
Sinar Mentari menyilaukan mata yang mengintip dari celah gorden kamar. Calista mengerjap mata menormalkan penglihatan.
Di lihat jam di dinding seraya menggeliat merentang tangan kemudian duduk setelah nyawa terkumpul.
Calista mengambil ponsel di atas nakas melihat apakah ada pesan dari Carlos ternyata tidak ada.
"Itu enggak penting, Calista."
Ia pun turun dari ranjang lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini adalah jadwal pulang ke rumah orang tua angkatnya.
Setelah bersiap, Calista berangkat menggunakan taksi karena jika dengan mobil pribadi maka Papi Edzard bisa saja curiga.
"Papi pikir sudah lupa jalan pulang," sindir Papi Edzard membuat Calista terkekeh setelah sampai di rumah orang tua angkatnya.
Calista langsung memeluk Papi Edzard. "Aku selalu ingat, tapi aku juga harus hidup mandiri."
"Hidup mandiri gak harus pisah rumah," cebik Papi Edzard.
"Ayolah, Pi. Kita sudah bahas ini. Adik kembar ku juga tinggal terpisah lebih dahulu."
"Kalian sama saja," umpat Papi Edzard.
Calista dan Mami Ivy hanya tertawa kemudian mereka sarapan bersama. Usai itu, menonton bersama. Hingga sebelum waktu makan siang Calista mendapat kabar jika Nadia hendak ke Kantor Carlos mengharuskan nya pamit pergi.
"Minggu depan, Calista akan kesini lagi."
"Baiklah. Kamu hati-hati. Uang jajan sudah Papi kirim," ucap Papi Edzard merasa keberatan.
Calista mengangguk lalu memeluk Papi Edzard dan Mami Ivy, kemudian pergi menuju Restoran dimana Carlos dan Nadia hendak makan siang.
Beberapa saat kemudian, Calista telah tiba di Restoran tersebut. Helaan nafas terdengar lagi lirih.
Ia duduk tak jauh dari pintu masuk Restoran. Calista menyeruput lemon tea yang di pesan nya sebelum duduk.
Dahinya berkerut setiba Carlos dan Nadia duduk satu meja bersama seorang wanita yang sudah lebih dahulu tiba di Restoran.
Ia terus memerhatikan gelagat mereka walau tak dapat mendrngar dengan jelas apa yang dibicarakan.
Matanya melotot melihat Carlos dengan santai berjabat tangan dengan wanita di hadapan Nadia.
"Suami mu itu bukan tipe suami posesif kayak Papi, Calista. Jadi jangan marah," gumam Calista tetap melihat gerak-gerik Carlos.
Setiba tatapan Calista dan Carlos bertemu. Ia pun langsung menunjuk kedua matanya dengan jemari telunjuk dan jari tengah lalu ke arah mata Carlos.
Seringai terukir di wajah cantik Calista. Bangkit lalu menghampiri mereka.
"Hai Om Carl, hai Tan!" sapa Calista langsung duduk di hadapan Carlos tanpa diberi izin.
__ADS_1
Aku juga berhak di dekat Om Carlos, bukan?
Nadia tersenyum lalu menjawab sapaan Calista. Wanita itu bangkit begitu juga Calista dan melakukan cium pipi kanan dan kiri sebagai sapaan.
"Om Carlos gak mau cium pipi aku juga kayak Tante Nadia," goda Calista membuat Nadia dan wanita bernama Dita terkekeh melihat tingkah centil Calista.
"Kamu sama siapa, Calt?" tanya Nadia setelah duduk dan Calista juga duduk.
"Aku sendiri. Sebenarnya aku ingin bertemu seseorang tapi seseorang itu sudah bersama orang lain," Calista melirik Carlos yang juga meliriknya.
Carlos sendiri salah tingkah terus ditatap Calista. Jantung nya berdegup kencang ketika dua istrinya saling mengobrol.
Matanya terbelalak ketika kakinya merasakan elusan kaki seseorang. Dilirik Calista dan benar saja, istri kecilnya adalah sang pelaku.
"Tante Dita ini siapa nya Tante?" tanya Calista membuat tubuh Carlos menegang.
GG
Nadia tersenyum. "Dita yang akan jadi rahim pengganti anak kami, Calt. Kamu sebentar lagi akan punya adik," ucap Nadia girang sementara Calista langsung menatap Carlos dengan tajam.
Hening.
Kemudian Calista pamit pergi dengan perasaan marah. Bagaimana tidak? Carlos tidak berkomentar sedikitpun.
Calista masuk ke dalam mobil pribadi yang diberikan Carlos. Dadanya naik turun karena emosi nya masih berkobar.
Om Carl :
Aku tunggu lima menit dari sekarang di mobil. Kalau gak kesini dalam lima menit, jangan salahkan aku akan gugurkan anak ini.
...****...
Sebenarnya Carlos ingin marah pada Nadia. Tetapi ditahan karena tak ingin bertengkar di tempat umum sehingga hanya banyak diam.
Perasaan nya semakin tak tenang ketika Calista menghampiri bahkan tahu rencana Nadia yang mencari rahim pengganti untuknya.
"Gimana, Carl. Kamu mau kan?" tanya Nadia setelah kepergian Calista.
Carlos menatap Nadia dengan intens. Hingga kini masih merasa bingung. Mengapa Nadia menginginkan rahim pengganti? sedang selama ini Nadia selalu merasa takut jika ada wanita yang bersedia menjadi rahim pengganti untuk mereka.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Nad?" tanya Carlos.
Nadia mengangguk. "Ini demi keutuhan rumah tangga kita. Aku ingin kamu bahagia, Carl!"
"Kamu yakin gak akan menangis histeris seperti biasa saat ada yang bersedia untuk menjadi rahim pengganti?"
Tatapan mereka bertemu tanpa menghiraukan Dita diantara mereka.
__ADS_1
Nadia mengangguk.
"Aku sudah menemukan dan bukan hanya rahim pengganti," terang Carlos.
Saat Carlos hendak meneruskan ucapan dan Nadia masih dalam keterkejutan, ponsel Carlos bergetar.
Calista🌹 :
Aku tunggu lima menit dari sekarang di mobil. Kalau gak kesini dalam lima menit, jangan salahkan aku akan gugurkan anak ini.
Mata Carlos terbelalak membaca pesan Calista membuatnya berdiri dengan kasar hingga kursi yang ia duduki mundur dan menimbulkan suara hingga menjadi bahan perhatian pengunjung Restoran.
Tangannya terkepal lalu menatap Nadia dengan nyalang. "Jangan pernah kamu cari wanita manapun untuk menjadi rahim pengganti. Karena aku gak butuh itu. Pulanglah, kita bicarakan nanti setelah di rumah."
Carlos meninggalkan Restoran tanpa menghiraukan teriakan Nadia memanggil namanya.
Matanya celingukan mencari mobil Calista
Setelah menemukan, ia lari menuju mobil Calista lalu masuk di kursi penumpang.
Calista yang melihat Carlos masuk duduk disebelahnya langsung melayangkan pukulan di dada bidang suaminya itu.
Tanpa berkata-kata, dengan derai air mata Calista terus memukul dada Carlos. Sedang sang empu dada terus diam tanpa melawan.
Hati Carlos nelangsa melihat Calista menangis sesegukan.
Puas memukul dada Carlos, Calista menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia kembali menangisi takdir yang membawanya hingga kini.
Menjadi istri kedua yang disembunyikan.
Hamil dari pria beristri.
Ini bukanlah keinginan seorang Calista.
Diseka air mata dengan kasar. "Pak Agus. Antar aku ke Rumah Sakit," ucap Calista membuat Carlos tersentak.
"Mau apa kamu, Calista?" sentak Carlos membuat Calista menoleh dan menatapnya dengan tajam.
"Apa kamu kurang jelas dengan isi pesanku, Carlos Martinez?" tanya Calista dingin.
Raham Carlos mengeras. Matanya melotot dan memerah. Gigi gemelatuk dan tangannya tergepal. "Apa kamu akan melenyapkan anak kita yang gak berdosa?" Carlos menatap perut Calista.
"Kenapa? kenapa hanya anak ini yang menjadi pertimbangan mu? lalu bagaimana aku? apa kamu lupa kalau aku bukan rahim pengganti?" cerca Calista dengan suara yang meninggi.
"Siapa yang menjadikanmu rahim pengganti, Calista?" tanya Carlos tak kalah tinggi.
Calista diam menatap Carlos dengan tatapan tajam. "Pilih aku dan anak kita atau istri mu itu!"
__ADS_1