
Mario tidak menanggapi. "Apa yang mau dibicarakan lagi?"
Fadil memperbaiki cara duduknya, menyesap kopi kemudian berdehem sebelum berbicara. "Mario. Ayah sadar dan sangat menyesali perbuatan ayah terhadap Ibu. Ayah yang mudah terbuai oleh godaan wanita lain membuat ayah berkhianat. Ayah sudah tua, nak. Gak mungkin papa memilih diantara kamu dan istri ayah. Ayah ingin merangkul kalian berdua. Hidup dengan damai."
Fadil menjeda ucapan nya ingin melihat reaksi Mario yang ternyata hanya diam memasang wajah datar.
"Ayah harap, setelah kamu menikah nanti enggak seperti ayah."
"Aku gak ingin menikah," sela Mario membuat Fadil terkejut.
Apakah ketakutan Fadil menjadi nyata?
Benarkah anaknya menjadi trauma?
"Ayah harap, suatu saat nanti kamu menemukan cinta sejati mu tanpa harus merasakan sakit seperti yang ayah rasakan."
Untuk beberapa waktu, Fadil dan Mario saling pandang. Kemudian Mario hanya mengangguk walau dalam hati menampik hal itu.
"Aku harus pergi. Hiduplah dengan damai bersama keluarga baru ayah," pamit Mario kemudian melangkah pergi meninggalkan Fadil, sebelumnya sudah membayar pesanan mereka.
Fadil menatap nanar kepergian Mario dengan hati nelangsa dan berharap kedepan nya semua berbaikan.
*
*
William melotot melihat penampilan Anita yang tampak berbeda. Tetapi ia tidak suka bila harus keluar rumah.
"Om mendadak gak ingin pergi," kata William masih memerhatikan kaki jenjang Anita yang terekspos karena saat ini gadis itu memakai dres yang telah ia belikan.
Anita melongo mendengar apa yang baru saja diucapkan William. Padahal sebelumnya pria itulah yang memaksa agar berangkat bersama menjenguk Carlos.
Anita menunduk mengikuti arah pandang William. Ia pun memerhatikan kaki nya. "Ada apa dengan kaki ku, Om?" tanya Anita masih tak menemukan sesuatu yang salah pada kakinya.
"Kakimu, bagus." Gumam William.
"Apa, om?" tanya Anita kurang jelas.
William mencebik bibir. "Pakai baju yang lain saja. Pilih celana saja," titah William langsung membuat Anita menghela nafas panjang.
__ADS_1
Anita masuk dengan perasaan kesal kemudian memilih kaos putih dan celana panjang bahan denim berwarna biru.
Sepanjang mengganti pakaian, Anita terus saja menggerutu. Sebenarnya pun ia tak nyaman bila harus memakai dress.
Anita keluar kamar menemui William lagi. "Sudah ayo," katanya.
William melihat Anita dengan penampilan sederhana yang nampak mengagumkan.
Wilson tidak ikut karena sedang ada tour di sekolah. Keduanya memasuki mobil bersamaan dan tetap diam selama perjalanan.
William sendiri merasa bingung harus memulai bicara apa yang akan menciptakan obrolan panjang.
Sedang Anita sampai sekarang terus berpura-pura merasa biasa saja semenjak William menyatakan cinta walau dalam keadaan mabuk.
Hubungan nya dengan Wildan juga belum membaik. Pria tua itu seakan merajuk pada Anita dan tak ingin berbicara ketika bertemu.
"Kuliahmu apa masih di tanggung keluarga, Ed?" tanya William menoleh ke arah Anita sekilas lalu kembali melihat ke depan.
Anita melirik kemudian mengangguk. "Sebenarnya aku sudah menolak. Tapi Mami Ivy selalu memaksa," sahut Anita.
Ivy selalu memaksa ketika Anita menolak karena ia merasa gaji sebagai pengasuh Wilson sangat besar dan dapat membayar uang kuliahnya sendiri. Tetapi, ibu angkat sahabatnya itu selalu mengatakan sesuatu yang membuat Anita tak bisa lagi menolak.
"Simpan gaji kamu baik-baik. Karena masa depan enggak ada yang tahu. Seenggaknya kita punya tabungan untuk menyukupi kebutuhan kita kelak."
*
"Apa Om sudah anggap aku anak, sama kayak Papi Ed dan mami Ivy?" tanya Anita membuat William mengerem mendadak.
Beruntung jalanan sudah sepi sehingga tidak berbahaya bagi pengendara lain.
"Om."
William tak menghiraukan ucapan Anita. Ia tersenyum miris mendengar pertanyaan gadis itu.
"Apa kamu anggap Om sebagai orang tua mu?" tanya William dengan tatapan mengintimidasi Anita.
Anita sendiri mendadak gugup di tatap seperti itu oleh William. Ingatan pada malam dimana William mabuk berat dan mengungkapkan cinta kembali terngiang.
William melepas seat belt kemudian mengubah posisi duduk mengarah pada Anita.
__ADS_1
"Katakan, Anita. Mungkin selama ini kita gak pernah dekat seperti kamu dengan kakak ku. Tapi kamu pasti juga merasa kalau perlakuan ku padamu bukan seperti ayah dan anak atau majikan dan pengasuh anakku," kata William semakin membuat Anita bungkam.
Anita meremas tali seat belt. Tentu saja ia tahu sikap William padanya bukan seperti ayah dan anak melainkan pria dan wanita.
Dan William menutupi rasa suka nya dengan sikap yang menyebalkan bagi Anita.
"Om, Aku.."
"Jangan menolakku, Anita."
"Cobalah untuk mengenalku. Cobalah untuk pandang dari sisi baikku walau kebaikanku sudah tertutupi oleh kebejatanku," imbuh William lagi mencoba menggenggam tangan Anita yang terasa dingin setelah tak meremas tali seat belt.
Anita tak dapat berbicara apapun lagi. Rasanya tak dapat di jelaskan oleh kata-kata. Bagaimana bisa dua pria bersaudara menyatakan cinta padanya.
Apa takdirku sama dengan Calista yang berjodoh dengan pria tua?
*
*
"Sayang, tidurlah kalau kamu mengantuk. Jangan dipaksa, aku sudah baikan!" kata Carlos merasa kasihan dengan istrinya yang sedang hamil dengan perut membesar harus mengurusinya yang sedang sakit.
Calista menyerahkan beberapa butir obat dan segelas air minum pada Carlos. "Aku gak apa-apa, Om. Jangan Om pikir ini gratis," ucap Calista tersenyum penuh maksud.
Carlos melongo mendengar ucapan Calista. "Jadi ini gak gratis? kamu minta bayaran sama aku? aku uang dari mana kalau semua asetku sudah berpindah atas namamu, sayang?" cecar Carlos merasa tak percaya kemudian menelan semua butiran obat yang diserahkan Calista lalu meminum air itu sampai tandas.
Calista tertawa nyaring kemudian mengecup pipi Carlos. "Cepatlah sehat, Om. Aku ingin main capid boneka di Mall."
Carlos menahan pinggang Calista agar tetap berdiri di dekatnya yang sedang duduk di atas brankar. "Om lebih ingin makan kamu," katanya menggoda Calista.
"Dasar mesum," umpat Calista tersipu malu.
Carlos terkekeh. "Sayang, sepertinya enggak ada lagi tamu yang datang. Kita bisa ciuman sekarang," kata Carlos lagi karena sudah dua hari Carlos dan Calista ciuman bibir, hal itu karena banyaknya orang menjenguknya secara bergantian. Ketika malam tiba, Calista sudah kelelahan dan Carlos tak ingin membuat istrinya lebih kelelahan.
Dengan satu tangan bebas dari infus, Carlos menahan tengkuk Calista dan memulai mencium dan mengeksplor keseluruhan bibir dan rongga mulut istrinya.
Sesaat suasana begitu mendukung untuk menikmati apa yang di rindukan. Tetapi, dipertengahan kenikmatan itu, suara pintu terketuk nyaring.
Keduanya tersentak dan langsung melepas pagutan. Carlos mengusap bibir Calista menggunakan ibu jari begitu juga dengan bibirnya.
__ADS_1
"Mengganggu saja," umpat Carlos.
Calista terkekeh kemudian melangkahkan kaki melihat siapa yang menjenguk suaminya menjelang malam.