
"Bertahanlah, sayang!" ucap Carlos lirih seraya mengecup punggung tangan Calista.
Calista mencoba tersenyum agar Carlos merasa tenang. "Aku gak apa-apa, Om. Hanya kelahiran nya di majuin. Jangan khawatir," kata Calista menenangkan Carlos. Tangan nya terulur membelai pipi sang suami bersamaan air mata Carlos mengalir.
Beberapa saat lalu, ketika keduanya masuk ke dalam tempat acara pernikahan William dan Anita dan di susul Wildan juga Selly.
Di dalam ruangan itu terjadi kericuhan karena Wildan tidak terima tetapi Anita juga tidak menerima alasan apapun mengenai pernikahan siri Wildan dengan Selly.
Akibat kericuhan itu, Calista mengalami kontraksi beserta mengeluarkan darah segar dari kemalu annya, karena terlalu banyak beban pikiran dan sangat kelelahan.
Carlos sudah memakai seragam biru dari Rumah Sakit, ia diijinkan untuk ikut ke ruang operasi.
"Jangan menangis," ucap Calista lagi yang baru saja dipindahkan ke atas brankar khusus operasi.
Carlos mengusap air matanya. Ia menjadi mellow karena tidak sanggup melihat Calista melahirkan dan merasa sakit akibat perut yang harus di sayat.
"Kenapa kalian mencubit istriku?" sentak Carlos ketika melihat para medis mencubit paha sang istri.
"Maaf Tuan. Kami hanya ingin melihat reaksi tubuh Nyonya, apakah suntik epidural sudah bekerja atau belum."
Carlos kembali menatap Calista tanpa menanggapi ucapan dari mereka. Rasanya begitu sakit melihat sang istri diperlakukan seperti itu.
"Aku gak mau kamu kesakitan," kata Carlos dengan suara bergetar.
Calista tersenyum. "Tersenyumlah, Om. Kita harus tetap tersenyum untuk menyambut kelahiran anak kita. Maaf, aku gak bisa jaga kesehatan sehingga harus melahirkan sekarang."
Carlos membungkuk lalu mengecup kenin Calista. Benar yang dikatakan sang iausna kalau mereka harus tersenyum menyambut kelahiran anak mereka.
__ADS_1
a to
Anak yang sudah diimpikan sedari dulu. Pewaris tahta kerajaan bisnis nya. "Sayang, kita belum menyiapkan nama untuk boy," katanya baru saja teringat hal terpenting itu.
Calista mengangguk. "Aku juga belum menyiapkannya. NonTapi aku rasa panggilan Boy juga bagus," katanya.
Carlos kembali menegakkan tubuh dan melihat proses persalinan Calista. Sungguh, melihat para medis menyayat perut Calista seakan perutnya lah disayat.
Carlos menyadari betapa besar perjuangan Calista melahirkan anaknya.
Pernah terdengar olehnya bahwa seorang wanita bila melahirkan secara caesar itu bukanlah ibu yang sempurna.
Tidak.
Carlos tidak menyetujui pendapat itu. Bagaimana bisa seorang wanita, perut yang di sayat lebar demi buah hati tidak dikatakan ibu yang sempurna?
Tatapan mata Carlos beralih kepada Calista ketika tangisan anak mereka terdengar.
"Selamat sayang. Selamat, kamu telah menjadi seorang ibu."
Carlos berbisik dengan suara bergetar dan berulang kali mengecup kening Calista.
"Selamat juga buat Om. Sekarang telah menjadi ayah. Aku bahagia, Om."
"Aku sangat mencintaimu, Calt."
"Aku lebih mencintaimu, Om Carl."
__ADS_1
*
*
Anita dan William duduk berseberangan dengan Wildan yang berjongkok bersandar pada pondasi Rumah Sakit.
Anita dapat melihat betapa sedih mantan calon suaminya itu. Begitu juga William, ia sangat tahu bagaimana sang kakak.
"Om," panggil Anita membuat William menoleh begitu juga Wildan.
Anita beranjak mendekati Wildan dan ikut berjongkok.
"Maafin Om, An. Malam itu Om sangat marah kepada Selly karena sudah membuat Calista pergi dan Om cemburu saat membaca pesan mu dengan William. Om gegabah memilih pergi ke club' dan melihat Selly sehingga terjadi hal tak diinginkan sampai wanita itu hamil," terang Wildan memberanikan menatap Anita. Mata pria itu tampak berkaca-kaca.
Anita terkejut sampai menutup mulut dengan telapak tangan nya.
"Aku hanya melakukan itu sekali dan menikahinya secara siri dan akan berpisah setelah anak itu lahir. Maafkan aku, An."
"Aku memaafkannya, Om. Aku tahu kamu orang baik," kata Anita seraya mengusap air matanya yang menetes.
William mendekat dan ikut berjongkok dengan mereka. Ia sudah mendengar penjelasan Wildan tadi.
"Tolong jaga Anita, Will."
William mengangguk. "Aku akan menjaga istriku, kak."
Akhirnya mereka bertiga berpelukan dan berdamai dengan keadaan. Tidak ada amarah yang menyertai, hanya satu perjuangan lagi yaitu memperjuangkan maaf dari Calista yang sudah terlanjur kecewa.
__ADS_1