Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
44. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

Di seka air mata Nadia. "Sampaikan pada istrimu. Aku gak perduli istrimu mau sebaik apa, secantik apa, sesuci apa dia dariku. Tapi kalau dia sudah berani merebut milik wanita lain, menghancurkan kebahagiaan wanita lain itu berarti dia jauh dibawahku. Dia gak lebih dari seorang ja lang."


Deg


Ucapan Nadia begitu menusuk hati Calista. Benar kata Nadia, ia adalah seorang ja lang.


"Bukankah gak jauh berbeda dengan mu, Tan? apa yang pantas dikatakan untuk seorang istri, meninggalkan suami dan anak kandung nya hanya demi menikah dengan pria kaya raya? apa cinta mu begitu rendah hingga mampu dibeli dengan uang?" cerca Calista menjadi geram.


Nadia mengerutkan dahi mendengar ucapan Calista. "Kenapa kamu sepertinya marah aku berkata seperti itu untuk istri kedua, Om kamu? Apa kamu tahu siapa wanita ja lang itu?"


Calista semakin emosi. Ia menoleh kearah Carlos yang menatap tajam ke arah Nadia.


"Katakan siapa wanita ja lang itu, Carlos Martinez. Kau masih diam saja saat istri tua mu berulang kali bilang kalau aku ini ja Lang? padahal aku adalah korban dari kebejatan mu."


Semua orang terkejut atas ucapan Calista yang tak sengaja mengungkapkan siapa dirinya.


Nadia tersenyum miring. "Oh, ternyata kamu wanita ja lang itu? anak yang gak tahu asal usulnya dan numpang hidup mewah dengan keluarga kaya raya?"


"NADIA," sentak Carlos meradang. Di dekati Nadia lalu menampar pipi wanita itu.


"Jangan sekali-kali kamu menghina istriku."


Nadia langsung menoleh sembari memegang pipinya melihat Carlos tak percaya telah menamparnya. Kemudian atensinya beralih menatap Calista berang.


"Kau puas anak sialan? Kamu puas sudah membuat suamiku kasar padaku, hah? dasar wanita murah an.. Wanita ja lang," pekik Nadia hendak mendekati Calista namun dihadang oleh Carlos.


Calista sempat terkejut melihat perbuatan Carlos yang menampar pipi Nadia dan bagaimana Nadia hendak menyerangnya.


Tetapi ia harus terlihat tak takut dengan semua ucapan Nadia karena sedikit banyaknya membenarkan ucapan kakak madunya tersebut.


Sengaja Calista memainkan kuku seakan tak terpengaruh apapun atas ucapan Nadia.


"Sebenarnya kita gak jauh berbeda, Tan. Ayolah, bukankah kita sama-sama ja lang? bedanya, aku terpaksa harus menjadi ja lang dan Tante secara sadar menjadi ja lang. Padahal suamiku terpaksa menikahi mu hanya untuk menungguku sebesar ini."


"Kau?"


"Ssuusstt.. Akan aku tunjukkan gimana aku merebut suamiku dari mu."

__ADS_1


Calista mendekat dan menarik Carlos, tanpa mengatakan apapun langsung mengalungkan tangan ke leher Carlos agar menundukkan dan memudahkan nya melahap bibir suaminya itu.


Carlos pun tak tinggal diam. Di naikkan tubuh Calista ke atas meja makan tanpa melepas pagutan.


Kedua insan itu seakan lupa bila hanya memamerkan kemesraan mereka. Keduanya telah hanyut dalam balutan gai rah.


Hingga lenguhan terdengar dari bibir keduanya. Bahkan tanpa malu Calista membuka segitiga pelindung goa nya dan membiarkan Carlos menurunkan celana pendek sampai kenlutut dan memasukkan Junior ke dalam goanya.


Keduanya tidak membuka pakaian yang dikenakan karena tahu, ada Nadia di ruangan itu.


"Aku mencintaimu, Calista."


Calista menatap Nadia dengan seringai dibibirnya. Inilah yang di tunggunya, Carlos selalu mengucapkan kalimat-kalimat indah saat mereka bercinta.


"Apa Om menikmatinya?"


Carlos menatap Calista dengan tatapan sayu. "Sangat. Kamu sangat nikmat, sayang!" ia menenggelamkan kepala di antara dua buah dada Calista yang semakin besar semenjak hamil.


Nadia melihat perlakuan kedua orang yang sedang bergumul panas itu langsung meninggalkan rumah Carlos yang sudah ditinggali nya selama empat belas tahun.


...----------------...


Senyum bahagia telah terpancar dari wajah Fadil dan Dewi. Pasangan yang sudah tak muda lagi itu sudah resmi menjadi pasangan suami istri secara agama dan hukum negara.


Mario dan Malvyn juga berada disana dengan Malya duduk diantara keduanya. Tadi, Papi Edzard dan Mami Ivy juga hadir dan sudah kembali beberapa saat lalu.


Dua pemuda remaja itu bagai bodyguard yang menjaga tuan putri.


Malam harinya, Calista dan Carlos tampak hadir bersama Bimo dan disambut hangat oleh mereka tetapi Fadil masih merasa tak enak hati.


"Maafkan saya, Fadil."


"Enggak, Tuan. Saya lah yang salah. Saya belum bisa melepas Nadia padahal dia hanya ingin hidup bersama, Tuan."


Calista berdecak kesal. "Om. Kenapa terus omongin Tante Nadia, sih?"


Carlos menoleh melihat Calista cemberut hendak pergi dari sisinya. Langsung saja, tangan istri kecilnya itu dicekal. "Kami hanya menyelesaikan masalalu. Dan kamu lihat, kami berdua gak ada yang memilihnya. Kami mengakui kesalahan yang telah kami perbuat. Dan akhirnya kami melepas Nadia."

__ADS_1


Calista yang masih muda, berpikiran labil tentu saja sering begini. Beruntung Carlos mengerti.


"Baiklah. Aku mau kesana dulu," Calista menunjuk ke arah sekelompok anak-anak yang tengah bermain kejar kejaran.


Carlos ikut melihat arah yang ditunjuk Calista. "Enggak. Kamu gak boleh ikut main. Kamu hamil," larang Carlos.


"Ya sudah, aku mau sama Malvyn dan Malya saja."


Calista berjalan dengan menghentakkan kaki. Kelakuan Calista tak luput dari pandangan Carlos, Fadil, Dewi, dan Bimo.


"Tuan. Anda seperti sedang mengasuh anak," ejek Bimo yang selalu berani dengan Carlos.


"Kak Bimo," tegur Fadil sedang Dewi hanya menahan senyum.


Carlos tak tersinggung. Matanya terus tertuju pada Calista yang tengah cemberut karena Malvyn selalu tampak dingin dan irit bicara.


"Kamu tahu yang sebenarnya, Bim. Dari pertama kali aku melihat Calista bukan seperti ayah dan anak. Melainkan pria terhadap wanita," sahut Carlos.


"Ya. Sampai harus ke Psikiater karena pandangan anda rabun waktu itu," gumam Bimo lagi.


Carlos mengangguk. "Andai aku tahu di masa sekarang kami dipersatukan, maka ingin sekali dulu aku tetap gila dan pandangan ku rabun hanya pada Calista."


Senyum Carlos mengembang ketika Calista berjalan kearahnya. "Ada apa, sayang?" tanya Carlos mengusap kepala Calista saat istrinya itu merangkul lengan nya.


"Aku kebelet pipis," bisik Calista pada Carlos.


Carlos yang mendengar itupun langsung meminta izin pada Fadil untuk menggunakan kamar mandi yang terletak di dapur.


"Om Carl. Aku pengen deh, nanti saat kita menua hidup di rumah sederhana begini. Jauh dari kota, lingkungan lebih asri dan para tetangga yang rukun. Kata Anita, guyub namanya."


"Permintaan kamu adalah perintah untukku. Besok ketika waktu luang, kita akan menggambar rumah dan apa saja yang ada di dalam dan pekarangan nya."


Calista mengangguk senang kemudian membuka pintu kamar mandi.


"Hati-hati, licin."


...****...

__ADS_1


Di saat Carlos dan Calista tengah berada di kamar mandi, di ruang tamu itu sudah ricuh karena kehadiran Nadia. Dewi yang belum tahu jika Nadia adalah istri Fadil juga menjadi syok.


"Apa-apaan kamu Fadil? kenapa kamu menikah tanpa izinku, hah?"


__ADS_2