Aku Bukan Rahim Pengganti

Aku Bukan Rahim Pengganti
49. Aku Bukan Rahim Pengganti


__ADS_3

"Calt. Kamu beneran gak kasih tahu Om Carl?" tanya Anita sesaat baru keluar dari kelas.


Keduanya jalan beriringan. Calista mengangguk. "Aku gak mau jadi masalah kalau sempat Om Carl tahu dan aku juga gak mau tambah beban beliau karena masih menjalani sidang perceraian," sahut Calista.


Anita mengangguk setuju. Keduanya sudah keluar dari area Kampus berjalan menuju minimarket karena ingin membeli cemilan.


"Calista," panggil seseorang yang tak lain adalah William.


Calista dan Anita menoleh. Calista tersenyum. "Om Will disini juga?" tanya Calista heran karena tahu bila Perusahaan William jauh dari tempat mereka sekarang.


"Ah. Iya, mau beli sesuatu."


Calista mengangguk kemudian ketiganya masuk ke dalam minimarket. Anita sedari tadi melirik ke arah William yang tengah memilih cemilan bersama mereka.


"Mata dijaga," bisik Calista pada Anita yang tahu sedari tadi terus curi pandang kearah William.


"Calt. Kenapa kamu gak kasih tahu kalau punya Om setampan beliau?" bisik Anita hendak menjerit histeris saking terpesona oleh William.


Calista berdecak. "Jangan heboh, Anita. Aku malu," bisik Calista lagi.


Sebenarnya William mendengar bisikan-bisikan dari Calista dan Anita. Rasanya sangat lucu bila memiliki sugar baby.


Ah. Ingat akan hal itu menjadi teringat Carlos dan Calista. Karena dirinya lah mereka bersatu, kini.


Kenyataannya, William sedari tadi sedang menunggu Calista karena sebuah misi dari seseorang yang sangat di sayang nya.


"Kamu tunggu di mobil saja, Calt. Biar aku yang bayar dan bawa belanjaan kita," ujar Anita setelah selesai belanja cemilan dan susu hamil, juga minuman susu lain nya.


"Belanjaan kita juga gak berat, Nit."


"Kamu hamil, Calista."


Calista berdecak lalu keluar minimarket langsung masuk ke dalam mobil.


William terkekeh dibelakang kedua wanita muda tersebut tanpa suara melihat tingkah Calista.


Di tengah antrian, Anita menerima telepon yang membuatnya menghela nafas panjang.


"Hallo."


"...."


"Iya Bu. Pasti saya bayar. Saya janji bulan depan lunas, Bu."


William menaikkan satu alis mendengar pembicaraan Anita. Walau tidak jelas si penelepon bicara apa, tapi bisa dipastikan si penelepon sedang marah-marah.


"Kamu butuh bantuan?" tawar William mengagetkan Anita yang masih menatap ponselnya.


"Maksud, Om?" tanya Anita.


William memberikan kartu namanya pada Anita. "Hubungi saya jika kamu butuh bantuan. Mungkin kamu butuh pekerjaan," ucap William membayar belanjaan nya dan belanjaan Calista juga Anita.


Tanpa mengatakan apapun, William pergi meninggalkan Anita yang masih mematung memegang dadanya yang berdegup kencang.

__ADS_1


Anita menatap kartu nama yang di berikan padanya. Matanya melotot ketika melihat nama William Cedric adalah Presiden Direktur di Perusahaan bidang makanan.


"Bisa kali kerja jadi Office Girl disana," gumam Anita lalu keluar dari minimarket menenteng dua kantung plastik masuk ke dalam mobil Calista.


...----------------...


"Lama ya, Nit?" tanya Calista sewot dan hanya dijawab dengan cengengesan dari Anita.


Calista cemberut. "Kamu mau langsung pulang?" tanya Calista lagi.


Anita mengangguk. "Aku harus kerja."


Calista hanya pasrah. Ia begitu tahu jika sahabatnya itu tak ingin merepotkan keluarga Abraham lagi. Anita hanya menerima bantuan untuk biaya kuliah saja dan keluarganya juga tak memaksa Anita lagi untuk menerima bantuan.


Hari ini adalah sidang kedua perceraian Carlos dan Nadia. Awalnya Nadia mengaku hamil anak Carlos agar perceraian di tunda. Beruntung Fadil mau menolong Carlos dengan mengakui bahwa anak yang di kandung Nadia adalah anaknya bukan anak Carlos.


Calista mengantar Anita pulang ke kos-an. Pastinya Pak Agus selalu setia mengantar kemanapun Calista inginkan.


Om Carl: Kamu sedang apa?


Calista menatap ponsel yang berkedip ketika pesan dari Carlos masuk. Senyuman itu terukir indah di wajah cantiknya.


Calista : Di dalam mobil mau pulang. Om dimana?


Om Carl : Aku baru sampai di Kantor. Aku butuh amunisi, sayang. 🥺🥺


Calista terkekeh membaca pesan terakhir Carlos. Tanpa membalas pesan itu lagi, ia meminta Pak Agus untuk memutar arah menuju Kantor Carlos.


...----------------...


Beberapa waktu lalu, ia baru saja kembali ke Kantor. Sebelumnya berada di Pengadilan Agama untuk menjalani sidang perceraian yang kedua.


Berita perceraiannya bersama Nadia mulai terendus awak media. Dan heboh nya adalah dirinya yang selingkuh dan menyalahkan istri muda nya atas perceraian ini.


Walau tak semua nya benar, tapi tetap saja Carlos merasa bersalah pada Calista. Hatinya sakit melihat istri kecilnya disalahkan orang lain. Padahal, dirinyalah yang membawa Calista masuk dalam kehidupan nya.


...----------------...


Calista baru saja sampai di lantai teratas dimana ruang kerja Carlos berada. Tetapi bukan langsung masuk ke ruangan tersebut, justru masuk ke dalam kubikel Dewi.


"Hai, Tan."


Dewi mendongak langsung berdiri menunduk hormat pada Calista dan itu berhasil membuatnya kesal.


"Apaan sih, Tan. Gak cukup cuma panggil aku Nyonya yang buat aku canggung?" kesal Calista.


Dewi tersenyum. "Jangan banyak gerak, Calt. Kamu hamil."


Bibir Calista manyun. "Iya. Tante mau ini? aku beli banyak," Ia menawarkan beberapa cemilan pada Dewi.


"Tapi masih jam kerja, Calt."


"Ck. Hari ini peraturan untuk di langgar. Aku juga tadi bagi-bagi ke yang lain di bawah," tutur Calista membuat Dewi melotot kaget.

__ADS_1


"Enggak takut di marahin Tuan Carlos dan Tuan Bimo?" tanya Dewi merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Calista. Karena yang diketahui dua pria petinggi Perusahaan itu begitu disiplin mengenai pekerjaan.


"Jangan sampai tahu, Tan. Sudah ya, aku tinggalin dua bungkus keripik singkong dan kentang," Calista berlalu masuk ke ruang kerja Carlos.


Baik Calista maupun Carlos tampak terperanjat. Tatapan keduanya bertemu, Calista nyengir kuda karena masuk tanpa mengetuk pintu.


Ya, saat ini Carlos tengah berbincang pada dua orang bawahan nya. Ia memberi isyarat untuk masuk dan masuk ke dalam kamar pribadinya.


"Aku ingin secepatnya selesai sebelum lima bulan ke depan," ucap Carlos pada dua orang duduk di hadapan nya.


"Baik, Tuan."


Setelah selesai dengan pertemuan tersebut, Carlos menemui Calista di kamar sedang rebahan.


Dihampiri, duduk di tepi ranjang sisi Calista. "Gimana hari kalian hari ini?" tanya Carlos seraya mengelus kepala Calista lalu mengecup kening dan bibir istri kecilnya.


"Sedikit lelah Om," sahut Calista sedikit menutupi apa yang tengah dialami.


Carlos kemudian beralih ke perut Calista yang sudah mulai menonjol. Di singkap kaos Calista hingga menampakkan perut mulus.


Di kecup berulangkali seraya mengelusi perut Calista. "Apa kamu merepotkan, Mami? Oh iya, kasih tahu ke Mami. Mulai sekarang biasakan panggil Papi dengan sebutan Papi ataupun sayang ke Papi, ya. Papi gak mau kamu ikutan panggil Papi dengan sebutan Om."


Calista membelai rambut Carlos seraya tertawa. "Baiklah, Papi."


...----------------...


Di tempat lain. Lebih tepatnya di salah satu Rumah Sakit Singapura. William baru saja sampai disana.


"Kak, aku sudah menemukan nya. Cepatlah sembuh. Dia sangat mirip dengan almarhum Anabella," ucap William pada pria yang tengah duduk di kursi roda.


Pria yang duduk di kursi roda meneteskan air mata mendengar wanita yang di cinta nya telah meninggal dunia.


Ingatan nya kembali pada kejadian sembilan belas tahun lalu. Andai dirinya tak kecelakaan, koma, hingga lumpuh pasti tak akan terjadi seperti ini.


"Dia sangat cantik, kak. Semangat lah untuk sembuh. Kamu pasti sangat ingin bertemu dengan nya bukan?" William terus memberi percikan semangat.


"Apa kamu punya fotonya?" tanya Wildan, pria yang duduk di kursi roda.


William mengangguk lalu menunjukkan foto Calista yang ada di ponselnya. Senyuman terbit di wajah Wildan.


"Siapa namanya?" tanya Wildan antusias.


"Calista. Calista Abraham."


William menunggu reaksi kakaknya. Dan benar dugaan bila Wildan masih marah.


"Kita salah paham, kak. Edzard yang telah menyelamatkan Calista dari siksaan Anabella."


"Siksaan?" tanya Wildan terkejut.


William mengangguk lalu menarik kursi yang ada di ruangan itu lalu duduk berhadapan dengan Wildan.


"Sejak lahir, Calista gak pernah diperlakukan dengan baik oleh Anabella. Itu makanya Edzard berusaha semampunya untuk melindungi Calista dari siksaan."

__ADS_1


Wildan menatap William. "Gak mungkin Bella begitu. Dia wanita baik," Wildan menolak percaya.


"Tapi itu kenyataannya, kak. Cepatlah sembuh, kakak harus menemui Calista."


__ADS_2