
"Mas. Aku minta duit," ucap Dewi pagi hari ketika Fadil hendak berangkat ke Kebun.
"Nanti aku transfer. Aku harap setelah ini gak ada lagi meminta uang tambahan. Semua kebutuhan kamu melahirkan biar aku yang urus," ucap Fadil dingin.
Rasanya ia masih kecewa atas apa yang dilakukan Dewi hingga kini. Wanita yang dinikahinya hampir lima bulan lalu ternyata diluar ekspektasi nya.
Dan hal itu semakin membuat Fadil menyesali perbuatan gegabahnya.
Dewi tak menjawab, membiarkan Fadil pergi. Ia masuk kembali ke dalam rumah. Di buka ponsel lalu berselancar pada dunia maya.
Hingga kini Dewi masih merasa dirinyalah yang berhak atas apa yang dimiliki Fadil. Tak perduli seberapa uang bulanan yang diberi Fadil karena sudah memahami bila sifat sang suami yang lemah lembut dan tidak tegaan.
Di elus perutnya yang sudah mulai tampak buncit. Dewi merasa beruntung karena hamil membuat Fadil tak jadi mengusirnya.
"Kamu harus tetap baik-baik saja agar kita hidup enak," kata Dewi mengelus perutnya.
Baginya, hal wajar bila meminta perhatian lebih dari sang suami. Apalagi sedari awal Fadil tidak memberitahukan bahwa Nadia masih menjadi seorang istri Fadil Wicaksono.
Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, ketika Dewi bertanya apakah Nadia mantan istri Fadil atau bukan, seseorang bertamu saat itu di rumah Fadil.
Jadi, Fadil tidak membenarkan bahwa Nadia adalah mantan istrinya.
Andai Fadil tahu, saat Dewi menawarkan Nadia tinggal bersama mereka itu adalah rencana nya untuk menunjukkan pada Nadia bahwa Fadil adalah miliknya.
Tetapi, Fadil menolak dan seperti ini jadinya.
...----------------...
Berawal dari saat Dewi masih bekerja sebagai sekretaris Carlos. Ia begitu terpesona dengan Carlos yang tampan, kaya raya, setia, dan menerima apa adanya.
Sering sekali Dewi mencoba menggoda Carlos tetapi pria itu tak juga tergoda. Hingga pada akhirnya tersebar kabar bila Bos nya itu memiliki istri kedua.
Rasa ingin tahu pun menggelitik hati nya. Dewi terus mencari tahu siapa wanita yang beruntung menjadi istri muda seorang Carlos Martinez.
Sampai pada akhirnya Calista sering mengunjungi Kantor Carlos. Ada rasa curiga, tetapi ia selalu menampik rasa curiga tersebut.
Karena aneh rasanya bila Calista menjadi istri muda Carlos yang lebih cocok menjadi seorang ayah bagi gadis itu.
Hingga akhirnya pernikahan dan istri rahasia Carlos diketahui orang-orang Kantor membuatnya terkejut. Ia tak menyangka bila kedua orang itu benar-benar pasangan suami istri.
Ia pun merasa kesal karena Calista sangat beruntung mendapatkan Carlos. Tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena Calista bukanlah seorang gadis lugu yang dapat di bodoh-bodohi.
Sampai ia melihat Fadil bersama Bimo dan mendengar sedikit percakapan dari keduanya. Dewi mendengar Bimo memaksa agar Fadil menerima warisan agar Nadia kembali lagi.
__ADS_1
Dari sanalah rencana mendekati Fadil bermula. Hampir setiap hari Dewi mengunjungi dan memberi perhatian pada Fadil agar pria itu tergoda oleh nya.
Dan ternyata rencana Dewi berhasil.
...----------------...
Dewi memilih tidur kembali setelah melihat notifikasi di ponsel dari SMS Banking. Ia tak lagi perduli Fadil hendak pulang ke rumah atau tidak. Yang terpenting, Fadil memberi uang padanya.
...----------------...
"Wilson, gimana harimu di Sekolah?" tanya Anita seperti biasanya ia mendekati anak majikan nya yang berusia tujuh tahun itu agar semakin dekat dengan nya.
"Biasa saja. Hanya tadi di Sekolah ada yang bertengkar," kata Wilson yang akhir-akhir ini mulai terbuka menceritakan apa saja padanya.
Anita terperangah kemudian mendekatkan duduknya pada Wilson. Keduanya tengah berada di ruang keluarga, duduk bersila di lantai saling berhadapan.
"Kenapa bertengkar? apa kamu juga ikut bertengkar?" tanya Anita.
Wilson mengedikkan bahu. "Gak tahu dan aku malas bertanya," sahut Wilson membuat Anita mendengus kesal.
Anita lupa bila Wilson sangat sulit untuk terbuka pada orang lain bila belum merasa nyaman.
"Baiklah, sekarang kita makan siang, yuk."
Wilson mengangguk kemudian keduanya bangkit dan langkahkan kaki menuju ruang makan.
"Hai, Son."
Wilson berlari langsung memeluk William sedang Anita berubah menjadi jutek.
"Kamu sudah makan siang?" tanya William sesekali curi pandang pada Anita.
"Kami baru saja akan makan, Papa sudah makan siang?" tanya Wilson.
Senyum di wajah tampan William terbet ketika mendengar ucapan Wilson. "Wah kebetulan. Papa juga belum makan. Mari makan bersama?" tanya William antusias dan di angguki oleh Wilson.
*
*
Ketiganya telah berada di ruang makan. William duduk di kepala meja, Anita, dan Wilson berada di sisi kanan William.
Dengan telaten Anita melayani Wilson makan. Bahkan ia menyuapi bocah itu.
__ADS_1
"Kak. Aku bisa sendiri," tolak Wilson.
Anita mengangguk dan tersenyum. "Baiklah."
Hati William merasa haru melihat interaksi antara Anita dan Wilson. Ia semakin merasa aneh dengan dirinya, mengapa harus Anita yang membuat hatinya bergetar kembali dari sekian lama semenjak istrinya meninggal.
"Sore nanti ada acara pementasan seni di sekolah Wilson. Orang tua di harapkan hadir, Om."
William tertegun langsung menatap sang anak yang juga tengah menatapnya dengan tatapan penuh harapan terhadapnya.
"Papa ada rapat penting hari ini," ucap William lirih membuat warna wajah Wilson dan Anita berubah sedih.
"Jangan sedih, biar Om yang akan mewakilkan papa di sekolah Wilson." ucap Wildan baru saja masuk ke ruang makan mendengar pembicaraan mereka.
Anita dan Wilson yang awalnya sedih kembali senang. Wilson mengangguk.
"Tapi sama kak Anita juga, ya." pinta Wildan membuat William memicing ke arah sang kakak dan menemukan gelagat aneh.
Jika saja benar dugaan nyabmaka tidak bisa dibiarkan. Ia harus bertindak tetapi harus menghadiri rapat penting terlebih dahulu.
*
*
Usai makan siang, William kembali ke Kantor dengan perasaan dongkol. Apalagi melihat perlakuan Anita yang sangat berbeda ketika pada saat bersamanya dan ketika bersama Wildan.
Di dalam ruang kerja, William menggeraslm frustasi karena merasakan hati yang gelisah.
Ingin marah tapi pada siapa?
Ingin mengatakan jika ia tak suka melihat Anita dekat dengan Wilda tetapi siapa dirinya di kehidupan Anita?
Ia hanya seorang majikan, tidak lebih.
Di lirik arloji di pergelangan tangan, masih ada waktu empat jam lagi sebelum acara Wilson mulai.
"Kemarilah," kata William dibalik gagang telepon pada seseorang.
Beberapa saat berlalu, seorang wanita masuk ke dalam ruang kerja William. Seorang wanita seksi berprofesi sebagai sekretarisnya.
Tere.
"Apa kamu membutuhkanku?" tanya Tere menggoda mendekati William.
__ADS_1
William yang butuh pelampiasan amarah langsung menarik tengkuk Tere, menyesap dan melu mat dengan rakus melampiaskan apa yang dirasa nya karena seorang Anita. Gadis belia yang mampu memporak-porandakan hati William sang Casanova.
Sial. Kenapa tubuh Anita yang ku bayangkan.