menatap Calista.


"Kamu naik apa?"


"Maksudnya naik taksi online," sahut Calista.


"Jangan. Gak baik buat kamu. Om, antar ya."


Calista tampak diam memikirkan nya. Tak berpikir panjang, Calista mengangguk lalu masuk ke dalam mobil William.


Sepanjang jalan, Calista hanya diam saja karena memikirkan sikap Carlos masih dingin padanya. Di belakang kemudi, Carlos tampak tersenyum melihat kakak nya memandangi wajah Calista dari balik kaca spion tengah mobil.


Sesampainya di pekarangan rumah Carlos, Calista pamit dan berterimakasih barulah masuk ke dalam rumah.


"Will.. Anakku sangat cantik. Apa benar, dia anakku?" tanya Wildan.


William tersenyum lalu menoleh kearah sumber suara. "Kakak sudah baca tes DNA itu kalau kalian anak dan ayah kandung."


Wildan terus saja tersenyum sepanjang jalan.


...----------------...


Calista masuk ke dalam rumah. Dilihat suaminya masih mengenakan pakaian kerja. Tetapi terus saja melewati Carlos yang memerhatikan nya.


Masuk dalam kamar, mengganti pakaian tanpa perduli bila pintu kamar sudah terbuka dan Carlos masuk kesana.


Carlos menelan saliva dengan kasar melihat tubuh Calista nyaris polos. Ia yang sudah lebih dari seminggu tak menyentuh sang istri tentu saja membuatnya ingin.


"Sayang," panggil Carlos dengan suara berat.


Calista yang membelakangi Carlos pun menyeringai mendengar suara suaminya yang sudah diketahui ingin menyentuhnya.


"Jangan mendekat," larang Calista membuat Carlos menghentikan langkahnya.


"Gak boleh sentuh aku. Di lihat saja boleh."

__ADS_1


__ADS_2