
Sama seperti hari libur sebelumnya. Wildan akan menghabiskan waktu liburnya di rumah Carlos agar bisa semakin dekat dengan anak semata wayang nya.
Wildan dan Calista baru saja selesai memasak kue, keduanya sedang beristirahat di gazebo taman belakang rumah.
"Sayang. Kenapa kamu gak suka papa menikah dengan Anita? bukankah kamu tahu dia gadis baik?" tanya Wildan pelan-pelan agar sang anak tidak merasa di sudutkan dengan penolakan yang diberikan.
Calista menatap ke arah kolam ikan yang berada tak jauh dimana mereka duduk. "Ya dia gadis baik," jawab Calista.
"Tapi gak banget kalau jadi ibu ku, Pa. Mungkin dia bisa jadi istri yang baik, tapi apa dia bisa jadi ibu ku, pa?"
Wildan menghela nafas kemudian memeluk Calista dengan erat. "Kalau begitu papa enggak akan menikah dengan Anita."
Calista menggeleng dalam pelukan Wildan. "Papa harus menikah. Jangan pikirkan apapun. Calista punya mami Ivy, apalagi sekarang sudah ada Om Carlos."
"Sayang, kenapa masih memanggil suamimu dengan sebutan Om?"
Calista mengurai pelukan seraya terkekeh. "Sudah kebiasaan dan Om Carlos juga gak marah, pa."
Wildan menggeleng. "Jadi, papa boleh menikah?"
"Boleh, kok."
__ADS_1
Wildan tersenyum dan mendekap tubuh Calista lagi. "Makasih," katanya.
Carlos yang berdiri tak jauh dari ayah dan anak itu tersenyum. Akhirnya tanpa harus terjadi kerenggangan hubungan ayah dan anak itu sudah bisa diatasi.
Satu hal yang sangat dikagumi Carlos pada Calista. Istrinya itu bisa mengambil sikap apapun masalahnya.
Bahkan sering sekali Calista lebih dewasa dari Carlos jika sedang berdua. "Sayang," panggil Carlos menyusul mereka dan duduk diantara ayah dan anak itu.
"Sudah cukup peluk-peluk pria lain, sayang."
Wildan dan Calista menggeleng mendengar pernyataan Carlos.
"Dasar pencemburu," umpat Wildan.
"Oh Tuhan. Kamu bicara begitu seakan aku ini akan merebut anakku sendiri darimu," gerutu Wildan masih tak habis pikir dengan pemikiran Carlos.
Calista terkekeh mendengar perdebatan mereka. "Pa. Gimana kalau pernikahan papa bareng acara syukuran kehamilan aku saja," celetuk Calista membuat dua pria matang itu menghentikan perdebatan dan langsung menatap nya tanpa kedip.
Calista tersenyum seraya mengangguk cepat. "Lebih cepat lebih baik. Aku takut papa sudah anu-anu sebelum menikah," ucap Calista tanpa di filter membuat Wildan memalingkan muka.
"Sayang. Tapi acara pernikahan butuh persiapan. Apalagi satu Minggu sebelum acara kita, bakal hadiri acara amal bukan?"
__ADS_1
Calista berdecak. "Mulai sekarang telepon WO nya dong. Harus selesai sebelum acara. Masih ada lima Minggu lagi, Om."
*
*
Fadil menatap nanar sang istri yang sedang berada di dalam ruang khusus dengan selang infus dan selang oksigen di hidung Dewi.
Pagi tadi, Dewi mengalami kecelakaan dan anak dalam kandungan tidak bisa di selamatkan. Parahnya lagi, Dewi mengalami kerobekan rahim yang cukup parah.
Dokter mengatakan, Dewi akan kesulitan hamil tetapi masih boleh hamil. Hanya saja harus selalu rutin konsultasi pada dokter.
Fadil merasa sedih atas peristiwa yang terjadi pada Dewi. Saat kejadian, ia sedang berada di kota guna menjual hasil panen pohon cokelat nya.
"Bagaimana aku mengatakan pada Dewi atas kehilangan anak kami?" tanya Fadil pada diri sendiri.
Ia baru saja dari rumah untuk mengurus pemakaman anak mereka yang masih berusia lima bulan itu.
*Apa ini karma untukku?
❤️
__ADS_1
Slow update ya, emak lagi gak enak badan🙏🙏*