Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
77. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Carlos masuk ke dalam kamar langsung mendekati Calista yang sedang mengikat tali dress yang di kenakan ke belakang badan. Ia membantu mengikat tali tersebut.


Seusai mengikat tali dress yang di kenakan sang istri, Carlos memeluk Calista dari belakang. Tatapan keduanya bertemu dari pantulan cermin.


"Kamu sangat cantik hari ini," puji Carlos berbisik di telinga Calista hingga menciptakan rasa geli disana.


"Geli, Om. Kamu kebiasaan, ih." Rajuk Calista namun membuat Carlos terkekeh.


Carlos menyandarkan dagu pada pundak Calista sembari mengelus perut buncit sang istri. "Saat jam makan siang, sopir akan menjemputmu, sayang."


Calista menatap Carlos dengan kerutan di dahi. "Memang nya kenapa, Om? tumben!"


Carlos menegakkan badan kemudian memutar badan Calista agar menghadap ke arahnya.


"Kamu sudah tahu belum sekretaris aku yang baru?" tanya Carlos.


Ia tak ingin menyembunyikan apapun dari sang istri karena takut terjadi kesalahpahaman bila tak segera memberi tahu.


"Belum, Om. Tapi tahu nama doang. Selly kalau gak salah. Emang ada apa?" tanya Calista karena memang tidak tahu. Semenjak hamil mulai besar, Calista sangat jarang menyambangi kantor Carlos.


Carlos menghela nafas nya lagi. "Iya, namanya Selly dan penampilan nya seksi juga selalu saja ngintilin aku kemana pun. Aku enggak suka," Carlos mengadu bak anak kecil pada ibunya.


Calista terkejut tetapi di tutupi dengan kekehan. "Bagus, dong."


Carlos semakin cemberut atas ucapan Calista barusan. "Sayang," rengek Carlos.


Calista menggeleng melihat tingkah Carlos benar-benar seperti anak kecil bila bersamanya.


Di tangkup wajah Carlos menggunakan kedua tangan agar sang suami menatap kearah nya. Carlos pun menatap Calista dan kedua tangannya menjadi berda di pinggang sang istri, menarik tubuh ibu dari anaknya itu agar merapat padanya.


Calista berjinjit, menarik tengkuk leher Carlos perlahan agar sedikit membungkuk. Ia memberikan kecupan manis di bibir Carlos. Tetapi seperti biasa, suaminya bakal menahan agar tak menyudahi ciuman itu lebih dahulu karena masih ingin bermain-main pada lidah dan bibir ranumnya.


"Baiklah. Aku akan ikut kerja Om hari ini," kata Calista langsung membuat Carlos senang.


Carlos mengajak Calista keluar kamar dan menuju ruang makan dengan tangan saling menggenggam.


Carlos menarik kursi buat Calista duduk kemudian ia duduk di kepala meja. Seperti biasa, Calista akan senantiasa melayani Carlos ketika makan.


Calista sendiri sudah mengerti selera Carlos tak banyak bertanya ketika menyediakan sarapan untuk sang suami.


"Kamu harus makan banyak, sayang."


Calista mengangguk.


*


*


Usai sarapan, Carlos dan Calista berangkat ke Kantor bersama Agus sang sopir pribadi. Di dalam mobil, tangan Calista dalam genggaman Carlos pun menjadi tempat dimana Carlos dengan sayang mengecup punggung tangan putih dan halus itu.

__ADS_1


Agus membuka kan pintu jok penumpang dimana Carlos duduk. Setelah Carlos keluar, ia mengitari mobil membuka pintu untuk Calista.


Ia tersenyum kala merasakan lengannya di rangkul posesif oleh Calista. Sepanjang koridor kantor, banyak yang menyapa Calista karena istrinya dahulu saat menjadi istri rahasianya sering berkeliaran di kantor.


Carlos dan Calista masuk ke dalam lift khusus petinggi Perusahaan dan kebetulan Selly baru saja tiba di depan lift.


Carlos menatap tajam pada Selly tetapi Calista justru tersenyum dan memerhatikan penampilan Selly.


"Bareng saja, Buk." Kata Calista membuat Carlos menoleh kearah nya dan Selly nampak mencebik atas panggilannya.


Selly pun masuk ke dalam lift dan berdiri tepat di belakang sepasang suami-istri itu.


"Sayang," panggil Carlos berbisik kemudian mencuri kecupan pada pipi Calista.


Calista mengusap pipi nya tanpa menjawab apapun, tetapi ia menyandarkan kepala di lengan Carlos.


Pintu lift terbuka dan pasangan itu berjalan lebih dahulu tanpa memperdulikan Selly disana.


Selly melihat kemesraan keduanya nya merasa kesal. Ini adalah kali pertama melihat Calista secara langsung. Karena selama menjadi sekretaris Carlos, Calista belum pernah berkunjung ke Kantor.


Ia sangat kagum melihat Carlos tipe suami idaman. Sering sekali atasan nya itu meluangkan waktu menelepon Calista walau hanya bertanya hal-hal sederhana.


*


*


"Om. Sekretaris Om yang sekarang lebih cantik dan seksi daripada mbak Dewi," celetuk Calista sedang duduk di sofa sementara Carlos sudah memulai bekerja.


"Lebih cantik dan seksi kamu kemana-mana. Mau di lihat dari depan, samping kanan dan kiri, dari belakang, dari lantai tertinggi dan melihatnya dari lubang sedotan juga tetap kamu yang cantik!" sahut Carlos tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.


Calista tersenyum. "Gombal," katanya membuat Carlos terkekeh.


Pintu terketuk dan dipersilahkan masuk oleh Carlos. Ternyata Selly masuk membawa segelas kopi hitam.


"Kopi, Tuan."


Calista memerhatikan gerak gerik Selly.


"Saya tak pernah meminta dibuatkan kopi padamu. Kenapa setiap hari selalu kamu buatkan kopi?" sentak Carlos kemudian meraih gagang telepon buat menghubungi Bimo.


Bimo masuk ke ruang kerja Carlos langsung menghadap pada atasan nya.


"Bawa kopi ini, Bim. Katakan pada sekretaris baru ini agar tidak lagi membuatkan aku kopi," ucap Carlos tegas membuat Bimo menghela nafas berat.


Bimo langsung melihat Selly yang diam menunduk. "Begini, Sell. Atasan kita ini bukan seperti tokoh utama dalam novel yang segala sesuatu kebutuhan nya disediakan sekretaris ataupun asisten seperti kita. Semua kebutuhan beliau, sudah di sediakan oleh istri beliau. Jadi kamu gak perlu buang waktu hanya untuk menyediakan kebutuhan pribadi atasan kita. Kalau pun beliau membutuhkan sesuatu pasti memanggil saya bukan kamu. Ingat, beliau tipe suami setia."


Calista melihat perdebatan itu pun beranjak keluar dari ruang kerja Carlos dan menuju pantry.


Di sana Calista membuat kopi buat Carlos sesuai takaran yang diinginkan suaminya seperti biasa.

__ADS_1


Terkadang Calista merasa kesal karena Carlos seperti itu terkesan tak menghargai orang tersebut.


Tetapi, andai Calista tahu bila Carlos seperti itu karena tak ingin melakukan kesalahan dan tak ingin ceroboh lagi sama seperti saat William memberi minuman berisi obat perangsang dan berakhir berada dalam satu kamar bersama Calista.


"Nyonya," sapa salah satu office girl.


"Eh iya, mbak."


"Kenapa gak minta saya saja yang membuatkan kopi untuk Tuan?"


Calista tersenyum. "Gak perlu, mbak. Saya bisa sendiri." Ianjuga membuatkan dua gelas kopi lagi buat Bimo dan Selly.


"Apa mbak Selly belum membuatkan kopi untuk Tuan? tumben, biasanya paling semangat." celetuk office girl itu keceplosan bahkan menutup mulut sendiri karena sadar atas apa yang baru saja dikatakan.


Calista terkekeh. "Mungkin karena ada saya, mbak. Sudah ya, saya mau kembali ke ruangan suami saya."


Demi apapun, sekuat tenaga Calista menahan rasa cemburunya. Bagaimana bisa sekretaris baru nya itu mencari kesempatan agar mendapat simpati dari suaminya.


Calista masuk ke dalam ruang kerja Carlos dengan wajah muram. Ternyata masih ada Bimo dan Selly disana sedang membicarakan pekerjaan.


Sesaat Calista berdiri mematung dengan nampan di tangan sambil memerhatikan bagaimana Selly bila sedang berhadapan dengan Carlos ketika bekerja.


Untuk sesaat Calista mengakui bila Selly sangat kompeten dalam pekerjaan, memberikan ide-ide cemerlang untuk menarik para konsumen dan investor.


Tetapi, ketika Carlos menjelaskan kembali. Sangat jelas bahwa tatapan kagum dari Selly pada suaminya dan Calista tak suka itu.


Carlos tak menyadari Calista masuk ke ruangan, sedang saat keluar tadi tahu tetapi tak mencegah karena sang istri tak pernah jauh dari ruang lab nya, biasanya.


Ketika Carlos melirik ke arah pintu membuatnya terkejut melihat Calista tengah berdiri membawa sebuah nampan.


Refleks langsung membuat Carlos berdiri dan menghampiri Calista. "Sayang. Ya ampun, kenapa kamu membuat kopi?" tanya Carlos khawatir apalagi istrinya tengah hamil.


Calista tersenyum kemudian berbisik. "Ingat, aku gak suka Om minum bareng wanita lain."


Carlos menggeleng dan tahu bila sang istri dan mode cemburu.


Calista menaruh kopi di hadapan Bimo sambil tersenyum setelah mendengar kata terimakasih. Kemudian di hadapan Selly, ia menaruh nya sedikit kasar hingga piring kaca alas gelas kopi saling membentur pada meja Kaja hingga menimbulkan suara nyaring.


"Diminum, mbak."


"Baik."


Calista mengangguk lalu membawa nampan itu ke sofa dimana ia duduk tadi. Tetapi, langkahnya diberhentikan Carlos yang masih berdiri tadi.


Carlos menarik pinggang Calista agar merapatkan tubuh padanya kemudian menahan tengkuk istrinya dan ia pun membungkuk kemudian mencium bibir ranum yang selalu membuatnya candu.


"Ehem," Bimo berdehem malas ketika menoleh ke arah belakang mendapati Carlos dan Calista tengah berciuman.


Selly melihat itu langsung memalingkan wajah. Rasanya tak suka melihat kemesraan mereka.

__ADS_1


"Istirahat lah di kamar, sayang. Setelah ini aku akan menyusul."


__ADS_2