Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
31. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Calista mengerjap mata berulang kali. Sesuatu yang dilihat pertama kali adalah langit-langit ruang rawat inap. Teringat terakhir kali berada di balkon dan tergeletak disana dan sekarang tahu betul dimana sekarang berada.


"Haus," ucap Calista lirih.


Papi Edzard bangkit dengan sigap mengambil segelas air minum lalu duduk di tepi brankar, membantu Calista duduk barulah menyerahkan segelas air minum beserta sedotan.


Melihat Papi Edzard berada di ruangan, membuatnya melirik ke arah Mami Ivy yang duduk di sofa dengan wajah sembab.


Calista kini mengerti, Papi Edzard telah mengetahui semuanya.


Calista memandang wajah Papi Edzard yang datar dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. "Pi," ucap nya.


"Istirahatlah, setelah keluar dari Rumah Sakit baru kita bicara."


Calista menghela nafas dan pasrah. Apalagi saat Papi Edzard keluar dari ruang rawat inap nya. Ia tahu betul jika Papi Edzard sekarang ini pasti marah, kecewa, dan sedih secara bersamaan.


Hari-hari dilewati Calista di rumah sakit hingga kembali ke rumah utama hanya makan, tidur, dan menonton televisi saja. Mami Ivy tidak memberinya akses untuk berhubungan dengan Carlos lagi.


Hubungan nya dengan Papi Edzard juga masih dingin.


Perut Calista sudah mulai buncit. Pagi ini, Calista sudah bangun pagi-pagi sekali. Di lihat Papi Edzard hendak lari pagi.


"Pi," panggil Calista lirih membuat Papi Edzard menoleh.


Calista mendekati Papi Edzard dengan mata berkaca-kaca. Ia begitu sedih diabaikan oleh Papi angkatnya. Bagaimana pun, sedari bayi sudah hidup bersama.


"Jangan abaikan Calista lagi. Maaf gak pernah cerita sama Papi."


Papi Edzard menghela nafas panjang, lalu mengajak Calista untuk duduk. "Dengar. Papi enggak marah. Papi hanya ingin melepas rasa bersalah dan marah pada pria itu. Dari kamu kecil, dia sudah membuat Papi takut dan ternyata ketakutan Papi menjadi nyata, lebih parah nya kamu jadi yang kedua!"


Calista memeluk Papi Edzard. "Calista yang meminta Om Carlos untuk bertanggung jawab, Pi."


"Tanpa harus kamu minta memang seharusnya dia bertanggung jawab. Dia sudah tua gak tahu malu, kenapa harus kamu?"


Calista mengurai pelukan dan mengusap lengan Papi Edzard agar tak emosi lagi. "Papi, ingat darah tingginya."


Papi Edzard mencebik. "Papi masih kuat dan sehat, bahkan masih sangat bisa menghajar si tua bangka itu," geram Papi Edzard.


"Jangan," cicit Calista.


"Kenapa?"


"Nanti hilang gantengnya," sahut Calista semakin membuat Papi Edzard geram.

__ADS_1


"Sudah tua begitu dibilang ganteng," sungut Papi Edzard.


"Papi juga sudah tua masih ada yang genit. Kayak sekretaris Papi yang baru,-" belum juga Calista menyelesaikan ucapan, Papi Edzard sudah membekap mulutnya agar tak melanjutkan bicara.


"Jangan kasih tahu, Mami. Bahaya!" bisik Papi Edzard celingukan melihat berbagai sisi ruangan.


Calista mengangguk barulah mulutnya tak di bekap lagi. "Awas saja Papi kalau duain Mami."


Papi Edzard bergidik mendengar ancaman Calista. Bagaimana bisa mendua? melirik wanita lain saja, istrinya itu sudah menghukum nya di dalam kamar.


"Papi mau lari pagi. Papi masih menunggu suami kamu datang kesini menunjukkan keseriusannya," ucap Papi Edzard bangkit dan keluar rumah.


Sedang Calista hanya bisa duduk dengan lesu. Hatinya pun ragu apakah Carlos akan datang menjemputnya atau tidak.


...****...


Sejak Calista dibawa pergi, Carlos berubah menjadi lebih dingin, tidak banyak bicara, menyibukkan diri dalam pekerjaan.


Perlakuan lembut pada Nadia juga sudah tak ada lagi. Kini, keduanya tak banyak bicara apalagi setelah melihat Nadia sedang berdua dengan pria lain.


Bisa saja mencari tahu apa yang dikerjakan Nadia di luar rumah. Tapi, pikiran nya hanya fokus pada Calista dan pekerjaan yang terbengkalai akhir-akhir ini.


Efek dari kepergian Calista sangat terlihat jelas. Beruntung Bimo dapat menghandle semua pekerjaan. Jika tidak, maka hancur sudah hidup Carlos.


Memikirkan apa yang dialami, semakin membuat Carlos merindukan Calista.


"Aku kayak nyanyian lagu itu. Aku tanpamu butiran debu, Calt!"


Sedetik kemudian, Carlos bangkit dan keluar dari ruang kerja nya untuk menemui Bimo.


"Katakan apa yang kamu ketahui, Bim!" sentak Carlos mengagetkan Bimo.


Bimo berdehem lalu menyatukan sepuluh jemarinya menatap Carlos. Ia tahu yang dimaksud adalah tentang hal diluar pekerjaan.


"Apa yang ingin anda ketahui, Tuan."


"Jangan seolah kamu gak pernah tahu, Bim."


Bimo menghela nafas. "Masalah Nadia, kamu harus cari tahu sendiri. Kalau Calista, aku juga sudah berusaha agar Nadia tetap gak curiga siapa istri mudamu, Carl. Pergilah menjemput istrimu. Sudah waktunya keluarga istrimu tahu."


Carlos menatap Bimo dengan intens.


"Kalau kamu gak ingin, seenggaknya pikirkan anak kalian. Bukankah kehadiran anak sudah lama kamu nantikan, Carlos Martinez?"

__ADS_1


Carlos mengangguk lalu duduk di sofa. "Pesankan aku nasi ayam geprek, bakso mercon, dan seblak sekarang!"


Mata Bimo terbelalak. "Kenapa banyak sekali, Tuan?"


"Aku butuh asupan untuk berperang melawan mertua ku," sahut Carlos sinis membuat Bimo tertawa.


Bimo segera memesan makanan yang di minta Carlos. "Seorang casanova sudah berubah karena gadis kecil berusia dua tahun dan wanita yang menjadi istri pertama menjadi pelampiasan. Dan sekarang, menjadi pria yang mudah dikibuli," ejek Carlos namun tak di protes apapun.


Begitu makanan telah tiba, Carlos segera memakan dan menghabiskan nya. Selesai makan disertai bibir yang masih terasa panas akibat pedas dari tiga menu makanan tersebut, Carlos pergi menuju rumah utama keluarga Abraham dengan Bimo sebagai sopir.


"Bim.. Bim, berhenti dulu!" ucap Carlos mengejutkan Bimo hingga harus mengerem mendadak. Beruntung kendaraan senggang saat itu.


Bimo menghentikan mobil di depan minimarket. "Ada apa, Tuan?"


Carlos menghela nafas. Entah mengapa rasa gugup mendera. Padahal, setiap kali bertemu dengan Edzard pasti akan saling sindir tak pernah merasa gugup.


"Lanjutkan perjalanan kita, Bim!"


"Baik," sahut Bimo tahu jika Carlos merasa gugup sedari tadi.


Setelah mobil itu sudah berada di depan pagar rumah keluarga Abraham, Carlos meminta Bimo untuk berhenti kembali.


"Sial, aku gugup!" umpat Carlos membuat Bimo terkekeh.


"Diamlah, Bim. Kamu belum pernah merasakan berhadapan dengan mertua," desis Carlos.


Bimo hanya mengedikkan bahu karena ia menikahi wanita yang dibesarkan di Panti Asuhan jadi tak pernah merasakan bagaimana rasanya menghadapi mertua.


"Mau masuk enggak, Tuan?"


"Apa Ed ada di rumah?" bukan menjawab melainkan pertanyaan kembali.


"Mana saya tahu tuan. Kan dari tadi saya ada sama Tuan."


"Kalau sama Ed paling bonyok doang, tapi kalau sama Ivy? aku bisa mati kutu," gumam Carlos mengenali kedua mertua nya itu.


Lama Carlos terdiam memikirkan apa saja yang hendak terjadi di rumah itu bila dirinya masuk tanpa rencana.


"Bim."


"Ya, Tuan?"


"Kenapa mertuaku harus Ed dan Ivy?"

__ADS_1


__ADS_2